
Mereka sudah sampai di ruangan Bram, tampak Bu Jeni ingin sekali segera masuk kedalam ruangan Bram namun langkahnya terhenti oleh ucapan Deon, ia memang tahu jika hubungannya dengan Bram sedang tidak baik-baik saja saat ini.
" Nyonya mohon maaf aku harus membujuk Bram dulu untuk berbicara dengan Anda dan Desi " ucap Deon dengan wajah paniknya
" Bram putra ku, kenapa aku harus menunggunya di luar.. aku ingin segera menemui Bram " ucapnya
" Nyonya apa anda lupa!!, bagaimana terakhir kali Anda dan Bram bertengkar, apa anda mau jika hal itu terjadi lagi, Bram akan marah.. saya tahu hubungan Anda dan Bram sedang tidak baik-baik saja saat ini " ucap Deon membuat Bu Jeni terdiam
" Mah, yang dikatakan Deon ada benarnya, sebaiknya kita biarkan Deon membujuk Bram dulu, aku tidak mau di usir terus sama Bram " ucap Desi
" Ya sudah kamu cepat temui Bram, bagaimanapun caranya kamu harus bujuk Bram menemui saya, kalau tidak saya akan telepon suami saya untuk merekrut asisten baru untuk Bram " ancam Jeni
" Astaga ini nenek lampir kenapa harus mengancam segala sih, aku juga lagi temukan cara agar Bram tidak marah padaku " batin Deon
" Anda tenang saja Nyonya, saya pasti bisa memperbaiki hubungan Anda dengan Bram, tapi usahan agar anda tidak emosi ketika bicara dengan Bram dan menuruti keinginan Bram.. " ucap Deon
" Tidak usah mengajari saya, cepat kamu masuk kedalam " ucap Bu Jeni dengan raut wajah kesal.
Deon kembali lagi keruangan Bram dengan wajah kesal, sebenarnya ia diperintahkan oleh Bram untuk membeli sarapan ke kantin rumah sakit, Bram merasa bosan dengan makanan yang ada di rumah sakit ini karena rasanya yang hambar dan tidak enak di lidahnya tapi entah dari mana asalnya kedua nenek lampir itu malah berdiri di hadapannya membuat dia benar-benar kaget sekaligus takut.
" Loh, Deon kenapa kamu kembali lagi kesini, mana makanan yang saya pesan.. " tanya Bram dengan wajah bingungnya
" Begini Bram.. aduh bagaimana mengatakannya " ucap Deon ragu-ragu
" Cepat katakan ada apa?? Apa uangmu kurang " ucap Bram penasaran dengan perubahan sikap asistennya itu tidak seperti biasanya
" Bukan itu, masalahnya Di luar itu ada Ibu mu dan Desi " ucap Deon membuat Bram marah dan kesal
__ADS_1
" Apa kamu bilang??, mamah dan Desi di luar.. dari mana mereka tahu keberadaan ku, jangan-jangan kamu yang memberitahukan keberadaan ku pada mereka, kamu pengkhianat.. " bentak Bram
" Sttt.,, Bram dengarkan dulu penjelasan ku dulu, sumpah demi tuhan aku tidak memberitahukan keberadaan dirimu disini.. tadi ketika aku akan pergi ke kantin rumah sakit tiba-tiba mereka muncul di depanku, aku juga tidak tahu mereka tahu di mana kalau kamu sedang berada di rumah sakit ini " ucap Deon mulai panik ketik Bram marah
" Apa jangan-jangan mamah menyuruh orang untuk mencari informasi keberadaan ku " batin Bram
" Kalau begitu usir mereka, aku tidak mau melihat wajah mereka "
" Bram tunggu dulu, jangan seperti itu, maksud ku jangan mengusir mereka dulu, justru ini kesempatan yang bagus untuk kamu membuat mereka meminta maaf pada Bela, dengan Begitu bela tidak akan membencimu lagi dan kamu bisa menjaga Bela seperti janjimu pada Sintia " ucap Deon mampu membuat berpikir.
