Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Pergi Ke Rumah sakit


__ADS_3

Di tempat lain Bram masih terlelap memeluk guling, dalam mimpinya jika guling itu adalah Bela, tiba-tiba dering handphone Bram terus berbunyi membuat Bram bangun dari tidurnya lalu mengangkat teleponnya.


" Mamah?? " ucap Bram melihat layar handphonenya


" Halo.. " ucap Bram denga suara malas


" Kamu di mana Bram?? " Ucap snag ibu dengan nada marah


" Aku di apartemen mah,, memangnya kenapa??, Pagi-pagi telepon aku " Tanya Bram


" Kamu ini bagaimana sih, mamah kan bilang jangan meninggalkan ruangan Desi, lihatlah sekarang keadaan Desi kembali memburuk ini semua gara-gara kamu "


" Mah, aku ga nyaman jika harus tidur di rumah sakit, badanku sakit semua.. kenapa mamah ga pernah mengerti aku " protes Bram


" Bram, tidak ada yang nyaman tidur di rumah sakit semua orang juga merasakan hal itu tapi tolong untuk kali ini.. keadaan Desi sangat lemah jangan pernah tinggalkan dia.. kalau terjadi sesuatu pada Desi bagaimana?? "


" Mah, tidak akan terjadi sesuatu pada Desi, disana ada dokter dan suster jadi mamah tidak usah khawatir "


" Kamu ini bagaimana sih??, mamah bilang sekarang juga kamu harus pergi ke rumah sakit, keadaan Desi memburuk, mamah juga sedang perjalanan menuju rumah sakit "


" Tapi mah, aku harus ke kantor, pekerjaan ku sangat penting sekarang " ucap Bram


" Keadaan Desi lebih penting.. "


" Pekerjaan ku juga penting mah, apalagi kemarin aku tidak masuk kerja semakin menumpuk jika aku tidak bekerja lagi hari ini " alasan Bram


" Kamu pergi dulu ke rumah sakit, setelah itu baru kamu pergi ke kantor... Mamah tunggu kamu sekarang juga " ucap Bu Jeni langsung menutup teleponnya dengan perasaan kesal.


" Drama apa lagi sih yang di mainkan Desi, malas sekali aku harus menemui Desi di rumah sakit.. lebih baik aku di kantor bersama dengan Bela " batin Bram


" Tunggu dulu, Bela mana ya kenapa dia tidak ada di samping ku ?? " Ucap Bram kaget


" Bela sayang.... " Teriakan Bram namun tidak ada jawaban di kamar mandi, ia baru sadar jika sosok Bela sudah tidak ada di sampingnya atau di kamar mandi, ia hanya melihat sebuah surat yang di tinggalkan Bela di samping tempat tidur.


Dalam surat itu Bela mengatakan jika dirinya sudah pergi ke rumah sakit, dia juga minta maaf tidak membuatkan makanan untuk Bram. Ia janji akan membawakan sarapan untuk Bram nanti ketika Bram sudah sampai di kantor.

__ADS_1


" Bela oh Bela semakin hari aku semakin mencintai dirimu.. rasanya tidak mau jauh darimu.. kamu benar-benar wanita yang sempurna untuk ku, aku beruntung memiliki mu.. tak akan aku lepaskan kamu bel sampai kapanpun " batin Bram


Dengan perasaan senang Bram segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, tak hanya itu setelah ia mandi ia langsung memakai baju rapi dan memakai parfum yang wangi agar Bela lebih menyukai penampilannya.


Meskipun sebenarnya ia malas jika harus pergi ke rumah sakit, tapi tidak apa-apa ia berharap bisa pergi ke kantor bersama dengan Bela nantinya. Ia segera menuju mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Bram buru menuju ruangan Desi, walaupun sebentar ia juga buru-buru ke sana ingin melihat sosok Bela. Tapi ia tidak bertemu. Ia hanya melihat sang mamah yang sedang menunggu di depan kamar Desi sambil menangis.


" Mah... " Panggil Bram


" Bram keadaan Desi semakin memburuk bagaimana ini?? " Tanya sang mamah


" Mamah yang sabar ya... Kita serahkan semuanya pada Tuhan " ucap Bram memeluk sang Mamah


" Bagus kalau aku harus kehilangan anak itu, jadi aku akan segera menceraikan Desi dan tidak harus menunggu lama hal itu.. aku dan Bela akan hidup bahagia selamanya " batin Bram


" Ya Tuhan, aku tidak mau kehilangan cucuku, tolong berilah kekuatan pada anak dalam kandungan Desi agar dia bertahan dan kuat.. " batin Bu Jeni


Tak lama kemudian dokter datang dan menghampiri Bram yang masih memeluk sang mamah. Para suster juga sudah mulai meninggalkan ruangan Desi.


