
Bram sudah sampai di apartemen miliknya, ia membuka pintu apartemennya, ia melihat apartemen begitu berantakan, ia sudah menduga jika hal itu pasti di lakukan oleh Desi. Ia segera mencari sosok Desi di kamarnya.
Ia melihat jika Desi sedang menangis disana, namun setelah melihat sosok Bram di depan pintu kamarnya ia segera menghampirinya dan memeluk Bram.
" Lepaskan tangan mu "
" Aku merindukan mu Bram?? " Ucap Desi
" Simpan air mata palsu mu.. aku tidak akan percaya padamu lagi " ucap Bram
" Kenapa kamu tega Bram sama aku?? Aku sudah sabar selama ini padamu.. aku tidak pernah mempersalahkan jika sikap mu seperti itu padaku " ucap Desi masih menangis
" Kenapa kamu bilang?? Kamu sudah menghancurkan hidup ku.. aku harus kehilangkan Sintia itu semua gara-gara kamu " ucap Bram dengan nada marah
" Kenapa harus Sintia, sintia dan Sintia lagi.. ingat dia sudah mati dan orang mati tidak akan hidup kembali Bram jadi lupakan masa lalu mu, lihat aku.. masa depanmu " ucap Desi dengan nada marah dan cemburu
" Lihat kamu sebagai masa depanku?? Jangan mimpi jikalau aku sudah melupakan masa lalu bukan kamu yang akan jadi masa depanku.. ingat itu " ucap Bram sungguh membuat Desi merasakan esak di dadanya.
Bagaimana tidak laki-laki yang ia cintai selama hidupnya malah memberikan goresan di hatinya, rasa sakit selama ini karena sikap Bram tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia katakan sekarang.
" Kalau kamu tidak tahan dengan ku, Mari kita bercerailah, kita akhiri semuanya dengan ku.. itu lebih baik untuk hidup kita " ucap Bram lagi-lagi seakan menyayat hati Desi kembali
" Bercerai dari mu.. jangan mimpi.. tidak akan pernah aku lakukan, kecuali aku mati " ucap Desi membuat Bram geram
Sama-sama keras kepala dan keduanya selalu terpancing emosi membuat hubungan mereka dari awal menikah tidak pernah ada kata harmonis. Tidak heran karena Bram sendiri tidak pernah mengalah pada Desi karena tidak pernah mencintai Desi dari awal pernikahannya.
Disaat pertengkaran dengan Desi, Bram justru merindukan sosok Bela yang terlihat lebih sabar dan menyejukkan hatinya tidak seperti sekarang hatinya seakan tersulit emosi ketika berhadapan dengan Desi istrinya sendiri.
Memang manusia tidak ada yang sempurna, membanding-bandingkan seseorang dengan orang lain juga tidak benar tapi hal itu sedang Bram rasakan ia membandingkan Sikap Desi dengan Bela bagaikan langit dan bumi. Dan Bela jauh lebih baik dari pada Desi di matanya saat ini.
" Kalau kamu tidak mau bercerai dengan ku, kamu harus tanda tangani surat ini " ucap Bram menyerahkan surat kontak perjanjian pernikahan.
__ADS_1
Biasanya surat seperti itu di berikan pada istri ke dua tapi ia malah di berikan oleh istri pertama itulah liciknya Bela tanpa di sadari Bram, biasanya istri kedua yang tertindas tapi malah istri kedua yang menindas seperti di drama yang ada di televisi.
Didalam surat perjanjian itu di tuliskan jika setelah anak itu lahir Bram akan menceraikan Desi. Selama anak itu lahir ada beberapa syarat yang akan di ajukan Bram pada Desi. Mungkin bagi Desi itu tidak adil baginya.
