
Kini wajah Desi pucat ia tidak menyangka jika ini adalah rencana wanita yang ada di hadapannya agar membuat Bram marah padanya ia harus membalas perbuatan Bela, namun yang lebih penting sekarang adalah bagaimana cara Desi menjelaskan pada Bram jika ia menampar Bela karena Bela yang mulai menghinanya tapi apa Bram akan percaya padanya. sial harusnya di ayang jadi korban agar Bram lebih dekat dan peduli padanya. Tapi kenyataannya dia yang sekarang terlihat jahat di mata Bram.
" Sial, Kenapa harus Bram lihat aku menampar Bela, aku harus bagaimana sekarang Bram pasti sangat marah padaku, dia memang wanita ular.. aku terlalu mengagap remeh Bela " batin Desi bingung
" Bagus Bela, ini kesempatan bagus untuk terus mendekati Bram dan membuat Bram menceraikan Desi, akan ku bongkar topeng yang Desi pakai, akan aku buat Bram sangat membenci Desi " batin Bela senang
" Kenapa Desi bisa ceroboh seperti ini sih, Bram pasti sangat marah, baru juga mereka berbaikan ada saja masalah, emosi Desi memang harus di rubah.. dia kalau marah suka meledak-ledak tidak kontrol seperti sekarang " batin Bu Jeni
Candra dan Lily juga ternyata melihat kejadian itu, dengan Marah Candra langsung membantu Bela berdiri, Bram yang sudah bangun dari kursi roda segera menghampiri Bela dengan wajah khawatirnya.
" Bel, kamu tidak apa-apa kan?? " tanya Bram
" Tidak kak, aku baik-baik saja " ucap Bela sambil pura-pura kesakitan memegang bibirnya yang berdarah
" Lepaskan tangan mu.. urus saja wanita itu, aku tidak suka melihat Dia sekarang.. pergi sana " ucap Candra memberikan tatapan tidak suka pada Desi
Kedua bodyguard pun segera menghampiri Desi, namun lagi-lagi Bela menghentikan langkah bodyguard itu. Membuat Candra heran biasanya Bela tidak gampang memafkan orang lain, seperti padanya.
" Kenapa diam saja, tanggap wanita itu " bentak Candra pada Bodyguardnya
" Baik Tuan " ucap mereka namun langkahnya terhenti karena ucapan Bela
" Kalian jangan ikut campur masalah ini " ucap Bela pada bodyguardnya
" Tapi Nona... " Ucap mereka
" Bela, wanita itu sudah menyakiti kamu " ucap Candra masih dengan wajah khawatirnya
" Candra, aku baik-baik saja.. mungkin ini hanya salah paham saja.. Desi mengira aku akan merebut kak Bram darinya padahal aku hanya menganggap Kak Bram seperti kakak ku saja.. jadi Desi kamu jangan hina kak Sintia lagi aku ga suka.. biarkan ka Sintia tenang " ucap Bela pura-pura menangis
" Hah, kapan Bela berubah jadi pemaaf seperti ini.. setahuku untuk dapat maaf dari bela susah sekali " batin Candra
" Bela sama seperti Sintia, mereka kakak beradik yang baik dan pemaaf.. lihat saja Desi aku membalas perbuatan mu pada Bela " ucap Bram dalam hatinya
" Kena Kau Desi, lihat bagaimana Bram akan memarahi mu.. aku rasanya ingin tertawa dan merekam wajah pucat mu yang ketakutan oleh Bram... Hahaha " batin Bela senang
" Desi, cepat minta maaf pada Bela " ucap Bu Jeni yang sudah melihat wajah marah Bram.
" Tapi mah... " Ucap Desi langsung terdiam saat Bram menampar pipinya sebanyak dua kali
__ADS_1
Plak,
Plak
Dua tamparan yang di layangkan oleh Bram sebagai pembalasan apa yang sudah Desi lakukan pada Bela, ya saat ini Bram benar-benar marah karena sikap Desi yang semena-mena di matanya, menampar Bela sama saja dengan menampar dirinya apalagi sampai pipi Bela merah dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
" Bram kenapa kamu tega sama aku, aku ga salah sama sekali " ucap Desi sambil memegang kedua pipinya
" Desi sudah, sebaiknya kita pulang " bujuk Bu Jeni
" Ga mau mah... Aku ga salah, dia wanita ular kalian jangan percaya padanya " ucap Desi menahan rasa sakitnya
" Bela.. Tante minta maaf ya.. Desi memang sedang tidak enak badan jadi emosinya tidak stabil " ucap Jeni mendinginkan suasana
" Tidak apa-apa Tante.. Bela mengerti "
" Mah, dia yang sedang bersandiwara.. mamah ga lihat wajah liciknya, aku tuh ga salah Mah.. dia yang salah " ucap Desi marah dengan wajah marahnya
" Apa ga salah kamu bilang, setelah apa yang kamu lakukan pada Bela barusan?? Kamu bilang Bela licik?? Lalu kamu apa... jangan suka mencari alasan.. kamu yang wanita ular bukan Bela .. Kalau kamu berani lagi berbuat jahat pada Bela aku tidak akan tinggal diam.. kamu harus hadapi aku " ancam Bram marah
Ucapan Bram membuat hati Desi marah, ternyata benar yang di katakan oleh Bela jika Bram tidak akan berpihak padanya, sementara Bela merasa menang banyak hari ini, bukan hanya membuat Desi marah tapi sedih secara bersamaan. Ini baru awal permainannya, dia akan membuat Bram selalu membelanya dan Desi terlihat sangat jahat di mata Bram.
