Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Dugaan Bram


__ADS_3

Bram segera menghubungi Bela setelah kepergian sang ibu, dia benar-benar sedang marah dan sedih, hanya Bela yang bisa menenangkan dirinya saat ini.


" Halo sayang kamu di mana?? " Tanya Bram


" Aku di apartemen kak.. sedang membuatkan makan malam untuk kakak.. apa kakak masih di kantor?? apa pekerjaan kakak sudah selesai?? "


" Pekerjaan ku sudah selesai, Aku akan pulang sekarang juga, kamu tunggu aku di apartemen.. "


" Sebelum pulang bolehkah aku menitip makanan?? " Tanya bela


Tidak seperti biasanya Bela seperti itu biasanya ia akan membeli makanan sendiri tanpa harus merepotkan orang lain. Tapi Bram justru senang di repotkan oleh Bela apalagi untuk pertama kalinya Bela meminta bantuannya.


" Boleh sayang, kamu mau aku belikan makanan apa?? Martabak, bakso atau apa ?? " Tanya Bram sambil tersenyum membuka pintu mobilnya


" Aku ingin rujak?? " Ucap Bela membuat Bram bingung rujak sore-sore begini dimana dia bisa mendapatkannya kenapa Permintaan Bela aneh-aneh apakah dia sama seperti Desi.


" Baiklah.. aku akan membawakan mu rujak.. kamu tunggu di rumah jangan pergi kemana-mana " ucap Bram sambil tersenyum berharap jika keinginan itu bukan dari Bela melainkan dari calon anaknya yang ia tunggu-tunggu kehadirannya.


" Yang pedes ya kak.. "


" Ia sayang "


Bram menutup teleponnya ia dengan senang hati mencari pedagang rujak meksipun harus berkeliling mencari sepanjang perjalanan menuju pulang. Ia bahkan menelepon Deon untuk sama-sama mencari keberadaan tukang rujak itu.


Tak lama kemudian Deon langsung menelepon majikannya itu dan memberitahukan bahwa ia sudah menemukan tukang rujak, Bram langsung putar balik dan pergi Menuju alamat yang Deon berikan.


Kini Bram sudah sampai di tempat itu, ia segera turun dari mobilnya lalu menghampiri Deon yang berada di samping tukang rujak.


" Kerja bagus Deon.. aku sudah pusing dari tadi mencari tukang rujak " ucap Bram sambil tersenyum


" Sudah menjadi pekerjaan saya Tuan, oh ia tuan silahkan pesan " ucap Deon sambil tersenyum


Hubungan mereka kembali membaik setelah ia melihat wajah Bram selalu bahagia setiap hati, mungkin hati Deon belum bisa melupakan Bela sepenuhnya tapi dia mencoba untuk merelakan wanita yang ia cintai bersama dengan sahabatnya sendiri.

__ADS_1


" Pak.. rujaknya 1 bungkus yang pedas ya " ucap Bram sambil tersenyum


" Baik Tuan " ucapnya


" Apa Ngidam Desi benar-benar merepotkan mu Tuan " tanya Deon yang mengira jika rujak itu adalah pesanan Desi


" Tidak juga, karena rujak ini bukan pesanan Desi, tapi pesanan Bela " ucap Bram sambil tertawa


" Apa?? Jadi Bela meminta rujak?? Apa dia hamil sama seperti Desi?? " Tanya Deon


" Aku juga berharap begitu, kamu tahu Deon aku akan sangat bahagia jika Bela bisa mengandung anak ku.. " ucap Bram tanpa sadar membuat Deon sedih


" Tenang Deon.. kamu harus tenang.. buang semua perasaan ini.. kamu harus melupakan Bela secepatnya jika memang Bela sedang mengandung anak Bram perasaan ini harus aku kubur sedalam-dalamnya " batin Deon


" Aku tahu kamu sedih, tapi ini yang terbaik.. kamu harus bisa merelakan Bela.. dia milikku dan aku tidak akan aku melepaskannya sampai kapanpun " batin Bram


Tak lama kemudian pesanan datang, Bram segera membayar rujak itu hingga kembalinya pun tidak ia ambil dan sengaja memberikannya pada penjual rujak tersebut.


