
Bram sudah sampai di apartemen miliknya yang di huni oleh Desi, dengan perasaan kesal ia segera membuka pintu apartemennya. Ia merasa heran kenapa bisa rumahnya begitu bersih seperti Desi ahli membersihkan rumah padahal ia hanya anak manja yang tidak tahu apa-apa.
" Bram sayang kamu sudah pulang.. " tanya Desi senang karena suaminya itu sudah pulang meskipun ini tengah malam
" Siapkan aku air hangat.. aku mau mandi " ucap Bram berbohong padahal ia tidak ingin mandi ia hanya ingin membuat Desi kesal saja.
" Baik sayang " ucap Desi segera menuju kamar mandi lalu mengatur air dalam bak mandi untuk suaminya mandi.
Setelah selesai ia segera menghampiri Bram yang sedari tadi sedang mengutak-atik handphonenya sambil senyum-senyum sendiri, entah dengan siapa ia berkirim pesan yang jelas kalian juga sudha tahu jika yang sekarang Bram hubungi adalah Bela.
" Kenapa Bram senyum-senyum sendiri.. sedang apa dia?? Seperti orang yang sedang jatuh cinta saja, apa dia sedang membalas pesan dari wanita lain?? tapi kamu harus sabar Desi jangan sampai Bram pergi lagi.. kamu harus buat Bram betah di rumah " batin Desi
" Sayang, airnya sudah siap " ucap Desi sambil tersenyum
" Baiklah " ucap Bram langsung menyimpan handphone di atas meja membuat Desi terdiam dan penasaran dengan apa yang membuat Bram sampai senyum-senyum begitu.
Bram memang sengaja menyimpan handphone di atas meja ia ingin membuat Desi marah memang ini rencananya dengan Bela, ia segera menuju kamar mandi sedangkan Desi masih terdiam di depan handphone milik Bram.
" Aku buka saja handphone toh Bram kan suamiku.. jadi tidak ada salahnya " ucap Desi langsung memegang handphone milik suaminya itu.
Ketika handphone itu belum Desi buka ternyata sebuah pesan masuk, pesan itu begitu mesra menanyakan bahkan menyebut Bram suami ku, Desi tidak percaya jika Bram menikah lagi ia mengira jika wanita itu hanya menggoda bram saja, ia segera mencatat nomor handphone wanita yang mengirim pesan pada Bram, ia sendiri yang akan memperingatkan wanita itu agar tidak mendekati suaminya itu.
Tapi ketika ia sudah mencatat nomor handphone itu suara terikaan dari dalam kamar mandi malam membuatnya kaget.
" Desi... " Teriakan Bram
" Ia sayang " ucap Desi meletakan kembali handphone milik Bram dan segera menghampirinya
" Dasar jadi istri tidak becus.. kamu menyiapkan air hangat atau air dingin.. ini terlalu dingin.. " bentak Bram
" Sebentar aku tambah air hangatnya lagi " ucap Desi langsung menyalakan kran air hangat
" Apa ini sudah cukup " tanya Desi
" Kamu itu bodoh?? masa yang begini saja harus tanya padaku.. dasar istri tidak berguna harusnya kamu seperti layaknya seorang istri yang bisa melayani suami dalam segala hal.. sial aku dapat istri seperti kamu " ucap Bram sungguh membuat sakit hati yang mendengar tapi Desi mencoba untuk lebih bersabar agar bisa mendapatkan hatinya Bram
" Maafkan aku Bram, aku belum bisa jadi istri yang baik " ucap Desi dengan nada sedih
" Jangan pura-pura sedih, kamu harus bisa jadi istri yang baik kalau masih mau jadi istriku atau aku akan cari istri lagi yang lebih bisa jadi istri yang baik untuk ku " ancam Bram
" Kenapa kamu bicara begitu Bram sama aku, padahal aku begitu sangat mencintai mu, tapi aku tidak akan menyerah sampai kapanpun?? aku bisa jadi istri yang baik untuk mu " batin Desi
__ADS_1
" Lama-lama aku bisa gila dekat dengan kamu Desi, benar-benar Bela yang terbaik untuk ku saat ini, dia beda sekali dengan Desi.. aku jadi semakin merindukannya " batin Bram
" Airnya kurang panas " bentak Bram
" Tapi Bram ini air hangatnya sudah banyak, nanti akan terlalu panas dan melukai kulit mu "
" Kalau begitu kamu cek sendiri " ucap Bram menarik tangan Desi kedalam bak mandi lalu kran air panasnya ia putar dan bak mandi pun terasa sangat panas karena memang air panasnya terlalu banyak.
" Aw Bram.. airnya terlalu panas.. tanganku sakit " teriakan Desi
Sesaat kemudian Bram melepaskan tangan Desi karena Desi berisik dan menjerit-jerit kesakitan, ia segera menghampiri Desi dan berbisik " Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang sudah kamu lakukan di hidupku.. mulai hari ini biasakan rasa sakit itu " ucap Bram langsung meninggalkan Desi di kamar mandi
Untuk kali ini Desi menangis meratapi nasibnya karena Bram semakin kejam padanya, entah kenapa sikap Bram kini berubah bukan seperti Bram yang ia kenal lagi. Tapi ia akan terus bertahan ia tidak akan melepaskan Bram sampai kapanpun.
