
Mereka sudah sampai di ruangan khusus bahkan di jaga ketat oleh bodyguard yang di tugaskan oleh ayah Bela, mereka tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Bu Mina apalagi Bela tahu sifat jahat ibu tirinya jadi ia meminta sang ayah untuk menambah pengamanan pada ruangan ibunya.
Bram dan Deon tampak heran dengan penjagaan yang ketat tersebut, ia langsung menghampiri bodyguard yang berjaga tepat di depan pintu ruangan Bu Mina.
" Maf pa, saya mau tanya apa di dalam ada Bela " tanya Deon sambil tersenyum
" Maaf anda siapa? "
" Saya temannya Bela " ucap Bram
" Baiklah kalau begitu Tuan-tuan tunggu di sini biar saya panggilkan dulu Nona bela " ucapnya pamit masuk kedalam.
Bodyguard tersebut langsung memberitahukan pada majikannya jika ada dua orang laki-laki dan dua orang perempuan yang sedang mencari keberadaan sang majikan.
" Baiklah pa, tunggu sebentar saya akan menemui mereka di luar " ucap Bela ramah
" Baik Nona, kalau begitu saya permisi "
" Terima kasih pa "
" Bel, siapa yang mencarimu... " Tanya Lily
" Entahlah aku juga tidak tahu " ucap Bela tampak bingung
" Bel, bagaimana kalau aku saja yang menemui mereka, aku takut mereka orang jahat " ucap Candra
" Kamu tidak usah khawatir kan ada dua bodyguard yang akan menjaga ku, mana mungkin mereka mau macam-macam, lagian aku penasaran mereka siapa ya " tanya Bela
__ADS_1
" Kalau begitu aku ikut " ucap Candra masih khawatir
" Sudah kamu disini saja bersama dengan Lily, aku kedepan sebentar " ucap Bela melangkah menuju depan ruangan sang ibu.
Betapa kagetnya yang ia lihat di depannya adalah orang-orang yang sudah membuat Sintia meninggal kecuali Deon, amarahnya langsung bangkit, rasa kecewa marah semua bercampur jadi satu. Ingin rasanya Bela pukul wajah itu satu persatu namun ia urungkan niatnya karena ia harus membalaskan dendam sang kakak.
" Untuk apa kalian datang kesini, apa belum cukup kalian merenggut nyawa kakak ku " ucap Bela dengan nada marahnya
" Sebaiknya kita bicara di taman, rasanya tidak enak jika berbicara disini kasiahan Bu Mina " ucap Deon pada Bela
Bela menyetujui apa yang di katakan Deon, mereka berlima pergi ke taman tak jauh dari ruangan Bu Mina, Bram bisa Melihat jika wajah Bela sedih namun tatapannya tajam seperti seseorang yang sedang marah. mereka duduk di bangku taman saling berhadapan yang sudah di siapkan Deon.
" Bela kedatangan kami kesini untuk meminta maaf padamu.. kami tahu kami salah.. maafkan aku Bela " ucap Desi sambil pura-pura menangis
" Sial, aku jadi harus pura-pura begini di depan wanita ini.. aku harus merendahkan harga diriku demi Bram.. setelah ini Bram akan memaafkan aku lalu kami hidup bahagia tanpa gangguan mereka " batin Desi
" Kenapa kalian baru menyesal sekarang, apa waktu kalian melakukan itu, kalian tidak pernah berpikir jika apa yang kalian lakukan itu salah.. apa yang kalian lakukan itu bisa membunuh Kak sintia.. haruskan aku melaporkan kalian ke polisi " ucap Bela kembali menangis
" Apa salah kak Sintia pada kalian hingga kalian tega melakukan itu, kenapa jawab aku... " tanya Bela
Bela kini meluapkan semua pertanyaan yang selalu mengganjal di kepalanya, ia tidak mau membuang kesempatan ini untuk membuat Bram lebih membenci Istrinya sekarang, karena Bela melihat jika ibunya Bram dan istrinya tidak tulus meminta maaf padanya, Bela bisa melihat jika apa yang mereka lakukan adalah kepura-puraan semata.
