Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Tabir takdir (1)


__ADS_3

"TIDAK!!"


Aiden bahkan tidak perlu berpikir lebih jauh mengenai perubahan penampilan ini begitu dipicu oleh perkataan dari selingkuhan adiknya, pria itu langsung menarik kembali 'Camila' ke arahnya dan memeluknya seolah ingin menghapus wangi tubuh Gabriel darinya. Pelukan ini tampak angkuh, andai saja pihak yang sedang dipeluk tidak bisa melihat betapa gemetarnya kakak yang satu ini.


Angkuh tapi juga sangat rapuh.


"Seperti apapun warna rambut, warna mata, warna kulit atau sosokmu. Kau tetap Camila kami" bisiknya dengan suara yang tak kalah gemetar.


"Aku tidak tau apa yang terjadi, aku juga sudah tidak peduli. Kau masih adik kecilku" lanjutnya sambil menyamankan pelukannya pada si gadis.


"Benar, kita tidak tau apa yang terjadi dan sampai kapan ini akan terjadi. Jadi selama masih ada satu orang terdekat kalian yang masih manusia, kalian harus bersyukur dan jangan berdebat seperti tadi" Fiona tiba-tiba menimpali mereka, tampaknya wanita ini sudah mengantongi revolvernya kembali begitu semua orang sudah terkumpul. Menatap orang satu persatu seoerti sedang menatap sekumpulan semut bodoh, arogan seperti biasa bahkan dalam situasi seperti ini. Wanita yang menyebalkan.


Meski tidak ada satupun dari mereka yang menaiki tangga sesuai permintaannya sebelumnya.


"Kalian semua, dengarkan aku dan naik" ulangnya, tapi kali ini tanpa embel-embel ancaman akan melubangi kepala mereka seperti sebelumnya, menyiratkan betapa daruratnya situasi mereka tanpa harus membuang tenaga untuk panik.


Gabriel menatap tangan 'Camila' yang kini sudah diambil alih oleh Aiden, dengan pria bermata ungu itu yang memberikan tatapan sengit yang bahkan lebih parah dibandingkan sebelumnya. Tampaknya persaingan mereka untuk memenangkan Camila akan menjadi lebih sengit lagi setelah ini, itupun kalau anomali ini bisa teratasi. Dia hanya berharap semoga persaingan mereka tidak menjadi sesuatu yang tragis dan berdarah, seperti kisah awal Frost dan Arianna.


"Apa yang kau lihat? Ayo naik" Lance yang masih berpegangan pada lengan Gabriel menarik pihak lain agar mereka bisa lebih cepat menyusul Fiona ke atas. Gabriel mengangguk dan sesekali akan mengirimkan tatapan penuh arti pada Aiden.


Mata ungu pucat miliknya beradu dengan mata ungu pihak lain, yang berwarna jauh lebih gelap. Ada kilat permusuhan yang semakin kuat antara keduanya.


'Camila' menatap kakak yang masih tidak berniat untuk melepaskannya, dia ingin terus mengkonfrontasi pria ini. Tapi melihat wajahnya yang sudah berantakan oleh air mata, 'Camila' urung mengatakan apa-apa. Aiden juga merasakan percikan emosional adik kecilnya, dan sekali lagi buka suara.


Dia memukul main-main bagian belakang kepala 'Camila' seperti biasa dan berkata "Apapun yang kau khawatirkan, berhenti memikirkannya."


Pria itu menaiki anak tangga satu persatu dan melanjutkan dengan nada serta raut wajah yang suram "Chester, ayah dan juga ibu sudah tidak ada. Karena itu ...."


"Aku mengerti" Camila akhirnya balas menggenggam tangan Aiden, tidak lagi menambah beban kesedihan orang ini dengan terus mengorek luka dengan memintanya melanjutkan. Karena dia sendiri tidak berani memeriksa sekitar karena takut terluka.


