
Bram langsung membuka pintu kamarnya sementara Bela langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Betapa kagetnya dia ketika yang mengetuk pintu adalah sosok laki-laki yang baru saja ia pukul.
" Ada apa kesini??, apa kamu ingin mencari Bela?? " Tanya Bram dengan nada sinis
" Tidak, aku ingin berbicara penting dengan mu "
" Ada apa lagi dia kesini, apa dia hanya mencari alasan untuk bertemu dengan ku padahal sebenarnya ia pasti ingin berbicara dengan Bela " batin Bram
" Aku harus menyelesaikan semuanya sekarang, dari pada hatiku sakit seperti ini, aku harus dapat penjelasan dari Bram " batin Deon
" Baiklah kita bicara di balkon saja.. kamu tunggu aku disana, aku akan segera menyusul mu " ucap Bram langsung menutup pintu kamarnya.
Deon segera menuju ke balkon dimana ia dan Bram akan bicara disana sedangkan Bram ia masuk kembali ke kamarnya, ia ingin pamitan pada Bela sebentar takut Bela mencarinya namun ia justru melihat jika Bela selesai mandi.
" Sayang, kamu mandi malam-malam begini?? Bagaimana kalau kamu sakit ?? " Tanya Bram
" Aku tidak apa-apa kak, aku ingin bersiap-siap untuk pulang ke rumah sakit " ucapan Bela tentunya membuat Bram kecewa harusnya malam ini adalah malam pertama setelah mereka resmi menikah meskipun mereka itu bukan malam pertama bagi mereka karena mereka sudah melakukannya kemarin.
" Tidak bisakah kita menginap disini " tanya Bram langsung memeluk Bela dari belakang
" Maaf kak, mungkin lusa kita bisa menghabiskan malam bersama tapi untuk hari ini aku harus pulang, aku kangen sama ibu.. sudah beberapa hari ini aku tidak menjaga ibu " ucap Bela sambil tersenyum
" Tapi aku masih merindukan mu sayang.. " ucap Bram sedih
" Aku janji besok setelah pulang kerja aku akan mampir ke apartemen ini.. untuk menemani kakak walaupun sebentar " ucap Bela
" Baiklah, kamu tunggu sebentar dulu, aku akan berbicara dengan Deon, setelah itu aku akan mengantarkanmu pergi ke rumah sakit " ucap Bram
" Apa?? kakak mau bertemu dengan kak Deon?? " tanya Bela kaget
__ADS_1
" Kamu tenang saja, kami hanya bicara " ucap Bram masih memeluk Bela
" Kakak jangan bertengkar dan berkelahi lagi dengan Kak Deon " ucap Bela
" Kamu tenang saja aku tidak akan bertengkar apalagi berkelahi dengan dia " ucap Bram
" Janji "
" Ia sayang.. demi Kamu "
" Baiklah kalau begitu pergilah " ucap Bela
Seperti biasanya ketika Bram ingin pergi meninggalkan Bela ia langsung mencium kening Bela dan bibir Bela. Ia langsung pamit dan pergi menghampiri Deon yang sudah menunggunya di sana sambil meneguk anggur merah.
Bram duduk di samping Deon, ia masih melihat jika Deon memang sudah mabuk apa yang di katakan Bela memang benar. Ia langsung merebut gelas anggur yang tadinya akan di minum oleh Deon.
" Kamu sudah terlalu banyak minum.. " ucap Bram khawatir dengan keadaan Deon sekarang
" Deon, jangan minum lagi.. kamu sudah mabuk " ucap Bram
" Kenapa Bram kamu selalu merebut apa yang aku suka?? hah " ucap Deon dengan nada marah
" Apa maksudmu?? " Ucap Bram heran
" Jangan pura-pura bodoh, Kamu tahukan kalau aku suka dengan Bela, kenapa kamu malah menikahinya.. kamu bilang dulu tidak suka sama Bela tapi kenapa sekarang kamu malah menikah dengan Bela " ucap Deon dengan tatapan sinis
" Maafkan Deon, pada akhirnya aku memang jatuh cinta pada Bela, aku takut kehilangan Bela seperti aku kehilangan Sintia.. hanya bela wanita yang aku inginkan saat ini " batin Bram
" Cih, benar-benar munafik kamu Bram.. " batin Deon
__ADS_1
" Maafkan aku Deon, aku akan jujur sekarang padamu.. kalau aku sudah tidur dengan Bela dua hari lalu, aku mabuk dan aku ingin bertanggung jawab pada Bela " ucap Bram langsung membuat Deon berdiri lalu memukul wajahnya seperti tadi Bram memukul wajahnya
" Apa kamu bilang?? Dasar brengsek kamu telah menodai Bela... Kamu laki-laki brengsek.. " Ucap Deon memukul Bram kembali
" Aku tahu aku salah.. aku sudah bertanggung jawab dengan menikahinya.. " ucap Bram menghindar dari pukulan Deon lagi
" Kalau begitu biar aku yang bertanggung jawab pada Bela.. kamu tinggalkan Bela jika niatmu menikahinya hanya karena itu, karena aku sangat mencintai Bela.. aku akan membahagiakannya " ucap Deon dengan raut wajah marah
" Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Bela karena aku juga mencintai Bela " ucap Bram membuat Deon semakin marah namun sebisa dia untuk menahan amarahnya.
" Munafik kamu Bram... " teriakan Deon marah
" Aku minta maaf sudah membuat hatimu terluka, tapi aku tidak bisa menghapus rasa cintaku yang sudah tumbuh untuk Bela.. maafkan Aku Deon.. " ucap Bram mendekati Deon yang tak jauh dari tubuhnya
" Jangan dekati aku Bram... Kalau kamu memang mencintai Bela bahagiakan dia kalau sampai aku mendengar jika dia tidak bahagia dengan mu atau bahkan bersedih gara-gara kamu.. aku tidak akan segan-segan membawa Bela Kabur pergi jauh dari hidup mu " ancam Deon
" Baiklah Deon, kamu tenang saja aku janji akan selalu membahagiakan Bela, dia satu-satunya wanita yang bisa menggantikan posisi Sintia di hatiku " ucap Bram berjanji pada sahabatnya itu
Dengan perasaan masih marah Deon segera meninggalkan apartemen itu bersama dengan semua teman-temannya, mereka akan melanjutkan pesta di sebuah club yang biasanya mereka kumpul di sana namun kali ini tanpa Bram.
" Haruskah aku melupakan Bela, tapi mengubur rasa cinta ini untuk pertama kalinya susah.. Bela cinta pertama ku.. " batin Deon menangis dalam hatinya
" Untuk pertama kalinya aku benar-benar takut kehilangan seseorang dan orang itu Bela.. maafkan aku Deon.. aku tidak bisa mencegah rasa ini " batin Bram
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...