
Bu Jeni, Deon dan Bram segera masuk kedalam sedangkan di luar ada Bela dan Desi yang sedang menunggu mereka. Bram melihat Di dalam ruangan ada seorang Laki-laki yang sering ia lihat bersama dengan Bela. Bram mengira jika laki-laki itu adalah pacar Bela dan seorang perawat yang terlihat sedang mengecek infusan Bu Mina. Bram heran kenapa Bu Mina bisa sakit seperti itu, apa ini semua gara-gara kepergian Sintia. Ia baru ingat jika Bu Mina juga punya penyakit seperti Sintia, penyakit jantung bawaan.
" Kamu.. mana Bela?? " tanya Candra heran sosok laki-laki penyebab Kematian Sintia malah datang keruangan Bu Mina.
" Bela sedang di luar.. aku kesini ingin menjenguk Bu Mina " ucap Bram dengan raut wajah sedih
" Kamu tenang saja, kami sudah di beri ijin oleh Bela.. " ucap Deon membuat Candra lega.
" Kalau begitu silahkan " ucap Candra
Mereka bertiga segera menghampiri ranjang dimana Bu Mina berada, banyak sekali alat yang di pasang di tubuh Bu Mina, Bram dan Deon merasa kasian dengan kondisi Bu Mina saat ini.
" Untung Bram tidak menikah dengan Sintia, lihat ibunya saja penyakitan, hanya akan menyusahkan saja " batin Jeni
" Bu, ini Bram.. kedatangan Bram dan mamah kesini ingin meminta maaf pada ibu, tolong maafkan Bram dan keluarga Bram.. kami tahu kami salah.. ibu cepat sadar ya Bu, cepat sembuh kasihan Bela dia pasti sedih " ucap Bram sambil meneteskan air matanya
" Bu Mina, saya minta maaf.. saya tahu saya salah.. tolong maafkanlah saya Bu... " Ucap Bu Jeni sambil menangis
" Ternyata benar yang menyebabkan Sintia meninggal adalah laki-laki itu.. pantas saja bela merasa sangat benci padanya... Semoga bela memafkan mereka agar di bisa berdamai dengan luka di hatinya, ia juga berhak bahagia dari pada harus diliputi rasa dendam " batin Candra
" Ternyata ini penyebab keluarga Bela hancur, sungguh kasian Bela, tapi ibu-ibu ini terlihat tidak tulus meminta maaf, atau ini hanya perasaan ku saja " batin Lily
" Sus, bagaimana keadaan Bu Mina " tanya Deon
" Keadaannya belum ada perkembangan, beliau masih koma.. kemungkinan bisa bertahan saat ini hanya 15 % " ucap Lily dengan nada sedih
" Pantas saja Bela begitu membenci ku, ternyata aku benar-benar membuat hidupnya hancur.. maafkan aku Bu Mina, maafkan aku Bela dan maafkan aku Sintia " batin Bram
__ADS_1
Sementara mereka sedang berbincang-bincang di dalam ruangan Bu Mina, ada sosok wanita yang dari tadi gelisah menunggu Bram yang tak kunjung datang, Bela yang melihat hal itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat Desi kesal dan marah.
" Menggunakan trik licik untuk mendapatkan Bram, sungguh hina " ucap Bela dengan tatapan tajamnya
" Terserah mau bilang apa yang jelas Bram sudah menjadi suamiku, dia milikku sekarang, tidak akan ada orang yang memisahkan aku dan dia.. bahkan ibunya sangat setuju padaku di banding pada kakakmu itu " ucap Desi dengan senyuman kemenangan
" Kamu bisa mendapatkan pernikahan dan restu dari orang tua Bram, lalu apa kamu bisa mendapatkan hatinya Bram.. bahkan di hatinya tidak ada namamu meskipun kamu istri sahknya " sindir Bela
" Sial, wanita ini memang mulutnya berduri.. tapi aku tidak boleh kalah dari dia.. lihat saja akan ku balas kau " batin Desi
" Mungkin sekarang Bram tidak menyukai ku tapi aku yakin dengan berjalannya waktu Bram pasti akan mencintai ku " ucap Desi
" Apa kau yakin.. bahkan sekarang saja di tidak peduli padamu.. di hati pernikahan dia pergi dan sekarang dia tidak tinggal bersama mu kan?? " Ucap Bela
" Diam kamu.. " bentak Desi yang merasa kesal
" Wanita hina, wanita tidak tahu malu merebut kekasih orang lain.. kamu tidak pantas menjadi istrinya Bram... kamu tahu kakak ku lebih segala-galanya di banding kamu.. ga heran sih Bram tidak menyukai kamu.. " Ucap Bela
" Tutup mulutmu... Kamu wanita yang tidak tahu diri.. " ucap Desi
Plak,,
Kedua bodyguard itu langsung memegang kedua tangan Desi, namun Bela menyuruh mereka untuk melepaskan Desi dan mereka segera menuruti perintah Bela meskipun ia merasa tak enak hati.
" Lepaskan dia " ucap Bela
" Rasakan tamparanku.. kamu memang pantas mendapatkannya " ucap Desi merasa menang
__ADS_1
" Kau berani tampar aku... " Ucap Bela menampar balik Desi
" Astaga, aku malah terpancing emosi lagi... Aku tidak boleh begitu.. aku harus membuat Bram semakin membenci Desi " batin Bela
" Kamu... " Bentak Desi
" Kenapa, mau tampar silahkan!! aku tidak takut.. aku akan membuat Bram menjadi milikku, akan ku rebut yang seharusnya bukan menjadi milikmu.. Bram harus menceraikan mu.. " ucap Bela sambil tertawa
" Kamu.. " ucap Desi kesal laku menampar Bela tiga kali
Plak
Plak
Plak
Bela menahan rasa panas dan perih yang ada di pipinya, luka ini tak sebanding dengan rasa sakit hati yang saat di tinggalkan oleh sang kakak. Ia benar-benar senang karena tanpa di sadari Mereka keluar dari ruangan snag ibu ketika Desi menampar Bela tiga kali.
Desi sekarang mendorong tubuh Bela hingga terjatuh di lantai, ia benar-benar marak ketika Bela mengatakan jika dirinya akan membuat Bram menceraikan Dirinya. Baginya tidak ada yang boleh memiliki Bram selain dirinya.
" Kamu wanita tidak tahu diri, jangan coba-coba merebut Bram dari ku, karena Bram hanya milik ku.. jika hal itu terjadi aku pastikan hidupmu menderita seperti kakakmu.. kalian wanita yang aku benci saat ini... Kalian wanita hina " ucap Desi dengan wajah marahnya
" Siapa yang akan merebut kak Bram dari Kamu, kamu salah paham.. aku dan kak Bram tidak ada hubungan apa-apa, aku hanya menganggap dia sebagai pengganti kakak ku.. kenapa kamu malah menghina kakak ku begitu, kamu boleh hina aku tapi jangan kakak ku, biarkan dia tenang di alam sana " ucap Bela sambil menangis
" Tunggu, kenapa nada bicara wanita ini berbeda... Ada apa ini, ada yang tidak beres aku takut sesuatu akan terjadi " batin Desi bingung
" Desi cukup " ucap Bram membuat Desi melotot, ia benar-benar tidak tahu jika Bram ada di belakangnya.
__ADS_1
Bersambung....