
Karena pengakuan Desi yang membenarkan ucapan dari Bu Jeni dan surat keterangan dari rumah sakit yang resmi membuat hakim memutuskan untuk tidak melanjutkan proses perceraian ini. Gugatan yang Bram layangan langsung di tolak pihak pengadilan.
" Yang mulia tolong lihat ini!! " ucap Bu Jeni menyerahkan surat dari rumah sakit
" Bukti ini memang asli "
" Saya memang sedang mengandung anaknya Bram yang Mulia hakim.. " ucapnya sambil meneteskan air matanya
" Yang Mulia hakim saya tidak yakin sudah meniduri Desi.. " sangkal Bram lagi
" Kamu waktu itu sedang mabuk.. kamu sendiri tidak yakin karena melakukannya sedang mabuk, kamu jangan lupakan itu " ucap Desi dengan nada marah
" Apa benar yang di ucapkan Desi, kenapa aku tidak bisa mengingat hal itu " batin Bram
" Kamu ga bisa menyangkal anak ini Bram.. meskipun kamu punya bukti jika aku yang sudah menjebak mu " batin Desi
" Semuanya tenang, bukti yang di kirimkan Bu Jeni. asli... saya sudah konfirmasi hal itu yang mulia " ucap pengacara Desi
" Baiklah dengan ini Hakim sudah memutuskan jika sidang ini perceraian antara saudara Bram dan saudari Desi di tolak di karenakan Saudari Desi sedang hamil " ucap hakim mengetok palu tiga kali
Keputusan Hakim sudah tidak bisa lagi di gangu gugat, Bram tampak kecewa dengan keputusan Hakim tersebut namun beda halnya dengan Desi dan Bu Jeni mereka tampak senang dan bahagia dengan keputusan itu.
" Hidupku sudah benar-benar sial dan hancur... bagaimana ini?? " batin Bram
" Yes, aku memang dan Bram kalah.. kamu tidak bisa lepas dariku Bram.. " batin Desi
" Akhirnya Mereka tidak jadi bercerai, rasanya sangat lega sekali.. Desi memang wanita yang pantas untuk Bram " batin Bu jeni
Semua tampak bubar sedangkan Bram masih berdiri di tempatnya dengan perasaan marah, Deon segera menghampirinya lalu membawa Bram dari sana. Melihat kondisi Bram sekarang Deon langsung menyetir mobil menuju kantor.
Sementara Desi dan Bu Jeni tampak tertawa dengan sangat bahagia karena pada akhirnya mereka menang dan Bram kalah, meskipun sebenarnya Bu Jenijuga takut kalau Desi tidak hamil kemarin untungnya ketika mereka memeriksakan kandungan Desi memang benar-benar Hamil.
__ADS_1
" Mah, kita menang " ucap Desi kegirangan
" Kamu benar, lihat wajah Bram barusan.. dia tidak akan bisa lepas dari mu lagi sekarang apalagi jika anak yang ada di dalam kandungan mu adalah seorang anak laki-laki.. kamu tidak akan pernah tersingkirkan sampai kapanpun " ucap Bu Jeni membuat Desi bingung
" Mana aku tahu ini anak laki-laki atau anak perempuan, yag penting sekarang aku hamil dan Bram tidak bisa menceraikan aku " batin Desi
" Kekayaan ku akan semakin berlimpah karena keluarga Desi juga keluarga yang kaya raya " batin Bu Jeni
" Mah Mau kemana kita selanjutnya?? " ucap Desi
" Kita kekantor Bram dulu.. ada beberapa hal yang ingin mamah sampaikan pada Bram "
" Baiklah "
Mereka langsung pergi menuju kantor Bram dengan perasaan bahagia. Desi sangat bersyukur karena ibu mertuanya itu selalu mendukungnya maka dari itu ia selalu menyenangkan hati ibu mertuanya itu dengan memberikan permintaan yang di pinta oleh sang mertuanya.
