Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Malam Bersama Bela


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Bela di cegah untuk membersihkan piring kotor, Bram malah membawanya ke kamar. Ia sungguh tidak mau membuat Bela lelah apalagi harus mengerjakan pekerjaan seperti itu.


" Kakak turunkan aku, biarkan aku cuci piring dulu.. lihat piring kotornya menumpuk " ucap Bela kaget karena dirinya langsung di gendong oleh Bram


" Biarkan saja, besok akan ada seseorang yang membersihkannya, aku tidak mau kamu lelah hanya karena mencuci piring kotor itu.. " ucap Bram.


" Tidak kak, aku tidak akan lelah "


" Pokoknya kamu tidak boleh melakukan itu "


Bram segera menuju kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya yang sudah lengket keringat, namun sebelumnya ia juga membawa Belake kamar mandi untuk mandi bersama.


" Kakak, kenapa aku di bawa kesini.. " ucap Bela yang di turunkan tubuhnya


" Kita mandi bersama " ucap Bram dengan senyum liciknya


" Tapi Kak.. aku tadi sudah mandi.. " protes Bela


" Ayolah sayang kita mandi bersama lebih seru, kita bisa bersenang-senang.. " ucap Bram mengunci pintu kamar mandi

__ADS_1


" Kakak... " Bela masih protes


" Sayang " ucap Bram langsung menghimpit tubuh Bela ke tembok hingga sudah tidak ada jarak di antara mereka


Mereka mulai melakukan percintaan di dalam kamar mandi, Bela tampak sudah terbiasa dengan apa yang di lakukan Bram kini, sedangkan Bram sendiri benar-benar menikmati tubuh Bela yang indah.


Bram bisa melupakan kekesalannya pada Desi ketika dia berada di samping Bela. Baginya Bela adalah seseorang yang bisa membuatnya nyaman bahkan rasa letihnya bisa menghilang ketika berada di dekat Bela.


Hal ini baru ia rasakan dengan Bela karena sebelumnya selama ia berpacaran dengan Sintia rasa itu tidak pernah ada. Hanya Bela yang mampu menaklukkan hati Bram saat ini, bahkan jika ibunya nanti menentang hubungan mereka ia tidak akan pernah peduli ia akan terus bersama dengan Bela, wanita yang ia cintai.


Ia berharap sesuatu dalam perut bela hadir yaitu malaikat kecilnya, sosok seorang bayi sangat ia nantikan di perut Bela karena dengan hadirnya anak hubungan antara dia dan Bela akan semakin terikat, Bela juga tidak akan meninggalkannya bahkan suatu anugrah karena ia akan segera menceraikan Desi dan hidup bersama dengan Bela membangun keluarga kecil mereka.


" Sayang, maafkan aku.. aku terlalu bersemangat.. apa kamu merasa kedinginan " ucap Bram memberikan baju tidur yang akan di kenakan Bela


" Tidak apa-apa kak.. aku hanya lelah saja " ucap Bela tersenyum


" Sekarang kamu cepat pakai selimut biar tidak kedinginan " ucap Bram menyelimuti Bela agar tubuh Bela hangat


" Terima kasih kak.. "

__ADS_1


" Tunggu sebentar aku akan membuatkan mu teh hangat.. agar tubuh mu semakin hangat " ucap Bram segera pergi dari sana.


" Padahal tidak usah kak.. aku hanya ingin tidur dan beristirahat " ucap Bela mulai memejamkan matanya karena kelelahan dengan permainan yang Bram lakukan.


Tak lama kemudian Bram kembali lagi ke kamarnya, ia tersenyum karena Bela ternyata sudah tertidur pulas, ia merasa tak tega harus membangunkan Bela.


" Kamu sudah tidur ya sayang, maafkan aku membuatmu kelelahan.. aku akan selalu mencintaimu seumur hidup ku.. " ucap Bram mencium kening Bela


Ia juga mencium kedua pipi Bela dan bibir Bela, setelah itu barulah ia naik ke ranjang tempat tidur dimana Bela berada, ia segera memejamkan matanya sambil memeluk Bela.


" Aku sangat mencintai mu Bela jangan sampai kau meninggalkanku karena aku tidak bisa hidup tanpa mu " batin Bram


Rasanya benar-benar hangat, ini yang selama ini ia rindukan, tidur sambil memeluk Bela itu yang selalu ia harapkan selama ini, ia ingin sekali menghabiskan hari-harinya layaknya suami-istri namun ia juga tidak bisa melakukan hal itu karena Bela juga harus menunggui sang ibu di rumah sakit.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2