Keduanya adalah yang paling terakhir sampai di lantai dua, tempat Fiona membuat keributan sebelumnya. Mendapati dua orang lain yang sedang terbaring di lantai dengan tampilan penuh darah. Begitu 'Camila' mengetahui siapa dua orang itu, dia sontak merasa setiap tetes darah didalam tubuhnya mendingin.


Frost Harrison dan Arianna Mackenzie, anak dunia ini.

__ADS_1


Matanya segera beralih menatap Fiona, yang kemungkinan besar menjadi pihak yang paling memahami apa yang terjadi di tempat ini. Mengingat wanita itu adalah satu-satunya yang ada didekat dua tokoh utama pada saat-saat terakhir, sebelum kesadaran dunia menekan tombol jeda. Fiona yang menerima tatapan yang menuntut jawaban dari seseorang yang tidak pernah ia lihat penampilannya sebelumnya, tidak keberatan menceritakan apa yang ia tau.


Dia menunjuk Arianna yang masih tak sadarkan diri dengan ekspresi kesal "Anak jelek yang bau ini ..."


Tangannya yang cantik lantas beralih menunjuk pecahan botol anggur merah yang berserakan di lantai "Dia menabrak adik brengsekku, memecahkan botol anggur dan mengancamnya dengan pecahan benda itu seperti seseorang yang mangalami gejala mania."


Fiona menarik kembali tangannya dan menatap wajah pucat Frost dan melanjutkan "Frost memang memiliki reaksi aneh saat itu, tapi dia segera tersadar seolah sudah menerima pencerahan. Barulah dia balas mengancam anak ini dengan pisau lipat. Kalau aku jadi dia, akan kulempar gadis bau ini ke bawah sesaat setelah dia mengancamku."


Gabriel menyingkirkan pecahan botol menggunakan ujung sepatunya dengan hati-hati, lalu duduk berjongkok di sebelah Arianna untuk memberishkan sisa darah di wajahnya "Reaksi aneh seperti apa?"


Fiona balas menatap satu-satunya pewaris dari keluarga Wundervei, menjawab "Keduanya berkeringat dingin dalam waktu bersamaan, sebelum jatuh tak sadarakan diri dengan hidung berdarah, dalam waktu yang juga bersamaan. Setelahnya aku mendengar suara yang sangat keras, dan semuanya tiba-tiba menjadi seperti ini."


"Suara keras? Apa itu terdengar seperti kaca yang pecah?" Lance yang diam akhirnya menanyakan sesuatu setelah akhirnya berhasil mencerna situasi.


Aiden mengerutkan keningnya setelah mendengar pertanyaan Lance dan balas bertanya "Kalian juga mendengarnya?"


Gabriel tampaknya juga mendengar suara itu jika dilihat dari ekspresi wajahnya, tapi yang dikatakan oleh pria berambut perak ini setelahnya sungguh tak terduga "Apakah suara pecahan kaca itu diikuti oleh perasaan seolah sesuatu sudah terputus didalam kepala kalian?"


"Apa?" beo Fiona, keningnya berkerut heran dengan pertanyaan tersebut.


Suasana diantara orang-orang ini lantas menjadi lebih halus, Fiona bahkan mengeluarkan revolvernya kembali.


Ditanya seperti ini secara tiba-tiba tentu saja mengejutkan Gabriel, tapi melihat ekspresi terdistorsi milik 'Camila' tentu saja dia merasa pertanyaan gadis itu amat sangat tidak pada tempatnya untuk saat ini "Tidak ... Apa maksud pertanyaanmu itu, Camila? Kenapa objeknya menjadi aku?"


'Camila' segera menyadari apa yang sudah ia katakan, dia dengan ceoat menoleh pada satu-satunya orang yang memegang senjata. Mendapati bahwa pihak lain sudah siaga di posisinya.


Fiona kali ini membidik kepala 'Camila' dan bertanya dengan nada penuh ancaman, tatapan matanya tampak seolah dia akan segera menguliti 'Camila' jika itu bisa membuatnya mendapatkan jawaban "Harusnya itulah pertanyaan kami. Camila, seberapa banyak yang kau tau?"