Untuk saat ini ucapan Deon bisa ia terima, karena kemarahan pada ibunya juga harus ia selesai apalagi sekarang ibunya datang kemari pasti dia akan membujuk Bram untuk memakannya, ini memang kesempatan Bram untuk meminta ibunya meminta maaf pada Bela.
" Ucapan Deon ada benarnya, aku tidak mau jika masalah ini terus berlarut-larut " batin Bram
" Baiklah aku setuju " ucap Bram sambil tersenyum
" Kalau begitu tunggu disini biar aku bawa nyonya dan Desi kesini " ucap Deon langsung membukakan pintu ruangan Bram.
Jeni dan Desi segera masuk kedalam ruangan Bram, disana mereka melihat Bram yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Seketika wajah Desi berubah menjadi khawatir sama halnya yang di rasakan oleh mertuanya itu, mereka segera menghampiri Bram.
" Bram, kamu baik-baik saja, apa yang sakit nak coba katakan pada mamah " ucapnya dengan nada panik
" Mah, aku hanya kelelahan, kondisi ku baik-baik saja " ucap Bram
" Bram kamu yakin " ucap Jeni masih khawatir dengan keadaan Putramu
" Ya, mamah sudah lihatkan keadaan ku, kalau begitu sebaiknya mamah pulang karena aku mau istirahat "
__ADS_1
" Bram kedatangan kami kesini, kami ingin meminta maaf pada mu.. mamah sadar jika apa yang Mamah lakukan pada Sintia memang salah.. tolong maafkan mamah " ucap Jeni sambil menangis di depan putranya.
Air mata sang ibu yang selalu meluluhkan hatinya, rasanya ia tidak tega jika melihat sang ibu menangis, " Maafkan aku mah sudah membuat mamah sedih dan menangis tapi Bram jadi seperti ini juga karena perbuatan mamah " batin Bram
" Harusnya mamah minta maaf pada Sintia dan pihak keluarganya bukan padaku.. mamah tahukan gara-gara perbuatan mamah dan Desi, Sintia jadi jatuh sakit, penyakitnya kambuh dan meninggal " ucap Bram dengan nada sedih
" Apa, jadi wanita penyakitan itu memang sudah mati, ini bagus karena sudah tidak ada lagi yang menghalanginya jalanku untuk memiliki Bram seutuhnya " batin Desi senang
" Bagus deh wanita itu pergi dari hidup Bram untuk selama-lamanya dengan begitu Desi bisa lebih mendekati Bram, mereka akan hidup bahagia tanpa ada penghalang lagi " batin Jeni
" Astaga Bram.. maafkan mamah.. Sintia maafkan mamah " ucapnya langsung memeluk sang putra
" Kalau mamah memang merasa salah, Mamah harus menemui Bela dan ibunya, mamah harus minta maaf pada keluarga Sintia.. " ucap Bram melepaskan pelukannya
" Baiklah mamah mau bertemu dengan keluarga Sintia, mamah tidak mau hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah " ucap Jeni menghapus air matanya
Drama kedua nenek lampir itu cukup bagus bagi Deon yang jadi penonton saja disana, Deon juga hampir terbawa suasana dengan keadaan disana namun ia sadar jika majikannya itu licik dan tidak sebaik yang dia kira. Deon hanya tersenyum karena rencananya berhasil.
" Aku sudah menemukan Keberadaan Bela " ucap Deon langsung membawa kursi roda untuk Bram
" Kamu serius " tanya Bram senang
" Tentu "
" Ayo kita temui bela.. " ucap Bram langsung melihat wajah sang ibu
Jeni pun mengaggukan kepalanya tanda setuju, meskipun dalam hatinya malas harus berpura-pura seperti sekarang tapi agar putranya bisa memaafkannya ia lakukan, ia juga tidak tega melihat Desi yang setiap hari sedih karena Bram tidak pulang sejak mereka menikah.
__ADS_1
Deon langsung mendorong kursi roda Bram, sementara Jeni dan Desi tampak mengikuti mereka dari belakang. Awalnya Desi ingin mendorong kursi roda Bram namun di tolak mentah-mentah oleh Bram walaupun ia sakit hati namun Desi mencoba sabar menghadapi Bram.
Bersambung...