Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Bela Terpuruk


__ADS_3

Bela sudah berada di rumah sakit, tepatnya berada di ruangan UGD, Bram sungguh khawatir dengan kondisi Bela kali ini karena hari ini Bela sudah dua kali pinsan dan itu akhibat shock berat yang ia alami.


Kini Dokter sudah memeriksa keadaan Bela, ia keluar dari ruangan UGD dan segera menghampiri Bram yang masih duduk di depan ruangan itu dengan wajah panik dan gelisah.


" Keluarga Nona Bela " panggil sang dokter


" Saya suaminya Dok.. bagaimana keadaan istri saya?? apa Istri saya baik-baik saja?? " tanya Bram masih berwajah panik


" Tuan tenang saja, Keadaan Nona Bela baik-baik saja untuk saat ini, namun saya sarankan untuk membuat Nona Bela tidak terlalu stres atau berada di dalam tekanan, Nona Bela harus menjaga emosinya agar kondisi janin dalam kandungannya baik-baik saja " ucap Sang dokter


" Dok, jadi benar kalau istri saya sedang hamil?? " Tanya Bram


" Benar Tuan, oleh karena itu saya minta pada Tuan untuk menjaga emosi Nona Bela.. usahakan untuk bisa membuat Keadaan Nona bahagia agar kondisi kandungan Nona baik-baik saja, karena usia kandungan Nona masih muda dan itu masa rentan yang harus di jaga baik-baik " ucap Sang dokter


" Baik dok terima kasih " ucap Bram senang


" Aku akan segera menjadi ayah... Terima kasih Tuhan, Aku harap Bela akan senang mendengar kabar bahagia ini.. aku benar-benar bahagia sekarang Bel.. terima kasih Tuhan sekali lagi.. Bela kamu jangan sedih lagi karena sebentar lagi kita akan bahagia menyambut anak dalam kandungan mu itu " batin Bram


" Sebentar lagi Nona Bela akan segera di bawa keruang inap, mohon segera menyelesaikan administrasinya " ucap sang suster


" Baik sus "


Suster dan dokter segera pergi dari sana sedangkan Bram duduk di depan ruangan UGD, menunggu istrinya keluar dari ruangan itu, sedangkan untuk administrasi rumah sakit ia serahkan pada Deon sang asisten.


Tak lama kemudian Bela di bawa ke ruangan inap VVIP yang sudah di siapkan Bram, ia ingin pelayanan yang terbaik untuk istrinya apalagi di dalam perut Bela ada calon anaknya yang akan menjadi pelengkap hidup mereka.


Kini Bela sudah berada di dalam ruangan, Bram tampak duduk di samping ranjang tempat tidur Bela sambil memegang tangan Bela dengan erat. Tak lupa juga ia mencium tangan Bela berharap Bela segera sadar. Ia harus menyampaikan kabar baik ini.


" Sayang cepat sadar, kamu jangan sedih lagi, karena sebantar lagi kamu akan merasakan kebahagiaan, karena sekarang kamu sudah menjadi seorang Ibu dan aku menjadi seorang ayah.. " batin Bram


Tak lama kemudian Bela sadar, kepalanya pusing dan sakit, ia melihat ruangan itu seperti di rumah sakit, ia juga melihat Bram masih memegang tangannya.

__ADS_1


" Akhirnya Kamu sudah sadar juga sayang.. Kamu mau apa?? mau Minum atau makan?? " Tanya Bram sambil tersenyum


" Aku di mana kak?? " Tanya Bela bingung karena seingatnya dia tadi masih di pemakaman sang ibu


" Kamu ada di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan lagi, aku benar-benar khawatir lalu aku membawa mu kesini.. " ucap Bram


" Ibu.. " ucap Bela teringat dengan sosok sang ibu yang tadi selesai di makamkan.