"Jawab, atau kulubangi kepala cantikmu" lanjut Fiona sembari menggoyangkan revolver miliknya sedikit.


'Camila' menatap semua orang yang juga sedang menatapnya dengan kewaspadaan penuh, membuatnya menjadi lebih panik. Dia *******-***** celana kantornya untuk memilah-milah informasi mana yang layak dia ucapkan, dan informasi mana yang tidak boleh dia katakan karena takut menyalahi kehendak Tuhan.


Transmigrasi ...

__ADS_1


Kehidupan pertama ....


Dia tidak boleh mengatakan itu, atau dia dan Arianna akan celaka. Dia tidak tau teoatnya apa yang akan terjadi pada mereka, tapi dua hal itu adalah rahasia semesta yang bahkan ia sendiri tidak tau jawabannya.


Namun yang menyambut sela kebingungannya adalah sebuah tembakan peluru, tepat di ujung jari kakinya yang sudah berubah menjadi memakai sepatu pantofel khas pekerja. 'Camila' melompat mundur dengan ketakutan. Lalu bertemu mata dingin Fiona dan revolver yang sekali lagi diarahkan tepat di kepalanya.


Ekspresi di wajah Fiona menjadi jauh lebih tidak sedap dipandang "Kubilang ... Jawab, atau kulubangi kepala cantikmu."


"Camila!" teriak Aiden, dengan segera menarik adiknya ke balik punggung untuk dia jaga.


Gadis itu menarik nafas panjang beberapa kali, sebelum mendorong pelan tubuh Aiden yang sekarang jauh lebih tinggi dibandingkan dirinya. Setetes keringat dingin muncul di salah satu sisi wajahnya, sebelum dia dengan berani menatap wajah orang-orang ini satu persatu.


Ada kalanya dia masih berpikir bahwa oarng-orang ini hanyalah tinta hidup yang diciptakan oleh seorang penulis sampah, yang tidak tau apa-apa selain mendukung pelakor melarat untuk merebut pasangan orang dengan dalih romansa.


Dia mengambil satu langkah maju, tapi dihentikan oleh Aiden. 'Camila' memberinya senyum menenangkan dan mengangguk, meyakinkan kakaknya yang satu ini bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya. Setelah melakukan ini untuk beberapa waktu, barulah Aiden mau melepasnya meski tampak tidak rela.


"Fiona ..." nama pertama yang ia panggil adalah nama satu-satunya wanita disini selain dirinya.


Yang dipanggil tidak menjawab, hanya menatapnya dengan dingin dan mata yang dipenuhi emosi kompleks.


Mengingatkannya akan dirinya sendiri, di kehidupan sebelumnya. Wajah yang tidak menunjukkan fluktuasi emosi apa-apa, hanya matanya yang berpendar penuh emosi yang sayangnya tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang pemikirannya sederhana.


Kalau dia tersenyum, maka ia merasa bahagia.


Kalau dia menangis, maka dia sedang sedih.


Kalau ia berteriak, maka ia sedang marah.


Bukankah mustahil mewakilkan setiap emosi kompleks yang dirasakan manusia, hanya dengan menggunakan kotak-kotak emosi sederhana?


'Camila' agaknya sudah menduga ini dan menundukkan kepala, sebelum memantapkan langkahnya untuk sekali lagi berjalan mendekati Fiona. Langkahnya kembali terhenti, kali ini yang menghentikannya adalah Gabriel.


Pria bermuka dua, second lead yang dengan bodoh jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Dia memberi pria ini senyum menenangkan, lalu kembali berjalan. Langkahnya baru terhenti saat moncong revolver berjarak tepat tiga inci dari keningnya.


Mata hitamnya menatap wajah Fiona, sebelum bertanya "Apakah kau pernah mendengar ungkapan seperti ... Kita hanyalah setitik debu di alam semesta?"


__ADS_2