"Deon terima kasih sudah membantu ku.. aku pamit Bela sedang menungguku di apartemen " ucap Bram sambil tersenyum


Sementara Bram melajukan mobilnya kembali menuju apartemen dia bersama dengan Bela, rasanya ia sudah tidak sabar ingin menemui Bela.


Tiga puluh menit kemudian dia sudah sampai di apartemen, ia segera masuk kedalam apartemen, ia mencium wangi masakan menggugah seleranya. Ia segera menuju dapur di mana Bela sedang menyiapkan makan.


" Sayang " ucap Bram memeluk Bela dari belakang rasanya


" Kakak udah pulang.. mana pesanan ku " tanya bela sambil tersenyum


" Kamu ini bagaimana sih bukannya nyuruh aku makan malah menanyakan rujak pesanan mu?? " ucap Bram dengan wajah cemberutnya


" Ayo lah kak jangan cemberut seperti itu, aku hanya ingin menanyakan rujak ku saja.., aku sudah tidak sabar ingin memakannya.. kakak lebih baik mandi dulu terus kita makan sama-sama " ucap Bela


" Baiklah.. nih " ucap Bram memberikan satu bungkus rujak yang di inginkan Bela setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang bau keringat.

__ADS_1


Bela terlihat sangat bahagia, ia segera memindahkan rujak tersebut pada piring, rasanya benar-benar enak pedas asam manis. Akh Bela sampai menghabiskan rujak itu tanpa sisa. Bahkan untuk Bram pun tidak ia sisakan. Rasanya benar-benar enak apalagi mangga mudanya membuatnya ngiler.


Tak lama kemudian Bram datang sudah memakai pakaian santainya, ia duduk di samping Bela yang sudah selesai memakan rujaknya, ia benar-benar heran karena rujak itu di habiskan Bela semua.


" Kak.. rasanya enak " ucap Bela


" Sayang kamu habiskan rujak itu semuanya?? " Tanya Bram


" Ia kak.. maaf ya soalnya enak sekali " ucap Bela merasa senang


" Tidak apa-apa, sekarang kita makan dulu setelah itu aku akan mengantarmu ke rumah sakit " ucap Bram


Bela memberikan nasi beserta lauk pauk yang sudah ia masak kedalam piring Bram, setelah itu baru ia mengambil nasi dan lauk pauk untuknya.


Bram di buat heran karena nafsu makan Bela akhir-akhir meningkat namun ia tidak mempersalahkannya hal itu karena ia takut jika Bela mengetahui perubahan di dalam dirinya membuat dia stres apalagi Bram tahu jika Bela meminum pil penunda kehamilan.


" Semoga dugaan ku benar.. Bela setelah kamu hamil apapun yang kamu inginkan pasti akan ku turuti " batin Bram


" Em.. kenapa aku merasa semua makanan yang aku masak enak-enak semua, rasanya ingin aku habiskan semua makanan ini " batin Bela


Mereka segera menghabiskan makanannya, setelah itu Bela pamit pergi ke rumah sakit, awalnya Bram ingin mengantarkan Bela ke rumah sakit, namun Bela bersikeras tidak mau di antarkan, ia ingin naik taksi pergi kerumah sakit. Ia tidak mau membuat Desi ataupun Bu Jeni curiga.


" Baiklah.. kalau ada apa-apa kamu segera hubungi aku.. " ucap Bram mencium kening, kedua pipi dan bibir Bela seperti biasanya.


Akhirnya Bram mengalah dan membiarkan Bela pergi naik taksi, Bram memutuskan untuk tinggal di apartemen karena ia tidak ingin pergi ke rumah sakit apalagi menemui Desi.


" Aku pasti akan sangat merindukan mu Sayang " ucap Bram melihat kepergian Bela


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2