" Alhamdulillah keadaannya sudah stabil, emosi Nona Desi tidak stabil, mohon pihak keluarga untuk tetap menjaga emosinya agar stabil karena itu akan mempengaruhi kandungan Nona Desi " ucap sang dokter


" Baik dok terima kasih " ucap Bu Jeni senang


" Kalau begitu saya permisi " pamit sang dokter


" Silahkan " ucap Bram


Mereka segera masuk kedalam ruangan Desi, tampak Desi terbaring lemah di ranjang tempat tidurnya. Namun melihat sosok Bram di depannya membuat hatinya kembali sakit mengingat ucapan wanita yang tadi berani mengangkat teleponnya Bram.


" Bram.. " ucap Desi sambil menangis


" Desi, kamu jangan menangis seperti itu.. ingat anak dalam kandungan mu.. kalau kamu terus begini bagaimana jika kamu kehilangan dia.. kondisi anak dalam kandungan mu sangat lemah.. emosi mu akan mempengaruhi kesehatan anak dalam kandungan mu itu.. ibu mohon berhenti menangis dan jaga kondisi mu " ucap Bu Jeni


" Mamah Jeni benar aku tidak mau terjadi sesuatu pada anak dalam kandungan ku.. tapi aku tidak bisa membohongi hatiku.. rasanya benar-benar sakit sekali ketika melihat wajah Bram.. kenapa kamu tega Bram padaku.. dan siapa wanita itu?? " batin Desi

__ADS_1


" Pasti Desi marah pada Bram karena Bram meninggalkan Desi sendirian di rumah sakit, aku harus menenangkan emosi Desi dulu, aku tidak mau terjadi sesuatu pada calon cucuku " batin Bu Jeni


" Malas sekali meladeni drama ini.. sungguh membosankan.. tangisnya seolah-olah di buat-buat ingin mendapatkan simpati dariku.. jangan harap " batin Bram


" Bram lebih baik kamu pergi ke kantor dulu, Desi biar mamah yang jaga.. " ucap Bu Jeni


" Kenapa ga bilang dari tadi sih mah.. buang-buang waktu saja.. aku pamit " ucap Bram langsung meninggalkan ruangan Desi


" Ish anak ini... " ucap Bu Jeni menatap marah pada putranya itu.


Sedangkan Desi masih menangis di pelukan Bu Jeni, ia belum bisa menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, bagaimana sakit hatinya dia ketika wanita itu menyebut dia wanita yang di cintai Bram bukan Desi.


Sementara Bram tampak terlihat bahagia, ia segera menuju ruangan Bu Mina tapi ia urungkan niatnya, ia hanya mengirimkan pesan pada Bela jika dirinya akan menunggu Bela di tempat parkir agar bisa berangkat kerja bersama dengan Bela.


Tak lama kemudian Bela datang dan segera masuk ke dalam mobil Bram. Ia melihat wajah Bela tampak bahagia dengan senyuman manis yang menyapanya. Hati Bram berbunga-bunga melihat wajah Bela seakan ia baru pertama kalinya jatuh cinta.


" Maaf ya kak, jadi Nunggu lama " ucap Bela


" Tidak sayang... Ayo kita berangkat nanti kesiangan.. " ucap Bram sambil tersenyum melajukan mobilnya menuju kantor


" Kak habis dari ruangan Desi ya?? " tanya Bela


" Biasalah Desi bikin drama lagi.. aku muak melihat dia terus menerus menangis seolah dia ingin mendapatkan simpati dariku.. tapi aku tidak merasa kasihan sama sekali padanya.. "


" Biar bagaimanapun kakak jangan terlalu kasar pada Desi, dia sedang mengandung anak kakak " ucap Bela


" Malas aku membahas masalah anak " ucap Bram


" Bagus Bram.. semakin kamu membenci Desi semakin aku bahagia.. rasanya sakit hatiku sedikit demi sedikit di balaskan oleh Bram.. aku tidak perlu repot-repot menyiksa Desi karena Bram sudah menyiksa perasaan Desi terlebih dahulu " batin Bela


" Aku tuh maunya anak dari kamu bel.. aku tidak akan peduli anak dari kandungan Desi " batin Bram


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2