
Bram ingat akan janjinya pada Bela, ia melihat jam yang ada di tangannya sudah menunjukan pukul tujuh malam, belum terlambat untuk Bram membelikan makan malam untuk di makan bersama dengan Bela. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Bela yang sempat renggang karena ulah sang ibu dan Desi.
" Aku pulang duluan " pamit Bram pada asistennya itu
" Tapi Bram, ini belum selesai?? " protes Deon
" Kamu selesai pekerjaan ku, nanti aku berikan bonus untuk mu " ucapnya langsung pergi dari kantornya
Sedangkan Deon tampak lesu dan lelah nabisnya sebagai asisten pasti seperti ini dari dulu, tapi demi kebutuhan adik-adiknya kuliah ia rela lembuh tanpa mengenal lelah " ini demi biaya kuliah kalian, ayo semangat Deon " ucapnya menyemangati diri sendiri.
Sedangkan Bram pergi untuk membelikan makanan martabak telur kesukaan bela sebelum ia pergi, kerumah sakit, ia sedikit tahu tentang kesukaan Bela dari Sintia dulu yang sering menceritakan tentang adik kesayangannya yaitu bela. Sintia juga sering memberikan Bela martabak telur di tempat langganan yang mereka suka beli.
Setelah membelikan martabak itu, Bram langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan bersemangat, entah mengapa sekarang yang ada di pikirannya hanya Bela, ia masih khawatir dengan kejadian tadi pagi menimpa Bela.
Kini ia sudah sampai di ruangan Bu Mina, bodyguard membiarkan Bram masuk sesuai dengan perintah dari Bela, sementara Bela sendiri ia sedang sholat dan berdoa pada Allah, ia meminta pada sang pencipta untuk segera menyembuhkan sang ibu.
" Bela ternyata rajin Sholat sama seperti Sintia.. kenapa aku merasa hampir semua sifat Sintia ada dalam diri Bela.. ada apa denganku... Aku tidak boleh mengaggap Bela sebagai pengganti Sintia.. aku hanya menganggap Bela sebagai adikku sendiri " batin Bram
Bela tidak tahu kehadiran Bram yang sudah duduk di kursi yang ada disana. Ia kaget ketika ia susah selesai sholat melihat sosok Bram disana. Bela segera menghampirinya sambil tersenyum.
" Kak Bram ngapain disini malam-malam " tanya Bela sambil tersenyum
" Nih aku bawakan makanan kesukaan mu " memberikan plastik berisi martabak telur
" Wah martabak telur.. terima kasih ya kak, kakak tahu saja makanan kesukaan ku.. dulu kak Sintia yang selalu membawakan aku makanan ini " ucap Bela sedih sambil melihat makanan di depannya
" Astaga Bela tidak baik sedih di depan makanan, nanti makanannya sedih.. sebaiknya kamu cobain dulu makanannya " ucap Bram sambil tersenyum
" Ia kak " ucap Bela memakan satu sendok martabak telur itu, tak terasa air matanya menetes ia benar-benar kangen pada sosok sang kakak saat ini.
" Kak, aku rindu kakak.. " batin Bela
" Aku tahu pasti Bela merindukan Sintia, aku juga merindukan mu Sintia.. " batin Bram
" Bagaimana enak " tanya Bram mengalihkan rasa sedih Bela
" Enak, seperti yang selalu kak Sintia beli " ucap Bela masih dengan nada sedih
" Karena dulu aku sering mengantar Sintia membeli martabak ini untuk mu, jadi aku tahu di mana termpatnya.. " ucap Bram
__ADS_1
" Terima kasih ya kak, kakak masih perhatian padaku padahal kak Sintia sudah tidak ada "
" Kenapa aku malah membuat Bela semakin sedih, ah kenapa aku harus mengucapkan kata Sintia, Bela jadi sedih setelah mendengar hal itu.. " batin Bram
" Aku sudah pernah bilang jika aku akan menganggap mu sebagai adikku jadi kamu tidak usah sungkan padaku.. aku pasti akan membantu mu " ucap Bram
" Ini langkah yang bagus untuk terus mendekati Bram.. tenang kak selangkah demi selangkah aku akan membalaskan dendam kakak, aku akan menghancurkan Bram dan keluarganya " batin Bela
" Apa Kak Bram mau membatu aku menyusun skripsi, sudah beberapa Minggu ini aku tidak masuk kulaih semenjak kak Sintia meninggal.. aku sibuk harus ke cafe dan menjaga ibu jadi aku belum menyelesaikan skripsi ku.. " ucap Bela sambil tersenyum
" Apa jurusan kuliah mu " tanya Bram
" Jurusanku sama dengan jurusan yang kakak ambil sewaktu kuliah dulu jadi kakak bisa mengajariku "
" Baiklah aku akan mengajarimu nanti, aku terkenal dengan nilai bagus di kampus jadi kamu tidak usah khawatir nilai skripsi mu jelek " ucap Bram dengan bangganya membuat Bela tertawa.
