
Bram dan Bela sudah berada di dalam mobil, tampak Bram masih marah dan kesal dengan ucapan Desi dan ibunya yang telah menghina wanita yang ia cintai.
" Bagus, kalian semua bertengkar karena aku, tapi yang lebih membuat ku bahagia adalah Bram tetap membelaku.. Desi Desi kasihan sekali hidup mu, laki-laki yang kamu sangat cintai malah membela wanita lain di depan matamu sendiri.. kamu sudah tidak berarti lagi di mata Bram.. teruslah bertahan hingga hatimu benar-benar hancur.. kalian itu terlalu bodoh jika harus melawanku sekarang " batin Bela
" Mamah dan Desi membuatku emosi saja, tidak ada yang boleh menghina Bela siapapun juga.. Berani menghina Bela sama dengan menghinaku juga " batin Bram
" Kak.. harusnya kakak jangan seperti itu,, emosi Desi sedang labil wajar jika dia marah seperti itu padaku, aku tidak apa-apa ko.. lagian kakak jangan bersikap berlebihan seperti itu lagi ya.. kasihan Desi " ucap Bela
" Wajar kamu bilang??, tidak ada yang boleh menghina orang yang aku cintai.. apalagi Desi karena kamu sangat penting untuk ku Bel.. mereka tidak boleh merendahkan mu " ucap Bram
" Bram kamu udah terperangkap dengan permainan ku, sepertinya memang kamu sangat mencintai ku bisa di lihat dengan wajah Marah mu sekarang.. ini bisa aku manfaatkan.. kamu itu salah mencintai orang Bram.. aku tidak sebaik yang kamu kira.. kehancuran mu kebahagiaan untuk ku " batin Bela
" Aku tidak suka mereka menghinamu, siapapun yang menghina mu akan berurusan dengan ku.. aku akan melindungi mu sampai kapanpun " batin Bram
" Terima kasih kak sudah membelaku.. " ucap Bela sambil tersenyum
" Kamu tenang saja.. sampai kapanpun aku akan membelamu.. karena kamu orang yang pantas aku perjuangkan.. siapapun yang menyakiti mu akan berhadapan langsung dengan ku " ucap Bram sambil tersenyum
" Tapi kenapa Kakak tidak marah ketika Desi tadi mencium pipi kakak?? Kakak bilang begitu tapi kenyataannya suka di cium-cium Desi.. " ucap Bela kesal
" Sayang, Aku hanya ingin melihat reaksi kamu saja.. tidak ada yang lain sumpah.. habisnya kamu malah menyuruh suamimu sendiri menyuapi wanita lain.. membuatku kesal saja.. jangan lakukan itu lagi.. aku tidak suka " ucap Bram
" Ia kak.. sebenarnya aku juga tidak mau kakak di cium wanita lain, aku hanya tidak mau Desi curiga pada kita kak... " ucap Bela
" Kamu tenang saja. Hatiku hanya untuk mu.. disini sudah tertulis nama mu sayang.. tidak ada satu orangpun wanita yang bisa menggantikan kamu di hatiku " ucap Bram memegang tangan Bela lalu ia tempelkan kedadanya.
" Ia kak.. aku percaya pada kakak.. "
" Teruslah mencintai ku Bram.. semakin kamu mencintai ku semakin aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidup mu.. " batin Bela
__ADS_1
" Aku sangat mencintaimu Bela sampai kapanpun " batin Bram
Mereka segera menuju kantor, ada beberapa pekerjaan yang harus mereka selesaikan, apalagi Bram kemarin tidak pergi kantor, pekerjaannya kini numpuk sekali.
Tampak handphone Bram berdering terus-menerus bisa Bram tebak jika yang meneleponnya adalah sang ibu atau Desi, mereka pasti akan menangis dan minta untuk kembali ke rumah sakit.