Sedangkan Bela di papah oleh Candra untuk masuk kedalam ruangan Bu Mina, Bram dan Deon juga masuk kembali lagi kedal ruangan Bu Mina. Mereka merasa kasian dengan keadaan Bela saat ini. Dimata mereka Desi benar-benar jahat.
Didalam ruangan sang ibu suasana semakin sepi, Lily meminta Candra untuk mengantarnya dirinya untuk menebus obat di apotik meskipun dalam hati kecil Candra tidak mau meninggalkan Bela.
" Bel, aku pulang ambil obat untuk Bu Minayakr apotik ya " ucap Lily pamit
" Kamu di antar Candra kan... " Tanya Bela
" Ia aku antarkan Lily dulu sekalian membawakan mu sarapan "
" Baiklah "
Setelah kepergian Lily dan Candra tinggalkan mereka bertiga, Deon diperintahkan oleh Bram untuk mengambil alat P3K untuk mengobati luka di sudut bibir Bela.
" Bela aku mau minta maf atas perbuatannya Desi.. aku tidak tahu jika Desi sejahat itu " ucap Bram merasa bersalah karena sudah mengajak Desi untuk meminta maaf pada Bela hingga Desi emosi yang menampar Bela itu pemikiran Bram saja dia kan tidak tahu yang sebenarnya.
" Sudahlah ka jangan di bahas, aku sudah memafkan Desi.. mungkin dia bersikap seperti itu karena dia tidak suka padaku dan cemburu pada ku karena Kak Bram lebih dekat dengan aku " ucap Bela dengan nada sedih
__ADS_1
" Kamu jangan khawatir aku akan melindungi mu, Tak akan aku biarakan Desi menyakiti mu lagi.. " ucap Bram membuat Bela tersenyum.
" Ia kak, terima kasih " ucap Bela membuat Bram senang karena bela tersenyum kembali, dia juga sudah tidak membenci Bram lagi bisa dilihat oleh Bram saat ini.
" Bu.. kak Bram baik sama seperti dulu Bu.. ternyata ka Sintia benar.. kak Bram memang sangat baik.. dia bahkan membelaku Bu di depan orang yang menyakiti aku " ucap Bela pada sang ibu yang masih berbaring di ranjang.
Ucapan bela juga bisa di dengar oleh Bram, dia benar-benar senang karena hubungan mereka mulai membaik dan itu bisa memudahkan langkahnya untuk melindungi Bela.
Tak lama kemudian Deon datang dengan membawa kotak P3K dan membawa bungkusan es batu yang sudah ia bungkus dengan kain untuk mengkompres pipi Bela yang terlihat bengkak.
" Ini kompres dulu pipimu agar tidak terlalu bengkak.. " ucap Deon sambil tersenyum
" Terima kasih Kak " ucap Bela sambil menatap Deon
" Kenapa aku merasa jika pandangan Bela pada Deon berbeda " batin Bram
" Aku harus temukan cara agar aku bisa lebih dekat dengan Bram " batin Bela
Setelah selesai mengobati Bela, Bram bersama dengan Deon pamit karena hari ini Bram sudah bisa pulang dari rumah sakit, Bram berencana untuk pulang ke tempat orang tuanya dimana Desi juga ada disana.
" Bela, aku harus pergi ada yang harus aku lakukan " ucapnya
" Baiklah kak.. kak Bram hati-hati di jalan " ucap Bela sambil tersenyum
Bram merasa jika sifat Bela sedikit mirip dengan sang kakak, terlihat ceria dan begitu hangat membuat dirinya nyaman berada di dekat Bela entah karena mereka kakak beradik pikiran Bram.
" Aku janji nanti makan siang akan kesini menemui mu " ucap Bram
" Tidak usah kak, karena hari ini aku harus pergi ke Cafe.. " ucap Bela
" Bel, apa kamu tidak capek semalaman kamu menunggu ibumu dan sekarang kamu pergi " tanya Deon
" Tidak apa-apa kak.. aku kuat dari pada aku harus sedih memikirkan kak Sintia, lebih baik aku melakukan kegiatan yang bisa menghilangkan kesedihan ku sejenak " ucap Bela
" Baiklah... Lakukan apa yang membuatmu senang.. aku pasti mengdukung mu " ucap Bram
" Terima kasih ka... "
Bersambung..
__ADS_1