" Apa sih Bram, aku juga mahasiswa berprestasi kali, nilai-nilai ku bagus-bagus tidak perlu sombong seperti itu, aku hanya bicara seperti itu karena ingin membuat mu dekat dengan ku dan tidak ada waktu untuk Desi istri mu " batin Bela
" Terima kasih kak.. kakak memang baik orangnya, aku jadi lega sekarang meskipun sudah tidak ada ka Sintia tapi ada kakak yang bantu aku " ucap Bela
" Aku sudah bilang kamu jangan sungkan, kalau butuh bantuan apapun aku pasti akan membantu mu sebisaku " ucap Bram sambil tersenyum
Mereka memakan kembali makanan itu sambil mengobrol dan sedikit bercanda, Bram menceritakan sewaktu dia kuliah dulu, bagaimana dia jadi murid berprestasi di kampus dulu. Mereka tampak nyaman satu sama lain dalam obrolannya, tiba-tiba dering handphone Bram berbunyi tanda seseorang sedang menghubunginya siapa lagi kalau bukan istrinya yang sedang gelisah karena dari tadi pagi tidak mengangkat teleponnya.
" Kenapa ga di angkat teleponnya kak.. pasti dari istri kakak.. lebih baik angkat saja, siapa tahu penting " ucap Bela sambil tersenyum
" Biarkan saja, aku malas berbicara dengan dia " ucap Bram
" Tapi kak, suara handphonenya berbunyi terus berisik, kasian ibu " ucap Bela
" Baiklah aku angkat dulu teleponnya.. " ucap Bram
" Aku ambilkan minum untuk kak Bram ya "
" Terima kasih Bela " ucapnya langsung mengangkat teleponnya di luar ruangan Bu Mina
" Itu pasti dari Desi, aku kerjain ah.. bikin hatinya panas dingin karena tahu Bram sedang bersama dengan ku " batin Bela
Dengan nada marah Bram langsung mengangkat teleponnya dengan nada sinis tentunya. " Mau apa lagi sih kamu telepon aku terus.. aku sudah bilang kalau aku tidak mau bertemu dengan mu lagi.. proses perceraian kita akan terus berjalan "
__ADS_1
" Bram, aku mohon pulang dulu, kita harus bicara.. aku ga mau bercerai dari kamu "
Sebenernya dari tadi bela menguping pembicaraan mereka Bram dengan istrinya itu, ia senang karena ternyata Bram memang sudah mengajukan perceraian ternyata tidak mudah memisahkan mereka, jadi bela tidak perlu capek-capek mendekati Bram.
" Kak Bram, ini kopinya sudah jadi " ucap Bela membuat Bram langsung melihat kearah Bela
" Baiklah, terima kasih Bel " ucapnya sambil tersenyum lalu kembali lagi berbicara dengan Desi dengan nada marah sedangkan berbicara dengan Bela dengan nada lembut membuat Desi terpancing emosi kembali.
" Aku ga peduli, sekalipun kamu tidak setuju dengan perceraian itu aku tidak peduli yang aku mau bercerai dari kamu " ucap Bram langsung menutup teleponnya
Bram kembali masuk kedalam ruangan Bu Mina, ia heran pada Bela karena dia tidak memesan kopi sama sekali tapi dia juga tidak enak menolak kopi yang sudah Bela buatkan itu.
" Terima kasih sebelumnya bel, tapi kamu ga usah repot-repot membuatkan aku kopi " ucap Bram
" Kak Bram tidak suka kopi ya "
" Bukan begitu bel, aku hanya tidak mau merepotkan mu.. kamu sudah repot dengan semua kegiatan mu.. harusnya kamu banyak istirahat "
" Ini tidak masalah ko kak, lagian ini kopi aku bawa dari Cafe, ini resep terbaru yang aku ciptakan sendiri semoga kakak suka ya.. ayo di minum " ucap Bela sambil tersenyum
Bram langsung meminum kopi itu, dia benar-benar senang karena kopi yang di buatkan Bela sangat enak, dia baru tahu jika Bela jago juga meracik Kopi semakin bertambah kekaguman Bram pada Bela.
" Bagaimana Enak.. " tanya Bela penasaran karena memang Bram orang pertama yang mencoba kopi racikannya.
" Em.. sangat enak.. lain kali buatkan aku lagi ya "
" Serius kak enak "
" Serius.. aku suka kopinya "
" Yes, aku berhasil.. terima kasih ya kak sudah mau cobaik kopi buatan ku " ucap Bela senang
" Harusnya aku yang berterima kasih padamu Bel.. " ucap Bram meneguk kembali kopi buatan Bela
" Ternyata Bram asik juga orangnya.. lumayan lah bisa akrab dengan dia " batin Bela
" Bela.. bela.. " batin Bram
Bersambung...
__ADS_1