Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Kekesalan Teti


__ADS_3

Sang ayah sudah sampai di rumah sakit, ia segera menuju ruangan dimana Bu Mina berada, ia belum tahu jika Bu Mina sudah meninggal.


Ketika ia membuka pintu ruangan itu, disana hanya ada Bela yang terbaring lemah dan disampingnya ada seorang laki-laki yang sudah tidak asing baginya karena laki-laki itu sering di ajak kerumah oleh Sintia menemui dirinya.


" Bram.. "


" Om.. Trisna.. " ucap Bram langsung berdiri


" Loh kenapa kamu ada disini?? " tanya Teti bingung


" Bela pingsan Om.. tante.. Jadi saya menemani Bela di sini ?? "


" Dimana Mina?? " Tanya Trisna


" Bu Mina sudah meninggal Om.. " ucap Bram dengan wajah sedih


" Apa?? " Ucap Trisna kaget sampai memegang jantungnya


" Mina.. maafkan aku selama ini.. " batin Trisna


Ya memang ayah Bela memiliki riwayat jantung sama seperti Bu Mina, namun penyakit jantung yang di derita Trisna bukan penyakit jantung bawaan seperti Mina dan Sintia.


" Mina.. "


" Mas.. kendalikan dirimu.. jangan sampai penyakit mu kambuh lagi " ucap Teti segera memegang tubuh sang suami yang sedang tidak seimbang


" Bagaimana bisa ini terjadi.. kenapa Mina meninggalkan aku.. " ucap Trisna sambil menangis


" Mas.. itu sudah menjadi suratan takdir Tuhan.. mas harus ikhlas menerimanya.. " ucap Teti pura-pura sedih


Bela bangun ketika mendengar suara orang yang ia benci, tangisnya pecah kembali ketika melihat sang ayah menangis di depannya.


" Ayah.. " panggil Bela sambil menangis


" Bela... Maafkan ayah nak " ucap Trisna langsung memeluk putrinya itu


" Ayah, ibu sudah meninggalkan kita sama seperti kak Sintia " lirih Bela


" Kamu harus kuat nak.. mulai sekarang ayah selalu ada untuk mu " ucap ayah menyenangkannya

__ADS_1


" Ish apa-apaan sih Mas Trisna malah berbicara seperti itu.. jangan sampai Bela tinggal bersama ku dan Mas Trisna " batin Teti kesal


Baru kali ini aku mendapatkan pelukan hangat ayah yang sudah lama aku tidak dapatkan, Aku sangat merindukan kasih sayang ayahku yang dulu karena ayahku yang sekarang terlalu sibuk dengan keluarga barunya sehingga melupakan aku, ibu dan kakak.


Aku meluapkan semua kesedihan ku di pelukan sang ayah yang hangat, memeluk erat sang ayah seakan tidak rela jika pelukan itu hilang kembali setelah sekian lama ia rasakan kembali.


" Ayah aku merindukan pelukan mu seperti ini.. rasanya sudah lama sekali ayah tidak memeluk ku seperti ini " batin ku


" Maafkan aku Mina, aku berjanji akan merawat Bela setelah ini.. kamu yang tenang di sana bersama dengan Sintia " batinnya


" Ayah ayo kita melihat ibu.. " ajak Bela


" Tapi Bel keadaan mu masih lemah " ucap Bram


" Aku baik-baik saja Kak.. " ucap Bela


Aku langsung melepaskan infusan yang berada di tanganku, dengan rasa sedih aku turun dari ranjang rumah sakit, tubuhku memang masih lemah hingga aku berdiri pun tidak sanggup, untungnya Bram menangkap tubuh ku yang hendak terjatuh.


" Tunggu disini, aku akan membawakan kursi roda untuk mu " ucap Bram segera pergi ruangan Bela mencari kursi roda


" Kelihatannya Bram peduli sekali padamu.. apa hubungan mu dengan Bram.. setahuku Bram itu sudah punya istri?? kamu harus ingat jangan jadi pelakor dalam rumah tangga orang lain ?? " Cibir Teti


" Lalu bagaimana dengan kelakuan Tante Teti dulu.. pelakor teriak pelakor.. aneh " ucapnya Bela menatap Teti dengan penuh kebencian


" Sudah kalian jangan bertengkar terus, ini bukan saatnya kalian harus bertengkar " ucap Trisna kesal


" Tapi Mas... Lihat anak mu duluan yang sudah menghina aku " ucapnya dengan wajah pura-pura sedih


" Sudahlah Teti.. !! kamu juga yang salah, kamu tidak bisa apa tidak memulai pertengkaran, di saat seperti ini harusnya kamu banyak doakan Mina bukan seperti ini " ucap Trisna marah


" Ok, untuk kali ini kamu bisa menang Bela.. tapi nanti lihat saja aku akan memberikanmu pelajaran " batin Teti


Tak lama kemudian Bram membawakan kursi roda, Bela duduk disana lalu mereka segera menuju kamar jenasah untuk melihat keadaan Bu Mina.