Penderitan Desi tak cuma itu, Bram berteriak lagi memanggil nama Desi hingga yang di panggil pun segera menghampirinya.
" Ada apa Bram.. bisakan kamu jangan teriak-teriak ini tengah malam " ucap Desi membuat Bram menatap tajam padanya
" Suka-suka aku, ini rumah ku jika kamu tidak suka disini pergi sana.. aku tidak membutuhkan mu disini, istri tidak becus seperti mu " ucap Bram
Lagi dan lagi ucapan Bram sungguh membuat hati Desi sakit apalagi perasaan ibu hamil begitu sensitif seperti kebanyakan orang, ibu hamil itu maunya di manja-manja tapi berbeda cerita dengan Desi.
" Ada Apa kamu memanggilku Bram " ucap Desi menahan emosinya
" Baiklah tunggu sebentar " ucap Desi langsung menuju dapur dan membuka pintu kulkasnya, ia bingung mau membuat masakan apa meskipun bahan makanan banyak tapi dia tidak tahu cara memasak
" Ingat harus enak " cibir Bram
" Kamu mau di masakin apa?? " tanya Desi
" Terserah asal makanan mu enak, awas saja jika makanannya tidak enak " ancam Bram
Ia mulai membuat nasi goreng sambil melihat cara memasak pada handphone canggihnya, Bram tampak memperhatikan dari kejauhan ia tidak mau jika Desi sampai-sampai meracuninya.
Tak lama kemudian Nasi goreng sudah Desi siapkan kali ini dengan senyuman mengembang di wajahnya tak lupa keringat juga bercucuran di wajahnya karena ini baru pertama kali ia memasak.
" Silahkan di coba suamiku " ucapnya sambil tersenyum
" Jangan terlalu percaya diri, belum tentu masakanmu enak, lagiannya aku heran kenapa harus membuat nasi goreng dari sekian banyaknya makanan.. ini itu tengah malam bukan pagi-pagi.. ganti aku ga mau makan itu " ucap Bram tidak menyentuh nasi goreng sama sekali
" Tapi Bram, kenapa kamu tidak cobain sedikit saja " tanya Desi
__ADS_1
" Kamu cobain sendiri.. makan ayo " ucap Bram
Dengan kesal Desi segera memakan nasi goreng buatannya ia susah menelannya karena ternyata rasanya asin untung saja Bram tidak memakannya kalau sampai memakannya pasti dia akan marah-marah.
" Enak.. " bentak Bram yang di balas hanya senyuman oleh Desi
Bram menduga jika makanan itu pasti tidak enak terlihat dari ekspresi wajah Desi " Ganti, aku tidak mau makan itu rasanya pasti enak " cibir Bram
" Bram benar, rasanya benar-benar tidak enak.. untung Bram tidak coba kalau di cobain pasti dia semakin marah padaku " batin Desi
" Bisa-bisa aku sakit perut dan masuk ruang UGD memakan makanan itu?? " batin Bram
Desi dengan menahan ngantuknya memasak Mie, itu yang paling gampang saat ini karena tubuhnya lelah palagi kini ia sudah merasakan ngantuk.
Ia menghidangkan mie rebus itu kedepan wajah Bram, ia benar-benar ngantuk sekali tapi masih bisa ia tahan.
" Silahkan suamiku " ucap Desi
" Mie instan?? Ini makanan yang tidak sehat kamu mau meracuniku?? Benar-benar tidak ada satu pun yang becus kamu lakukan.. sungguh mengecewakan, kamu makan ini sampai habis, ingat sampai habis karena aku mau tidur " ucap Bram langsung masuk kedalam kamarnya lalu mengunci pintunya.
Pengorbanan Desi ternyata sia-sia, dia bahkan menahan ngantuk tapi tidak sedikitpun Bram cicipi masakannya. Tapi Desi tidak boleh marah, ia ingat kata mertuanya jika ingin mendapatkan Bram kita harus lebih banyak bersabar.
Ia kembali ke kamar, ia sengaja meminta ijin pada Bram untuk tidur di kamarnya karena ia beralasan jika kamar tamu sedang di perbaiki, sebenarnya itu hanya alasan saja karena ia tidak mau tidur terpisah dengan Bram tapi kini pintu kamar Bram sudah di kunci.
Tok... Tok... Tok..
" Bram, buka pintunya aku mau tidur " ucap Desi
" Tidur saja di kamar tamu " terikaan Bram dari dalam kamar
" Bram aku tadi sudah bilang sama kamu kalau kamar tamu sedang di renovasi " ucap Desi
" Kalau begitu tidur di sofa atau di karpet atau di mana pun saja terserah, asalkan jangan di kamarku.. kalau kamu sudah bisa membuat masakan seluruh dunia baru aku injinkan kamu tidur di kamar ku "
Desi langsung duduk di sofa, ia membaringkan tubuhnya disana dengan wajah meneteskan air matanya, Bram kali ini benar-benar menguras tenaga dan kesabarannya tapi ia tidak mau jika ia marah Bram malah tidak pulang dan menemui dirinya lagi dengan terpaksa dari tadi ia memilih diam.
" Bram.. Bram... " batin Desi sedih
.
.
__ADS_1
Bersambung...