Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Memeluk Bela


__ADS_3

Bu Jeni kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani menantunya itu, ia tidak tega jika harus meninggalkan Desi sendirian di rumah sakit apalagi putra kesayangannya tidak mau menemani Desi di rumah sakit.


Ia melihat wajah terlelap Desi dengan raut wajah sedih, hatinya benar-benar sakit ketika ia tahu kenyataannya jika putranya sendiri memang sudah menyakiti hati Desi menantu idamannya.


Ia mengira dengan menikahkan putranya dengan Desi mereka akan hidup bahagia bukan seperti sekarang hidup mereka terlihat saling menyakiti. Bahkan dulu ketika ia menikah dengan suaminya tidak ada cinta di dalamnya seperti yang di alami putranya sekarang tidak ada cinta di dalamnya, namun dengan seiring waktu berjalan cinta bisa tumbuh dengan sendirinya tapi kenapa Bram tidak seperti dirinya.


Ia merasa sangat gagal menjadi ibu karena kenyataannya putranya lah yang ternyata menyakiti hati perempuan yaitu Desi. Hatinya marah pada Bram namun perkataan Bram yang ingin bahagia justru terngiang-ngiang di kepalanya.


Ia menilai jika Desi memang pasangan yang cocok untuk Bram. Dia cantik, kaya dan dari orang yang terpandang, menurutnya itu Desi selevel dengan keluarganya. Tapi kenapa Bram tidak mencintai Desi sampai sekarang.


" Apa kurangnya Desi??, Siapa wanita yang bisa membuat putranya begitu mencintainya.. secantik dan sekaya apa dia?? Apa bisa dia selevel dengan keluarga Desi?? " Batin Bu Jeni sambil meneteskan air matanya


Bu Jeni mencoba membaringkan tubuhnya di sofa rumah sakit sambil memejamkan matanya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia terlelap dalam tidur ingin sejenak ingin melepaskan permasalahan hari ini yang sangat membuatnya kecewa.


.


.


...****************...


Sedangkan di tempat lain Bela juga sedang membaringkan tubuhnya di sofa, ia tidak menyangka jika Bram nekat datang ke ruangan sang ibu lalu membaringkan tubuhnya di samping Bela.


Bela memiringkan tubuhnya hingga sofa itu bisa muat untuk mereka berdua. Bela tampak kaget karena gerakan tangan Bram kini sedang memeluk Bela dari belakang. Ia hendak bangun namun pergerakannya di cegah oleh Bram.


" Tenang sayang, ini aku... Maafkan aku membuatmu kaget " ucap Bram berbisik di telinga Bela

__ADS_1


" Asataga Kak.. membuatku kaget saja.. aku pikir siapa?? untuk apa malam-malam kesini "


" Memangnya siapa yang berani memeluk mu seperti ini kalau bukan aku orangnya.. aku adalah suami mu.. ada yang berani menyentuhmu tidak akan aku ampuni.. "


" Kakak benar.. terus untuk apa kakak kesini?? Bagaimana kalau ketahuan Desi atau Bu Jeni?? "


" Kamu tenang saja, tidak akan ketahuan... Aku sangat merindukan mu, dan aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk tubuh mu, tubuhmu bagaikan candu untuk ku sayang " ucap Bram membuat Bela tersenyum


" Tadi Bu Jeni menemuiku.. aku kira kita akan ketahuan " ucap Bela menceritakan isi hatinya sekarang


" Ya aku juga sempat berpikir seperti itu, karena tadi mamah juga masuk kedalam apartemen kita.. tapi kamu tenang ?? ternyata mamah belum tahu sosok wanita yang aku cintai.. "


" Apa?? jadi Bu Jeni menemui kakak?? "


" Tentu saja.. tapi aku bisa menangani itu semua kamu jangan khawatir.. tapi jika kita ketahuan aku akan langsung jujur pada mamah.. aku tidak mau bertahan dengan Desi apalagi dengan apa yang Mamah katakan tadi "


" Kamu benar.. mamah mengancam ku.. dia berkata Jika anak dalam kandungan Desi berjenis kelamin perempuan aku boleh meninggalkan Desi, tapi jika anak dalam kandungan Desi laki-laki aku harus meninggalkan kamu... Aku berharap jika anak dalam kandungan Desi memang benar perempuan jadi aku bisa meninggalkannya "


" Tapi Kak, jenis kelamin anak itu rahasia Tuhan, Kita tidak bisa mengubah takdir Tuhan "


" Kamu benar sayang.. pikiran mamah terlalu kolot, mamah berpikir jika anak laki-laki itu anak yang bisa di banggakan.. padahal mau anak perempuan atau anak laki-laki semuanya sama saja " ucap Bram memeluk erat Bela


" Kakak benar.. " ucap Bela sambil tersenyum


" Aku berharap kita segera mempunyai anak.. " ucap Bram

__ADS_1


" Kak, bagaimana jika anak ku nanti berjenis kelamin perempuan?? Apa kakak akan meninggalkan aku?? seperti yang barusan Bu Jeni katakan?? " Tanya Bela ragu


" Kamu itu ga boleh berbicara seperti itu, mau anak kita laki-laki atau perempuan sama saja, dia darah daging kita.. aku tidak akan pernah membeda-bedakannya.. kalau anak pertama kita perempuan berarti kita harus membuatnya lagi sampai anak kita laki-laki " ucap Bram sambil tersenyum


" Kenapa pikiran Bram seperti itu, aku berharap jika aku tidak punya anak darimu Bram agar ketika aku meninggalkan mu tidak akan ada penghalang di antara kita " batin Bela


" Kenapa Bela belum hamil?? apa aku harus tukar obat Bela dengan vitamin penyubur yang paling bagus " batin Bram


Sedangkan Bela tampak kaget, emang Bram mau memiliki nak berapa besama dia hingga mengucapkan hal itu?? Anak laki-laki?? Pemikiran kolot?? Itu juga sama yang selalu ayahnya katakan pada ibunya, hatinya sakit saat mendengarkan perkataan Bram.


" Kak.. kenapa semua orang tua berpikir seperti Bu Jeni.. ayahku juga seperti itu, makanya dia lebih sayang Tedi adiknya Candra bandingkan aku dan kak Sintia " ucap Bela sedih


" Kamu percaya padaku.. Aku tidak akan seperti itu, kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat aku cintai.. " ucap Bram


" Kamu salah Bram karena aku tidak pernah mencintai mu, dan aku tidak mau jatuh cinta dengan mu.. alasanku saat ini hanya karena aku tidak akan membiarkan Desi bahagia.. jika anak Desi laki-laki memangnya kenapa?? Bram tidak mungkin meninggalkan aku.. " batin Bela


" Aku berharap kamu segera hamil Bel, agar aku bisa meninggalkan Desi secepatnya dan kesepakatan aku dengan ibu bisa gagal " batin Bram


Merekapun segera menutup matanya masih dengan posisi Bram yang memeluk Bela dari belakang sedangkan Bela tampak nyaman di peluk oleh Suaminya itu, ia merasa aroma tubuh Bram membuat pikirannya tenang.


" Selamat malam sayang.. jangan lupa mimpi yang indah bersama aku " bisik Bram


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2