
Hari ini hari libur, Bela tampak malas untuk bangun, rasanya ia ingin bersantai dengan bermalas-malasan sendiri apalagi ketika ia menerima pesan dari suaminya, jika Bram hari ini akan menjaga Desi.
Awalnya ia kecewa pada suaminya itu, apalagi semalam Bram mengatakan jika Bram ingin mengajak dirinya jalan-jalan tapi mengingat dirinya juga bisa bersantai riya hari ini ia justru tampak bahagia.
Lily seperti biasanya ia sudah datang ke ruangan Bu Mina, ia melihat Bela yang masih tertidur disana. Biasanya ketika hari libur Bela tampak bersemangat untuk pergi ke Kafe tapi hari ini ia sedikit heran dengan perubahan sikap Bela.
" Bel.. kenapa masih tidur?? Hari ini kamu tidak pergi ke kafe, apa Kamu sakit Bel.. " tanya Lily
" Aku baik-baik saja, aku masih ngentuk, dan sedang ingin bermalas-malasan saja.. " ucap Bela masih menutup matanya
" Syukurlah jika kamu baik-baik saja.. " ucapnya segera menghampiri Bu Mina.
Lily segera mengambil air hangat dan lap handuk lalu ia duduk di samping Bu Mina. Ia tersenyum melihat Bu Mina, ia berharap jika Bu Mina segera bangun dari komanya dan keadaannya pulih seperti dahulu kala.
" Pagi Bu Mina.. aku Lily aku ingin membersihkan tangan dan kaki ibu.. hari ini Ibu tahu tidak putri ibu Bela dia masih tidur loh jam segini.. ibu cepat bangun dan marahi dia " ucap Lily sambil tersenyum
" Lily jangan mengadu macam-macam pada ibu, nanti ibu marah pada ku " teriakan Bela yang masih enggan membuka matanya
" Bagaimana dia bisa punya pacar Bu.. jika kelakuannya masih seperti anak kecil Bu.. ibu cepat sadar dan lihat sendiri bagaimana kelakuan anak ibu " ucap Lily masih tersenyum
" Ly, maafkan aku.. sebenarnya aku sudah menikah, maafkan aku tidak memberitahukan masalah ini padamu, aku takut kamu akan menceritakan hal itu pada Candra dan semua rencanaku akan gagal semua " batin Bela
Hal yag selalu Lily lakukan adalah berbicara dengan pasien merangsang perkembangan pasien karena meskipun pasien dalam keadaan koma tapi pendengaran mereka sangat tajam.
" Cepat sembuh ya Bu.. kasihan Bela " ucapnya ketika sudah beres membersihkan pasiennya.
Setelah itu ia mengecek semua alat yang di pasang di tubuh Bu Mina, bahkan ia juga menyuntikan beberapa obat kedalam infusan Bu Mina.
Dua jam kemudian pekerjaannya sudah selesai dan Bela masih tertidur pulas. Ia duduk di samping tubuh Bela. Ia mulai sadar jika di meja di samping sofa ada sebuah plastik, ia lalu membukanya dan itu adalah nasi kuning.
Wajah Lily heran siapa yang memberikan sarapan ini?? Apa mungkin Candra tapi ini baru pukul tujuh lewat lima belas menit, mana mungkin Candra datang kesini pagi-pagi sekali apalagi ini hari libur.
" Bel, apa ini sarapan punya mu ?? " Tanya Lily penasaran
" Bukan.. "
" Lalu ini punya siapa?? " tanya Lily heran
__ADS_1
" Jadi ini sarapan punya siapa?? siapa yang sudah datang keruangan ini " batin Lily
" Astaga aku lupa,, mungkin Bram tadi menyiapkan sarapan untuk ku.. " batin Bela
" Ya ampun Ly aku lupa.. itu sarapan punya ku.. Lily please biarkan aku tidur lebih lama ?? " Ucap Bela masih memejamkan matanya mengalihkan pembicaraan
" aku hanya ingn bertanya ini kotak sarapan dari siapa?? Apa tadi kamu membelinya?? "
" Oh itu.. kalau kamu mau makan saja.. aku sedang ingin tidur bukan makan " ucap Bela
" Aneh.. kenapa Bela tidak menjawab pertanyaan ku " batin Lily
" Kamu yakin ini untuk ku?? "
" Makanlah dan jangan banyak bicara, untuk kali lini jangan gangu aku dulu?? " Ucap Bela kembali tidur lagi.