" Sayang, kamu jangan sedih terus.. kata dokter kamu harus menjaga kondisi kesehatan mu.. aku ga mau kamu sakit seperti ini.. "


" Aku sedih kak.. rasanya sakit kehilangan ibu.. lebih sakit dari kehilangan kak Sinta " ucapnya kembali meneteskan air matanya


" Aku tahu ini mungkin berat untuk mu apalagi kehilangan seorang ibu, tapi kamu juga harus pikirkan dengan kondisi kesehatan mu.. ada aku yang akan selalu ada untuk mu.. aku janji tidak akan meninggalkan mu dan selalu membuat mu bahagia " ucap Bram dengan wajah serius


" Mungkin Kamu tidak akan meninggalkan aku, sekarang, tapi aku.. setelah semuanya selesai aku harus bagaimana,, aku yang harus meninggalkan mu " batin Bela


" Aku sangat mencintai Bela, melihat mu seperti ini hatiku sangat sedih.. mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk aku memberitahukan tentang berita kehamilan mu.. tunggu kamu tenang lalu aku akan memberitahukan kabar bahagia ini " batin Bram


" Kamu harus makan dulu sayang ?? Demi aku.. " ucap Bram membawa kotak makanan untuk Bela


" Aku mohon sayang kamu makan ya, sedikit saja " ucap Bram dengan wajah memelas


" Baiklah.. "


Bram segera mengambil sendok lalu menyuapi Bela, ia sangat senang sekarang karena Bela tampak sudah tenang tidak seperti tadi. Mungkin sekarang tenaganya sudah lemas dan dia juga terlihat lelah.


Bela hanya memakan tiga sendok makan saja, Bram tidak memaksa Bela untuk menghabiskan makanannya bisa makan tiga sendok dalam keadaan Bela seperti ini sudah lumayan bagus.


" Minumlah sayang, lalu minum obatnya agar besok kamu bisa pulang dari rumah sakit " ucap Bram memberikan satu gelas minum dan obat vitamin untuk Bela


" Terima kasih " ucap Bela langsung meminum obat tersebut

__ADS_1


Setelah itu Bela membaringkan tubuhnya, sambil melihat kearah langit-langit ruangannya ia masih terbayang kenangan bersama dengan sang ibu, tak sadar air matanya menetes lagi.


" Aku sangat merindukan ibu.. " lirih Bela


" Sayang, sebentar ya aku angkat telepon dulu " ucap Bram ketika handphonenya berdering


Bram segera pergi ke luar ruangan Bela sedangkan Bela masih sedih, rasanya ia belum sanggup jika harus kehilangan orang-orang yang dia sayangi.


Dering Handphone milik Bela juga berbunyi namun yang menghubunginya adalah Lily, sebelum ia mengangkat teleponnya ia menghapus air matanya terlebih dahulu lalu ia segera mengangkat teleponnya.


" Halo Ly "


" Bel, kamu di mana.. aku datang kerumah mu tapi kamu tidak ada disini?? Kata bibi yang berkerja di rumah mu dia bilang kamu belum pulang setelah pemakaman " tanya Lily


" Aku di rumah sakit Ly??


" Apa kamu di rumah sakit?? Kamu kenapa Bel, di rumah sakit mana?? Biar aku sekarang Kesana?? " Ucap Lily panik


" Kamu jangan khawatir Ly, aku baik-baik saja, hanya Kecapean saja " ucap Bela tidak ingin sahabatnya khawatir


" Sudah cepat share lokasinya, aku akan segera Kesana, tunggu aku di sana " ucap Lily langsung menutup teleponnya


Bela segera mengirimkan pesan di mana dirinya berada, saat ini Lily lah yang mengerti perasaannya kali ini karena Lily pernah kehilangan sosok seorang ibu waktu dia masih kecil. Bela juga sudah menganggap Lily seperti kakaknya sendiri.


Bram kembali lagi keruangan Bela dan meminta ijin untuk pergi ke kantor karena ada pekerjaan yang mendesak yang tidak bisa ia tunda. Bela pun membiarkan Bram pergi dan di ruangan itu hanya ada dia seorang.


Rasanya sepi dan hampa di hidupnya, Bela berada titik terpuruknya kali ini. Berusaha kuat tapi hatinya benar-benar rapuh saat ini. Mencoba Tegar tapi hatinya sakit yang tak bisa di ungkapkan.


Kenapa takdir begitu kejam padanya, seperti sedang mempermainkan hidupnya, di saat semua rencananya sudah berhasil sepenuhnya seperti yang ia harapkan tapi Tuhan malah mengambil sosok penting dari hidupnya yaitu seorang ibu, untuk saat ini ia belum bisa menerima kenyataan ini. Terlalu sulit untuk ia pahami saat ini.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2