Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Bela Vs Desi Part 1


__ADS_3

Bela langsung melihat kearah Bram, ini yang dia rencanakan membuat Bram merasa tak enak hati sedangkan Desi marah padanya.


" Kamu duduk disini " ucap Bram yang sudah dudukdi sofa yang ada di ruangannya


" Tapi kak dia... " Ucap Bela sambil menunjuk Desi


" Sudah biarkan saja, anggap saja dia tidak ada " ucap Bram sungguh menyakiti hati Desi


" Apa Tidak apa-apa?? "


" Tidak apa-apa jangan merasa tak enak hati, toh dia orang jahat " ucap Bram


" Kasian sekali nasibmu Desi, kalau aku jadi kamu lebih baik aku pergi dari ruangan Bram dari pada makan hati karena sikapnya Bram " batin Bela senang


" Sial kenapa harus seperti ini, semakin menang saja wanita ular itu, ingin rasanya aku Jambak rambut wanita ular itu tapi aku takut Bram semakin marah padaku, aku harus bisa menahannya " ucap Desi dalam hatinya


Bram tampak tidak peduli pada Desi, ia justru mengalihkan perhatian Bela agar tidak melihat kearah Desi, ia dengan sengaja mengajak ngobrol Bela di depan Desi, ia ingin Desi segera pergi dari ruangannya tanpa dia suruh.


" Oh ia Bela, ada perlu apa kamu ke kantor ku.. apa ada hal yang penting "


" Tidak sih kak, sebenarnya aku sudah menyiapkan makan siang untuk kakak, ini sebagai bentuk rasa terima kasih ku karena kakak tadi pagi memberikan aku sarapan " ucap Bela sambil tersenyum


" Harusnya kamu jangan repot-repot seperti ini " ucap Bram melihat kotak makanan yang tampak enak dan kopi yang kemarin ia sangat suka juga bela bawakan membuat Bram senang


" Tidak repot ko kak, aku juga setelah ini mau pergi ke kampus.. jadi sekali mampir kesini " ucap Bela


" Aku cobaik ya... "


" Silahkan kak " ucap Bela sambil tersenyum penuh kemenangan pada Desi


" Em.. ini benar-benar enak, pantas saja cafe mu selalu ramai setiap hari makanannya enak-enak " puji Bram membuat Desi semakin marah namun bisa Desi tahan.


" Ini aku yang masak loh kak.. syukurlah kalau kakak suka " ucap Bela senang

__ADS_1


" Apa.. jadi kamu yang masak ini??,, ternyata bukan hanya cantik dan baik, kamu juga pandai memasak.. aku jadi ingin memakan makanan mu setiap hati " ucap Bram ambil tertawa membuat Desi sudah tidak tahan lagi.


Desi tiba-tiba menghampiri mereka dan duduk di samping Bram, ia juga menggandeng tangan Bram di depan Bela, ia ingin menunjukkan bahwa dia sudah jadi istri Bram namun hal yang di lakukan Desi membuat Bram tidak suka.


" Desi, apa yang kamu lakukan?? Lepaskan tangan mu, aku mau makan siang " ucap Bram


" Aku harus memancing emosi Desi lagi.. tapi bagaimana caranya " batin Bela


" Kamu lihat kan Bela, jika Bram itu milikku, aku akan menjaga milik ku agar tidak di rebut oleh mu " batin Desi


" Sayang, aku juga sudah masak capek-capek makanan kesukaan mu.. tolong kamu cicipi ini saja " ucap Desi langsung menyuapi Bram di depan Bela


" Kak Bram lebih baik kakak makan makanan punya istri kakak saja, kalau begitu aku pamit " ucap Bela langsung membereskan kotak makanan yang ada di depan Bram.


" Bela, kamu marah ya.. Kakak tidak akan memakan makanan yang di buatkan Desi, makanan kamu yang paling enak " ucap Bram merasa bersalah karena Bela wajahnya terlihat sedih, dan memnag dia belum memakan makanan yang Desi bawa karena begitu Bram ingin mencoba makanan yang di bawa Desi, Bela malah membereskan makanan punyanya.