" Yasudah aku makan saja.. kebetulan aku juga lapar.. jangan menyesal makanannya aku makan.. " ucap Lily mulai memakan makan itu.
Tiba-tiba Candra datang seperti biasanya ia membawakan makanan untuk Bela dan Lily untuk sarapan Bersama, bagi Candra hal yang seperti ini sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari jika tidak sarapan bersama Bela dan Lily terasa ada yang kurang.
" Pagi Candra.. " sapa Lily senang orang yang di tunggu-tunggu datang
" Kamu membawa bekal makanan?? Padahal aku bawakan makanan untuk mu.. " ucap Candra dengan wajah Kecewa
" Bukan, sepertinya punya Bela karena makanan ini sudah dari tadi di sini.. bahkan ketika aku masuk ke ruangan ini " ucap Lily
" Yasudah makan saja.. aku juga membawakan makan untu Bela, kita sarapan bersama seperti biasanya "
" Baiklah.. aku bagunkan dulu Bela " ucap Lily
" Bel.. ayo bangun kita sarapan sama-sama.. " ucap Lily
Tiba-tiba Bela Bagun dari tidurnya lalu segera menuju kamar mandi di sana ia muntah-muntah, perutnya terasa mual ketika ia mencium bau nasi uduk yang dibawa Candra.
Lily yang mendengar Bela muntah segera menyusul ke kamar mandi dengan wajah panik sama seperti Candra saat ini. Namun pintu kamar mandi itu malah di kunci oleh Bela.
" Bel.. buka pintunya " ucap Lily
__ADS_1
" Bela kamu kenapa?? " Tanya Candra
" Tidak apa-apa aku hanya masuk angin saja " ucapnya dari dalam
" Kamu yakin?? " Tanya Candra
" Ia.. "
Candra dan Lily segera duduk kembali di coba masih dengan pemikiran masing-masing, Lily merasa aneh dengan sikap Bela sedangkan Candra mempercayai perkataan Bela.
" Bela sebenarnya kenapa?? " Tanya Lily dalam hatinya
" Setelah makan aku akan membelikan Bela obat di apotik " batin Candra
Setelah memuntahkan isi perutnya ia keluar dari kamar mandi, duduk di sofa di samping Lily, sungguh rasanya tidak enak mencium aroma nasi uduk dalam hati Bela namun ia tidak mau membuat orang khawatir apalagi Candra khawatir, ia bersikap seperti baik-baik saja.
" Kita makan " ucap Candra memberikan satu bungkus nasi uduk
" Perutku tidak enak.. nanti aku makannya " ucap Bela
" Makan dulu setelah itu aku belikan obat untuk mu " ucap Candra
" Tidak usah biar aku saja yang beli obat sendiri.. kalian lanjutan makannya.. " ucap Bela segera pergi dari ruangan sang ibu
Bela merasakan badannya lemas hari ini, rasanya ia ingin tidur terus entah mengapa. Ia segera menuju apotik namun sebelum melewati apotik ia melewati kantin terlebih dahulu, entah mengapa perutnya berbunyi padahal baru saja ia merasa tidak enak perut dan muntah.
Ia melihat ayam di geprek dengan sambal yang pedas, ia merasa tertarik dengan makanan itu, beberapa hari ini ia selalu menginginkan makan yang pedas-pedas.
Ia memesan satu porsi ayam geprek dan di makan di kantin sendirian. Tentunya dengan tahu tempe dan lalapan yang membuat nafsu makannya bertambah. Meskipun dengan keringat yang bercucuran ketika memakan menu tersebut tidak mematahkan semangatnya justru ia makan dua porsi ayam geprek.
Setelah selesai menghabiskan dua porsi ayam geprek, ia segera membayar dan kembali ke ruangan sang ibu untuk mandi dan membersihkan tubuhnya karena banyak mengeluarkan keringat.
.
.
Bersambung...
__ADS_1