Candra terlihat memeluk Lily yang masih menangis disana, Lily sudah menganggap Bela seperti keluarganya sendiri apalagi beberapa bulan ini Lily lah yang selalu merawat Bu Mina. Ia benar-benar sedih teringat bagaimana ibunya meninggalkan dirinya sewaktu kecil.


" Siapa wanita itu, apa wanita itu orang kaya??, apa keluarganya satu level dengan keluarga ku.. tapi melihat penampilannya seperti wanita biasa-biasa saja?? aku harus cari tahu tentang wanita itu, jangan sampai Candra dekat dengan wanita miskin " batin Teti


" Ly.. " panggil Bela

__ADS_1


" Bela bagaimana keadaan mu?? " ucap Lily melepaskan pelukan Candra


Candra kaget ketika mendapatkan tatapan tajam dari sang ibu, seolah sebentar lagi sang ibu akan mengintrogasi dirinya karena sudah memeluk seorang wanita.


" Aku baik-baik saja Ly " ucap Bela dengan wajah pucat


" Candra bagaimana proses administrasi jenazah Bu Mina ?? " Tanya Trisna


" Administrasi ibu sudah selesai, setelah di mandikan kita bisa segera membawa ibu ke rumah Bela " ucapnya


" Sejak kapan kamu panggil Mina dengan sebutan ibu ?? Lalu aku ini siapa?? " Tanya Teti dengan nada marah


" Kamu ini gimana sih.. apa-apa jadi masalah, hal sepele saja jadi masalah.. aku heran padamu, biasa tidak kamu diam saja dan tak banyak bicara untuk saat ini " ucap Trisna semakin marah


" Apa-apaan sih Mas Trisna dari tadi marah-marah terus padaku.. apa salahku coba?? Mina kamu masih hidup sampai sekarang sudah mati saja selalu membuatku kesal, tidak bisakah mereka tidak menyebut nama Mina terus.. " batin Teti


" Bagaimana rasanya di marahin oleh ayah ku.. rasakan tuh.. dasar ibu tiri yang kejam disaat seperti ini dia selalu saja bertingkah " batin Bela


" Maaf mas.. "


" Oh ia ayah, Candra sudah menyuruh orang untuk menyiapkan pemakaian ibu hari ini juga.. "


" Kerja bagus, kamu memang bisa di andalkan.. terima kasih Candra "


" Sama-sama ayah, aku juga sudah menganggap Ibu Mina seperti ibuku sendiri ayah tenang saja " ucap Candra tentu membuat Teti marah namun ia berusaha mencoba menahannya


" Sial, kamu itu anak siapa sih Candra sebenarnya, kenapa kamu malah menganggap Mina seperti ibumu sendiri.. kalian memang selalu apa-apa Mina, membuatku kesal saja " batin Teti


" Kasihan Bela ternyata dia punya ibu tiri sangat kejam seperti Bu Teti ini, aku harus pura-pura menganggap Bela seperti adik ku untuk saat ini, aku takut Bu Teti curiga dan memberitahukan hal ini pada Mamah, aku harus bisa melindungi Bela " batin Bram


Tak lama kemudian proses pemandian jenazah sudah selesai, jenasah Bu Mina kini sudah di masukan kedalam ambulan untuk di bawa ke rumahnya.


Bela, Lily, Bram dan Candra segera masuk kedalam mobil ambulance, sementara ayah dan ibu tirinya masuk ke dalam mobil mereka. Sepanjang perjalanan Bela manatap keranda sang ibu dengan tatapan sedih namun air matanya ia tahan.


" Bu... Maafkan Bela belum bisa jadi anak yang bisa ibu banggakan.. maafkan Bela untuk semua kesalaan Bela.. ibu tunggu Bela disana.. nanti kita akan bertemu lagi dan berkumpul dengan Kak Sintia " batin Bela


Bram memegang tangan Bela untuk menguatkan istrinya itu, Lily tak banyak bicara dengan sikap Bram pada Bela karena memang ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. Sedangkan Candra ia duduk di depan mobil jadi dia tidak memerhatikan sikap Bram pada Bela.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2