" Aku tidak marah ko Kak, aku pamit ke kampus dulu, kakak lanjutkan makan siangnya dengan Istri kakak " ucap Bela mentah mengapa membuat hati Bram sedih juga


" Sial, awas saja kamu Desi " batin Bela


" Desi, yang harusnya pergi itu kamu bukan Bela.. sifat kamu memang tidak pernah berubah " ucap Bram langsung menelepon Deon.


Niatnya menelepon Deon itu untuk mengusir Desi dari ruangannya, ia sudah jengkel dari tadi dengan sikap Desi apalagi ketika ia dengan tidak tahu dirinya malah mengusir bela barusan.


" Ke ruangan ku sekarang juga " ucap Bram membuat Bela dan Desi bingung


" Tuan, mencari saya.. ada yang bisa saya bantu " ucap Deon melihat kedua wanita cantik itu ia kenal.


" Kenapa Bram malah bersama dengan kedua wanita ini " batin Deon


" Kamu usir Desi, aku tidak mau tahu jangan biarkan dia masuk kedalam perusahaan ini " ucap Bram membuat Desi kaget


" Jangan terlalu senang dulu Desi, lihatkan sekarang kamu malah yang di usir.. memang hari ini hari keberuntungan ku " batin Bela

__ADS_1


" Sial, kenapa jadi begini.. yang harusnya di usir itu Bela bukan aku... " Batin Desi


" Baik Tuan "


" Tunggu Bram, kenapa kamu malah mengusir aku, harusnya kamu usir Bela, dia sudah merusak hubungan rumah tangga kita.. dia wanita penggoda "


" Kenapa Kamu tega bicara seperti itu padaku.. aku tidak menggoda Kak Bram, ia akan kak Bram?? " tanya Bela


" Diam kamu Desi.. Bela bukan wanita penggoda " bentak Bram


Desi bangkit dari tempat duduk ia langsung mengambil gelas yang berisi kopi dan menyiramkan kopi itu ke kepala Bela membuat Bram dan Deon kaget, untung yang dibawakan Bela es Kopi bukan kopi panas.


Bram langsung bangkit dan menghampiri Bela yang kaget dengan perbuatan Desi, sedangkan Deon segera memegang tangan Desi dan menyeretnya ke luar.


" Lihat saja wanita penggoda akan ku balas kamu " teriakan Desi.


Sedangkan Bela pura-pura mennagis saat ini, ia ingin mendapatkan rasa simpati Bram agar Desi semakin di benci Bram. Baginya ini kesempatan untuk menjelekkan Desi dan membuat Desi di tendang dari hidupnya Bram.


" Cukup kak, ini yang terakhir kali Desi berbuat jahat padaku, jika semua yang Desi lakukan karena dia benci aku dekat-dekat dengan kakak lebih baik kita tidak usah kenal saja.. " ucap Bela sambil menangis


" Bela aku minta maaf, aku tidak tahu jika Desi akan berbuat seperti ini padamu.. "


" Sudah cukup kak semua hinaan dan kejahatan Desi padaku.. aku sudah tidak tahan lagi.. kita tidak usah bertemu lagi.. aku tidak mau di jahatin terus sama dia " ucap Bela langsung bangkit dan melangkah pergi dari ruangan Bela


Tapi ternyata Bram memeluk Bela dari belakang, awalnya Bela kaget dengan sikap Bram tapi ia tidak mau ambil pusing karena yang ia inginkan adalah sikap peduli dan selalu membelanya yang ia inginkan dari Bram agar ia bisa menghadapi Desi dan membuatnya terluka.


" Bel, aku minta maaf.. jangan marah seperti ini, aku janji mulai hari ini Desi tidak akan melukai hati mu lagi.. asalkan kamu tidak marah padaku.. aku tidak mau kehilangan adik ku " ucap Bram


" Aku ini kenapa sih, rasanya tidak rela jika di tinggalkan Bela, perasan apa ini?? Kenapa rasanya nyaman ketika memeluk Bela?? Aku sudah gila " batin Bram


" Ternyata akting ku bagus juga, kalau aku jadi aktris pemain sinteron bisa kali.. rasanya gampang sekali meyakinkan Bram, atau memang laki-laki ini terlaku mudah untuk di bohongi " batin Bela


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2