" Tapi mamah laper, lebih baik kita makan dulu di Mall saja, tidak jauh dari sini ko?? " ucap Bu Jeni sambil tersenyum
" Astaga Desi kita harus makan dulu, kamu tadi tidak sarapan di rumah, kamu harus menjaga kesehatan mu dan calon cucu mamah.. kamu harus makan makan yang bergizi.. kamu juga barusan sudah bertemu dengan Bram "
" Kita bisa pergi dulu ke kantor Bram lalu makan siang bersama dengan Bram " ucap Desi
" Kita merayakan kemenangan kita dulu dengan makan makanan yang enak, lalu kamu bawakan makan siang itu untuk Bram, mamah yakin Bram akan senang karena kamu perhatikan pada Bram "
" Aku takut di usir lagi sama Bram?? " ucapnya dengan nada sedih
" Kamu tenang saja, mamah akan menemanimu ke kantor Bram, disana mamah juga akan melarang Bram untuk mengusir kamu dari kantornya mulai hari ini karena kamu sedang mengandung anaknya " bujuk sang mamah
" Baiklah Mah kalau begitu, kita makan dulu "
Mereka langsung menyuruh supir segera menuju Mall yang tidak jauh dari sana, Bram memang memberikan supir pada Sang mamah agar bisa lebih leluasa memantau sang mamah karena ia tahu jika sang mamah memang suka ke Mall dan berbelanja barang-barang yang sebenarnya mahal-mahal.
__ADS_1
" Belanja lagi, baru juga kemarin aku belikan dia sepatu baru.. pasti dia minta sesuatu lagi.. tapi ga papah lah yang penting hari ini aku senang, itung-itung hadiah untuk mertuaku agar lebih sayang pada ku " batin Desi
" Senang sekali punya menanti seperti Desi, mau apa-apa tinggal Minta, belum tentu kalau aku punya menantu seperti Sintia.. pilihan ku memang tidak salah menjadikan Desi sebagai menantuku " batin Bu Jeni
Mereka merayakan kemenangan ini dengan makan-makan di sebuah restoran mahal yang ada di mall itu. Bu Jenitampak memesan banyak makanan mahal disana. Meskipun Desi tidak pernah protes dengan kelakuan mertuanya tapi dari lubuk hatinya terdalam ia selalu kesal karena uang bulanan yang di berikan sang ayah selalu di belanjakan untuk membeli apa yang di mau sang mertua.
" Semoga saja nanti Bram memberikan aku kartu tanpa batas.. kali ini aku harus bisa berkorban karena sebentar lagi semua harta Bram akan jadi milik anak ku " batin Desi
Desi memesan beberapa makanan yang akan ia bawa ke kantor Bram, namun sebelum pergi Kesana mertuanya malah mengajaknya ke salon untuk melakukan perawatan rambut, kalian tahu jika wanita sudah di salon pasti lama. Untuk kali ini Desi mencoba menolak.
" Mah, bagaimana kalau besok kita ke salonnya, kita harus ke kantor Bram dulu " pinta Desi
" Tapi Desi, sekarang jadwal mamah melakukan perawatan rambut " ucapnya
" Kalau kita kesalon dulu pasti lama, bagaimana kalau kita kedahului oleh wanita ular itu.. mamah ga mau kan kalau Bram jatuh kepelukan wanita ular yang bernama Bela "
" Kamu benar.. tapi setelah pulang dari kantor Bram kamu harus temani mamah kesalon ya.. janji "
" Ia mah, aku janji.. aku juga mau merubah penampilan ku agar Bram semakin mencintai aku " ucap Desi
" Bagus, wanita itu harus pandai merawat seluruh tubuhnya agar laki-laki tidak berpaling dari kita " ucap Bu Jeni sambil tertawa
Mereka segera meninggalkan mall dan pergi menuju kantor Bram, Desi sudah tidak sabat untuk bertemu dengan suaminya itu, ia yakin kali ini Bram pasti akan mencintai dia karena dia sedang mengandung seorang anak.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1