Hal itu tidak di gubris oleh Bram ia fokus pada pekerjaannya karena ia ingin pulang lebih awal, menghabiskan waktu bersama dengan Bela nanti di apartemennya.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain Desi tampak menangis, ia benar-benar sedih dengan apa yang di katakan suaminya itu, ia menangis di pelukan sang ibu mertua.
" Bram kenapa kamu jahat sekali sama aku " batin Desi
" Mah.. bagaimana ini.. Bram marah besar padaku ??, Aku tidak mau kehilangan Bram " ucap Desi masih menangis
" Kamu harus tenang, nanti mamah akan bujuk Bram lagi.. dia paling nurut sama mamah, mamah yakin bisa mamah bujuk Bram lagi karena dia tidak tega melihat mamah sedih "
" Mamah yakin bisa membuat Bram tidak marah lagi padaku?? "
" Yakin nak.. asalkan kamu cepat pulih.. Jangan menangis lagi.. setelah kamu sembuh nanti kita bisa makan siang bersama di kantor Bram lagi.. kamu harus terus mendekati Bram.. " bujuk sang mertua
" Apa Bram suka pada Bela?? " Tanya Desi ia sebenarnya hanya menduga-duga saja karena sedari tadi Bram tampak selalu melindungi Bela.
" Kamu ini bicara apa nak, jangan berkata yang tidak-tidak.. mana mungkin Bram suka sama Dia.. lebih cantik kamu di banding wanita itu.. mamah yakin Bram lakuin itu karena ia merasa bersalah saja pada Bela karena kakaknya yang sudah meninggal " ucap Bu Jeni
__ADS_1
" Maksudnya Mamah kalau sikap Bram yang selalu baik pada Bela selama ini hanya karena dia berasa bersalah.. bukan karena Bram suka sama Bela ?? "
" Betul nak.. biar bagaimanapun Bram sayang pada Sintia tidak mungkin Bram dengan mudah berpaling ke lain hati apalagi sama adiknya Sintia.. itu bukan cinta hanya rasa kasihan " ucap Bu Jeni masih memeluk menantunya dengan erat
" Mamah benar, aku selama ini hanya salah paham saja pada Bram, aku tidak berpikiran seperti yang mamah katakan.. aku sekarang lebih lega... " ucap Desi menghapus air matanya
" Kamu harus semangat untuk cepat sembuh agar kamu bisa mendekati lagi Bram, jangan sampai Bela malah mendekati Bram.. jangan biarkan celah untuk wanita lain mendekati suami mu " ucap Bu Jeni memberikan semangat pada menantunya itu
" Ia mah.. mamah harus terus dukung aku.. hanya mamah yang bisa meluluhkan hati Bram.. " ucap Desi
" Kamu tenang saja.. mamah akan selalu berada di pihak mu.. mamah akan terus mendukung mu agar bersama dengan Bram.. Mamah juga akan membuat kamu dan Bram jadi keluarga kecil yang bahagia " ucap Bu Jeni memeluk Desi
" Terima kasih mah.. "
" Sama-sama nak.. jangan ada air mata lagi ya nak.. ingat kondisi mu "
" Baik mah.. " ucap Desi langsung tersenyum
Desi senang di saat dia terpuruk seperti ini ada dukungan sang mertua yang selalu menguatkan hatinya, ia yakin jika dukungan ini bisa membawa hubungan antara dia dan Bram kembali bersama apalagi sudah tumbuh anak dalam kandungan Desi.
Desi kembali tersenyum bersama sang mertua, ia langsung minum obat dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat, ia bersemangat untuk memulihkan kondisinya seperti apa yang sang mertua ucapkan barusan.
" Tidak ada yang boleh memiliki Bram selain aku.. bagaimana caranya " batin Desi
" Syukurlah Desi lebih tenang sekarang.. tinggal aku membujuk Bram supaya dia bisa lebih baik memperlakukan Desi " batin Bu Jeni
.
.
__ADS_1
Bersambung...