
Bela sudah siap menuju Cafe ia memang punya usaha sendiri sejak ia kuliah, ia merintis cafe ini dari nol sampai sekarang sebesar ini. Sejak ayahnya menikah lagi ia sudah tidak ingin bergantung pada sang ayah, ia mulai belajar membangun usahanya.
Meskipun semua kebutuhan hidupnya sudah di penuhi oleh sang ayah tapi tidak membuatnya manja dan berleha-leha menikmati fasilitas yang sudah di berikan sang ayah. Ia belajar mandiri walaupun selalu di tentang oleh sang ayah.
Ia masuk kedalam Cafe milik nya, tampak semua karyawannya melihat kedatangannya karena wajah sedih bela tidak bisa di tutupi walaupun menggunaka make up sekalipun. Mereka bisa tahu jika bela sangat menyayangi kakaknya terutama ibunya.
" Mba Bela yang sabar ya, kami yakin mba Bela kuat dan bisa melewati semua ini, kami akan selalu ada jika mba Bela butuh kami sebagai tempat untuk berbagi suka dan duka " ucap mereka menghibur Bela
" Benar Mba Bela, jangan sungkan pada Kami, bagi kami Mba Bela sudah seperti keluarga kami sendiri "
" Terima kasih atas perhatian kalian padaku, kalian bisa kembali lagi bekerja keadaan saya baik-baik saja " ucap Bela tersenyum di paksakan
Mereka kembali bekerja seperti biasanya sesuai perintah sang majikan, sedangkan di ruangan Bela sudah ada Bram yang ternyata sudah menunggu dirinya dari tadi. Melihat Sosok laki-laki yang ia benci ada di hadapannya membuat amarahnya pun kembali memuncak tapi sekarang dengan marah tidak bisa menyelesaikan dendamnya. Ia dengan susuah payah mencoba menurunkan amarah dan egonya saat ini.
" Siang Bel, aku sudah menunggumu dari tadi " ucap Bram sudah sadar dari mabuknya
" Ada apa kamu kesin??i, aku kan kemarin sudah bilang padamu jika aku tidak mau bertemu dengan mu lagi " tanya Bela acuh
" Aku hanya mau minta maaf padamu, aku tahu aku salah tapi aku tidak tahu jika ini bisa terjadi, aku tidak tahu jika pernikahan ku bisa membuat Sintia pergi untuk selama-lamanya " ucap Bram dengan nada sedihnya, ia juga terlihat tulus meminta maaf pada Bela
__ADS_1
" Apa Bram tidak tahu kejadian sebenarnya, kalau ia tahu jika yang menyebabkan penyakit kak Sintia kambuh itu adalah perbuatan ibunya dan istrinya, aku harus bagaimana ini?? Tapi Ini saat yang tepat untuk aku membicarakan semua perbuatan ibu dan istrinya, biar bagaimanapun Aku harus bisa menghancurkan hidupnya Bram.. " batin bela
" Kenapa minta maaf padaku, minta maaflah pada kak Sintia, dia pasti yang paling terluka saat itu " ucap Bela
" Bela " lirih Bram
" Aku yakin kak Bram tidak tahu jika yang menyebabkan kak Sintia meninggal adalah perbuatan ibu dan istri tercinta kakak " ucap Bela mencoba seperti biasanya memanggil Bram dengan sebutan kakak agar rencananya berjalan lancar.
" Apa maksudnya Bel,.. Bela dengarkan aku,, sebenarnya aku tidak mencintai Desi sama sekali.. kamu harus percaya padaku.. dan mana mungkin ibu tega menyebabkan Sintia meninggal, ibu kan tahu jika wanita yang aku cintai hanya kakakmu Sintia " ucap Bram
" Aku sudah menduganya, ini awal yang baik untuk rencana ku, kak Sintia tenang saja aku pasti berhasil membuat mereka hancur " batin Bela
" Ini bukannya handphone milik Sintia " ucap Bram langsung mengambil handphone itu dan melihat apa yang ada didalamnya, ia benar-benar kaget dengan semua pesan yang ibunya sendiri kiriman dan Desi pun berani mengirimkan foto ketika dirinya bertelanjang pada Sintia.
" Astaga Ibu... dan Desi... " Ucap Bram dengan wajah marahnya
" Kak Bram bisa lihat kan, apa yang di lakukan ibu dan istri kakak, apa salah keluarga ku pada keluarga kakak.. kenapa harus kalian menyakiti kak Sintia sampai kak Sintia meninggalkan ku " ucap Bela menagis kembali
Bram dengan inisiatif memeluk Bela mencoba menenangkan hati bela yang kembali bersedih rasanya ia tidak tega melihat bela menagis begitu. Dia juga baru tahu jika semua ini ulah ibu dan Desi. Dia harus menemui ibunya untuk menanyakan kenapa mereka sampai tega melakukan ini pada Sintia.
__ADS_1
" Aku minta maaf atas perbuatan ibuku, aku akan membuat ibu dan Desi menemui mu dan meminta maaf padamu, aku juga akan berjanji mulai hari ini aku akan melindungi mu seperti yang selama ini di lakukan Sintia padamu "
" Apa bisa kata maaf bisa menghidupkan kembali kak Sintia " ucap Bela masih menangis
" Aku akan membuat mereka menyesali perbuatannya dan meminta maaf padamu.. kalau perlu kamu bisa melaporkan kejahatan mereka kepada polisi, biarkan pihak yang berwajib yang akan menghukum mereka " ucap Bram
" Enak saja kalau mereka hanya di hukum beberapa tahun sedangkan kak Sintia tidak akan kembali lagi.. ini tidak adil, aku menurunkan egoku agar Bram lebih mudah membalas dendam pada mereka, aku akan membuat mereka menderita " batin Bela
" Terima kasih kak Bram, maafkan aku kemarin sudah memaki kakak, aku hanya belum bisa menerima akan kepergian Kak Sintia, kak Bram tahu kan jika aku dan ka Sintia sangat dekat, tidak mudah bagiku kehilangan sosok ka Sintia untuk selama-lamanya " ucap Bela dengan wajah sedihnya
" Aku bisa mengerti hal itu Bel, aku juga tidak benci padamu.. jadi aku mohon jangan membenci ku, kamu bisa anggap aku sebagai Kakak mu sendiri, aku akan menjagamu dan melindungi mu seperti yang di lakukan Sintia selama ini padamu.. " ucap Bram senang karena hubungannya dengan Bela mulai membaik.
" Kak Bram memang selalu baik padaku sama seperti Kak Sintia.. aku akan menganggap kakak sebagai kakakku sendiri mulai saat ini " ucap Bela sambil tersenyum
" Bagus, hubungan ku dengan Bram mulai membaik, aku harus terus mendekati Bram.. kita lihat saja Desi.. aku akan merebut sesuatu yang tidak seharusnya menjadi milikmu " batin Bela
" Akhirnya Bela memaafkan ku, aku akan membuat perhitungan padamu Desi " batin Bram
Dengan hati marah Bram segera pamit pada Bela, kali ini Bram akan menanyakan akan perbuatan mereka pada Sintia, Bram benar-benar marah pada Desi dan ibunya karena mereka dengan tega bisa bersikap seperti itu pada Sintia padahal mereka tahu riwayat penyakit Sintia.
__ADS_1
Bersambung...