Luka lama yang sudah mulai kering kini tersayat kembali, bayangan Sintia muncul saat meninggalkan dirinya. Bela tak mamapu menahan rasa sedih, amarah dan kecewanya. Jiwanya rapuh kembali saat mengingat kepergian sang Kakak untuk terakhir kalinya.
Desi yang tidak mau jika dirinya harus masuk penjara segera menjelaskan alasan apa yang membuat dirinya melakukan itu, tentunya alasan yang bisa Bela terima dengan akal sehat, ia pura-pura menangis lagi agar Bela lebih simpati padanya.
" Bela aku lakukan itu karena aku mencintai Bram.. aku juga takut Bram kabur dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya padaku.. maksud ku kamu sudah melihat foto yang aku kirim ke Handphonenya Sintia kan, kami memang tidur bersama dan melakukan itu.. " ucap Desi
__ADS_1
" Desi itu tidak mungkin, aku tidak mungkin kabur darimu.. aku tahu aku salah tapi aku merasa jika tidak pernah terjadi sesuatu pada kita, aku tidak pernah menyentuh mu " elak Bram
" Lihatkan Bela, Bram selalu berbicara seperti itu.. padahal bukti sudah aku dapatkan tapi Bram terus menyangkalnya, itu yang membuat aku terpaksa melakukan itu.. aku berharap jika Sintia akan menjauhi Bram, aku tidak tahu jika Sintia punya penyakit jantung " ucap Desi sambil menangis
" Bela, tante juga minta maaf, bukan maksud Tante apa-apa, Tante hanya ingin jujur pada pada Sintia, Tante mengirimkan Vidio itu agar Sintia tahu bagaimana kelakuan Bram di belakangnya, Tante sayang sama Sintia, jadi Tante berkata jujur dan memperingatkan Sintia " ucapnya
" Bel, dengarkan aku... "
" Cukup, aku sudah mengerti semuanya,.. walaupun berat aku memafkan kalian karena aku juga tidak bisa hidup dalam bayang-bayang kebencian, mulai hari ini aku maafkan kalian " ucap Bela menahan rasa sakit di hatinya karena ucapan dan batinnya bertolak belakang
" Apa?? Terima kasih Bela " ucap Desi hendak memeluk Bela namun di tolak oleh Bela membuat ia memeluk sang mertua dengan wajah yang senang dan gembira
" Kalau mudah meminta maaf pada Bela lebih baik aku lakukan dari kemarin-kemarin agar dan Bram tidak usah pergi dari rumah karena hal ini, ternyata mudah membodohi wanita ini.. Bela.. bela.. dasar gadis bodoh " batin Jeni
" Terima kasih Bel, Kamu memang gadis yang baik.. mulai sekarang kamu jangan membenciku lagi ya " ucap Bram senang
" Sama-sama " lirih Bela
" Oh ia Bela, aku ingin bertemu dengan ibumu.. aku dengar keadaan ibu Mina koma.. bolehkah aku menjenguknya bersama dengan mamah " ucap Bram
" Boleh, tapi tidak dengan Desi, aku takut ibu akan shock mengetahui jika wanita yang sudah membuat kakak meninggal malah menjenguknya.. Desi bisa menunggu saja di depan ruangan ibu bersama ku " ucap Bela
" Baiklah Bel aku setuju " ucap Bram sambil tersenyum
Mereka semua tampak kembali ke depan ruangan dimana Ibu bela di rawat, Bela mempersilahkan Bu Jeni, Deon dan Bram untuk masuk kedalam ruangan sang ibu, sedangkan Dirinya bersama dengan Desi berada di luar dengan senyuman jahatnya.
Bersambung...
__ADS_1