Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Kedatangan Bram


__ADS_3

Sejak dua hari setelah pernikahannya dengan Desi ia tidak pernah pulang kerumahnya, setiap malam ia habiskan dengan mabuk-mabukan di club milik temannya itu.


Handphonenya selalu berbunyi berharap jika yang menghubunginya itu adalah Sintia wanita yang sangat ia rindukan tapi dugaanya salah karena ternyata yang selalu menghubunginya adalah Desi wanita yang sudah menjadi istrinya dan paling ia benci saat ini.


Sudah dua hari ini Sintia kekasih hatinya tidak mengangkat teleponnya sama sekali, ia takut terjadi sesuatu padanya tapi ia lebih takut jika Sintia sudah mengetahui pernikahannya dengan Desi, namun tidak mungkin ada yang berani memberitahukan pernikahan Bram dengan Desi karena Bram sendiri tidak mengundang teman-temannya ia justru menyembunyikan pernikahannya dengan Desi.


Raut wajah Bram bersemangat, ia tersenyum senang ketika Sintia mengangkat teleponnya, Tapi dugaanya salah, kenyataannya adalah Bela yang mengangkat teleponnya. Hati Bram saat ini hancur ketika ia di beritahu jika Sintia sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, dia juga di beritahu oleh Bela jika penyebab kematian sang kakak adalah dirinya.


" Sintia.. ini tidak mungkin, tidak mungkin Sintia meninggal " tangisnya pecah


" Kamu kenapa Bram " tanya Deon


" Aku harus pergi "


" Tunggu kamu mau kemana Bram " tanya Deon


Dengan keadaan sudah mabuk ia mencoba pergi dari sana untuk segera pergi kerumah Sintia, ia tidak percaya perkataan Bella, ia ingin memastikan sendiri keadaan Sintia, ia masih berharap jika Sintia hanya membuat lelucon padanya.


Deon yang melihat keadaan Bram saat ini merasa tidak tega, ia langsung mengantarkan Bram menuju rumah Sintia dengan susah payah. Deon adalah asisten pribadinya sekaligus sahabat baiknya Bram.


" Ayo masuk, biar aku antar " ucapnya


" Deon,, Sintia " ucap Bram sambil menangis


" Cepat masuk, hapus air matamu, kita ke rumah Sintia sekarang " ucapnya


Sepanjang perjalanan Bram tak henti-hentinya menangis ia benar-benar takut jika harus kehilangan Sintia. Ia menyesali perbuatannya yang sudah menikah dengan Desi. Baginya kehadiran Desi hanya menjadi bencana saja, ia belum sanggup jika benar-benar harus kehilangan Sintia.

__ADS_1


" Apa Sintia sudah tahu tentang pernikahan ku.. ini tidak mungkin.. tidak akan ada yang tahu juga dengan acara pernikahan ku " batin Bram


" Sintia,, maafkan aku... Ini semua salahku, Sintia jangan tinggalkan aku.. "


" Bram, kenapa hidupmu begitu rumit " batin Deon


Kini mereka sudah sampai di rumah Sintia, ini sudah menunjukan waktu pagi hari. Dengan tubuh yang masih di pengaruhi alkohol ia langsung keluar dari mobil dengan tubuh sempoyongan.


" Bram tunggu aku " ucap Deon namun tidak di dengar Bram yang terus berjalan menuju pintu rumah Sintia.


Tok... Tok... Tok...


" Sayang buka pintunya, ini aku.. " lirihnya


Tok... Tok... Tok...


" Sintia sayang..., tolong buka pintunya ini aku Bram "


Bela yang mendengar suara kencang di depan rumahnya langsung berlari dengan raut wajah marah ia tahu jika yang berteriak dan mengetuk pintu rumahnya adalah Bram laki-laki yang di bencinya saat ini.


Ia langsung membuka pintunya masih dengan raut marah dan air mata yang tak bisa ia hentikan apalagi melihat laki-laki penyebab kematian sang kakak yang membuat hidupnya hancur saat ini.


" Mau apa lagi kamu kesini, aku kan sudah bilang padamu, jika aku tidak mau melihat muka mu lagi, kamu pergi dari sini " ucap bela berteriak


" Bela, dimana kakak mu, dimana Sintia, aku harus bicara penting padanya " ucap Bram dengan wajah sedihnya


" Sudah aku bilang tidak ada yang bisa di bicarakan lagi ka Sintia sudah meninggal, dia sudah meninggalkan aku untuk selama-lamanya dan ini semua gara-gara kamu " bentak Bela

__ADS_1


" Kamu jangan bercanda bela, ini tidak lucu sama sekali " ucapnya langsung masuk kedalam rumah


" Hey, Siapa yang mengijinkanmu masuk kesini " teriakan bela dengan nada kesal


" Sintia sayang, kelaur ini aku Bram.. " ucapnya berteriak-teriak didalam rumah itu berharap jika Sintia akan datang menghampirinya.


" Sudah aku bilang jika kak Sintia sudah meninggal dan ini semua gara-gara kamu " ucap Bela mengejar langkah Bram


Candra hanya melihat perdebatan antara Bela dan Bram saat ini, ia melihat seorang laki-laki yang tampak asing baginya. Namun ia pernah melihat laki-laki itu di foto bersama dengan Sintia dulu.


" Apa dia Bram, laki-laki yang membuat Sintia meninggal " ucap Candra dalam hatinya


" Bela.. " panggil Candra


" Usir mereka dari sini, aku tidak mau melihat mereka disini, gara-gara dia kakak meninggal.. ibuku koma juga semua ini gara-gara karena dia " ucapnya dengan tatapan kebencian


" Ok, kakak akan usir dia tapi kamu harus tenang jangan berteriak-teriak " ucap Candra


Candra langsung menghampiri laki-laki yang tampak tidak di sukai oleh Bela saat ini. Dengan nada bicara baik-baik ia langsung mengajak Bram dan Deon keluar dari rumah itu.


" Mohon maaf untuk sekarang Bela tidak bisa di temui, jiwanya masih rapuh, Emosinya juga tidak stabil, Saya harap kalian bisa mengerti " ucap Candra


" Tapi aku mau menemui Sintia " ucap Bram


" Apa dia tidak mengerti ucap Bela barusan, mereka belum tahu akan kematian Sintia, sebaiknya aku beritahu saja tempat pemakaman Sintia agar mereka pergi dari sini " batin Candra


Candra langsung memberitahukan keberadaan makam Sintia pada mereka, dan berharap untuk beberapa waktu jangan Menemui bela dahulu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2