" Kenapa harus membuat surat perjanjian kontrak pernikahan?? Pernikahan kita sah di mata hukum.. aku tidak mau?? " Ucap Desi
" Baik, kalau itu keputusan mu.. mulai detik ini aku tidak akan menemui mu lagi, jangan harap anak itu akan bertemu dengan aku.. setelah anak itu lahir lihat saja aku akan segera mengajukan perceraian ku kembali.. bagaimana pun caranya aku pasti menang " ancam Bram
" Kenapa kamu malah mengancam ku.. apa ini semua ada hubungannya dengan wanita murahan itu " ucap Desi marah
" Apa maksudmu.. " ucap Bram dengan tatapan kesal
" Aku punya bukti kalau kamu semalaman tidak pulang karena kamu bersama wanita murahan itu.. ingat Bram aku punya aib mu.. aku akan sebarkan foto itu " ancam Desi balik
" Dari mana Desi dapat foto aku dan Bela?? Apa Bela sengaja mengirimkannya pada Desi.. tapi aku tidak peduli justru bagus untuk ku harusnya dia tidak tahan dan meminta cerai padaku, aku yakin dia tidak akan sampai menyebarkan foto itu " batin Bram
" Siapa wanita murahan itu?? Apa Bela?? Tapi masa ia dia bisa menarik hati Bram secepat itu?? Aku jadi bingung dan penasaran dengan sosok wanita yang ada di dalam foto bersama Bram?? " batin Desi
" Bagus deh, kalau kamu sudah tahu lebih cepat, aku sudah punya wanita yang jauh lebih baik dari kamu.. jadi kamu siap-siap untuk segera pergi dari hidupku, asal kamu tahu aku tidak takut.. justru itu harusnya membuat mu tahu diri " ucap Bram sambil tersenyum jahat
" Kamu mau ancam aku silahkan aku tidak takut sama sekali " ucap Bram langsung menuju kamarnya dan membereskan semua pakaiannya kedalam koper
" Mau kemana kamu Bram?? Aku belum selesai bicara " teriakan Desi
" Karena kamu tidak mau menandatangani surat perjanjian kontrak pernikahannya itu lebih baik aku pergi dan tinggal dengan wanita yang aku cinta.. aku akan segera menikahinya kalau perlu " ancam Bram
Kini Bram berubah jadi jahat pada Desi ia tidak mau kehilangan Bela seperti dia kehilangan Sintia, Bela sudah mengancam dirinya jika Desi tidak mau menandatangani surat perjanjian kontrak pernikahan itu ia akan pergi dari hidupnya. Hal itu ditakuti oleh Bram karena Bram sangat mencintai Bela saat ini.
" Sial, bagaimana ini.. tapi kalau aku tanda tangani surat itu aku akan sangat rugi, bahkan aku di kasih jatah bulanan saja hanya sepuluh juta, tanpa pembantu juga.. masa ia aku harus melakukan pekerjaan rumah sendiri.. tapi kalau masalah itu masih bisa aku hendle juga.. tidur harus terpisah dengan Bram dan jangan mencampuri urusan Bram?? Apa aku sanggup menjalani itu semua " batin Desi
" Ayo cepat tanda-tangani surat perjanjian itu?? Aku tidak mau bela meninggalkan aku " batin Bram
__ADS_1
" Baiklah aku akan menandatangani surat perjanjian ini, tapi dengan beberapa syarat " ucap Desi dengan raut wajah kesal
" Hanya satu syarat " ucap Bram
" Aku mau dua syarat saja.. " ucap Desi dengan wajah sedihnya
" Katakan !! "
" Yang pertama kamu harus pulang setiap malam "
" Tidak bisa, aku hanya bisa pulang ke apartemen ini hanya dua hari dalam seminggu " ucap Bram
" Bram please.. aku sedang mengandung anak mu.. dia juga butuh kamu sebagai ayahnya " ucap Desi menggunakan kata anak agar Bram luluh tapi nyatanya tidak membuat Bram simpati, karena bagi Bram tidak mungkin jika setiap malam bersama dengan Desi sedangkan waktunya bersama Bela tidak ada.
" Kamu terima keputusan ku atau tidak sama sekali... " Uncam Bram membuat Desi dengan terpaksa setuju
" Baiklah, permintaan ku yang kedua adalah kamu harus menemaniku saat mengecek kandungan anak kita " ucap Desi
Mungkin persyaratan Desi bisa ia terima toh bukan tiap hari harus di cek, hanya satu bulan sekali saja. Bela pasti setuju juga karena mengecek kandungan tidak akan membutuhkan waktu seharian pikir Bram.
" Sebelum anak ini lahir aku harus bisa membuat Bram jatuh cinta padaku bagaimana pun caranya, aku harus menyingkirkan wanita murahan itu juga.
" batin Desi
" Akhirnya Besok aku akan menikah dengan Bela karena syarat yang di berikan Bela sudah aku di penuhi... Bela aku benar-benar mencintai mu " batin Bram.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...