
Kini Deon sudah sampai di kantor, ia segera menuju ruangan Bram berada meskipun ia wajahnya panik namun ia mencoba tetap bersikap tenang agar bisa mencari alasan untuk menjelaskan kenapa bisa Desi lolos dari semua orang, padahal Kemarin Deon mengatakan pada semua karyawan jika Desi tidak di perbolehkan masuk kedalam kantor ini.
Ketika ia membuka pintu ruangan Bram, terlihat seseorang yang sedang mengutak-atik laptop dan dua keamanan yang tadi sudah mengusir Desi dari kantor ini.
" Bram sepertinya marah sekali padaku, bisa gawat ini " batin Deon
" Siang Tuan Bram.. " ucap Deon sambil menanggukan kepalanya
" Masuk.. "
Wajah Bram memang terlihat marah, ia juga kesal dengan apa yang terjadi barusan, entah karena kehadiran Desi atau karena Bela dan Deon makan siang bersama.
" Kamu tahu, apa kesalahan mu..?? " bentak Bram
" Ia, aku tahu.. ini semua pasti karena Desi, tapi sumpah aku sudah memerintahkan semua pihak keamanan di kantor ini untuk mengusir Desi jika dia kembali ke kantor ini " ucapnya sambil berlutut
" Tuan, ternyata Nona Desi menyamar menjadi pengantar makanan, dia memakai rambut palsu dan masker hingga pihak keamanan tidak mengenalinya " ucap seseorang yang sedang melihat cctv
" Tuan, maafkan kami.. kami tidak menyangka jika itu Nona Desi.. kami minta maaf Tuan " ucap Mereka berlutut sama seperti yang di lakukan Deon
" Untuk kali ini, saya akan memaafkan kesalahan kalian, tapi lain kali kalau sampai ini terjadi lagi.. kalian saya langsung pecat, termasuk kamu Deon.. " ancam Deon
" Baik Tuan, terima kasih " ucap Mereka masih berlutut di hadapan Bram
" Bagun, dan kembali bekerja kecuali kau Deon " titiah Bram
" Baik Tuan " ucap Kedua keamanan di sana
" Dan Kamu... Awasi terus cctv, kalau ada gerak-gerik yang mencurigakan segera hubungi aku atau Deon " ucap Bram
" Baik Tuan "
__ADS_1
" Kalau begitu kembali bekerja "
" Baik Tuan, saya permisi " ucapnya segera meninggalkan ruangan Bram.
Bram kembali duduk di kursinya, sedangkan Deon masih berlutut memohon pengampunan Bram saat ini, ia sadar jika dalam hal ini ia salah, mungkin karena ia tidak menyangka jika Desi bisa mengelabui Dia. Deon harus memperbaiki sistem keamanan untuklebih ketat lagi.
" Tuan Bram.... " Ucap Deon dengan nada memelas
" Kamu memang perlu berolahraga karena kamu enak-enakan makan siang sementara aku kelaparan " ucap Bram dengan nada sinis
" Ish, haruskan aku berlutut terus karena aku makan siang bersama dengan Bela?? Tapi kenapa Bram begitu tega padaku.. ini tidak adil bagiku?? hukuman berlutut yang aku terima tapi makan siang juga belum karena kami hanya minum saja, dan ini semua gara-gara Desi dan Bram " batin Deon
" Bram, aku tidak makan siang dengan Bela.. karena saat aku mau pesan makan kamu langsung menelepon dan mengancam ku " ucap sinis Deon
" Bohong?? "
" Kamu ga percaya padaku, silahkan telepon Bela dan tanyakan sendiri padanya "
" Mau aku jawab.. tapi aku pegal jika berlutut terus "
" Ya sudah kamu duduk di depanku " ucap Bram karena rasa marahnya malah besar dengan rasa penasarannya
Deon duduk di depan Bram, ia mulai menceritakan apa yang Dia dan Bela lakukan saat mau makan siang. ia juga menceritakan bagaimana mereka asik mengobrol satu sama lain hingga akhirnya telepon itu berdering dan dia harus pergi ke kantor meninggalkan Bela di sana.
" Apa Bela masih di restoran?? Haruskah aku menghampirinya atau aku telepon dia " batin Bram
" Bela apa kamu masih di restoran?? Atau sudah pulang.. ini semua gara-gara permasalahan Bram dan Desi " batin Deon
Bram melihat wajah Deon, banyak pertanyaan yang ada di pikirannya, ia takut jika kedekatan mereka barusan membuat Deon menyukai Bela, apalagi sifat Bela yang baik dan polos pasti banyak laki-laki juga yang menyukai Bela.
" Deon, bagaimana pendapat mu tentang Bela " tanya Bram
__ADS_1
" Bela orangnya baik, dia juga asik di ajak ngobrol.. aku kira dia menyukai aku " ucap Deon dengan percaya dirinya
" Jangan ngaco kamu, kepedean sekali mana mungkin Bela suka sama kamu.. jangan mimpi " ucap Bram dengan nada kesal
" Ada apa dengan mu Bram, kenapa kamu malah bicara seperti itu, harusnya kamu beritahu Deon kalau bela menyukainya " batin Bram
" Habisnya Bela bertanya apa aku sudah punya pacar atau belum?? Aku berpikir dia sedang memastikan jika aku tidak berhubungan dengan siapa-siapa " ucap Deon
" Kamu itu baru di beri pertanyaan seperti itu sudah pikirannya kemana-mana.. kamu tahu itu pertanyaan yang umum dan sering di tanyakan pada lelaki jomblo, dia hanya ingin menyindir kamu " ucap Bram masih dengan nada sinis.
" Astaga aku ini kenapa sih.. kenapa aku bisa-bisanya berkata seperti itu pada Deon,, Bram ada apa dengan mu?? " batin Bram tidak mengerti dengan hatinya
" Kamu benar juga, apa aku harus bertanya pada Bela, apa dia menyukaiku atau tidak ?? " Tanya Deon
" Jangan!! "
" Kenapa?? Jangan bilang kalau kamu suka sama Bela?? " ucap Deon heran dengan sikap Bram sekarang
" Jangan bercanda, aku menganggap Bela sebagai adikku tidak lebih.. kamu jangan bicara ngaco " ucap Bram sambil menggerukkan kepalanya yang tidak gatal
" Bagus deh kalau kamu tidak suka Bela karena mulai hari ini aku ingin mendekati Bela tanpa ada saingan apalagi seperti mu " ucap Deon
" Silahkan dekati Bela.. aku tidak apa-apa ko " ucap Bram
" Baiklah, terima kasih Bram.. pokonya kamu harus bantu aku dekati Bela.. " pinta Deon
" Baiklah "
.
.
__ADS_1
Bersambung...