
Ternyata Bu Jeni kembali ke apartemen, dia bukannya kembali ke rumah sakit, ia ingin memastikan apa yang di bicarakan Bela benar adanya atau bohong semata.
Raut wajah marah bisa terlihat darinya apalagi ketika ia mengetuk pintu apartemen Itu. Dia terus mengetuk pintu apartemen sampai Bram membuka apartemennya.
" Sayang.. " ucap Bram ketika membuka pintu apartemennya, ia benar-benar salah mengira karena ternyata yang datang ke apartemennya bukan Bela melainkan sang ibu.
Tampak Bram kaget dengan kedatangannya apalagi apartemen ini atas nama Bela, apa dia dan Bela sudah ketahuan oleh sang mamah namun jika itu terjadi ia tidak akan berbohong ataupun mengelak tentang hubungannya dengan Bela, ia akan mengatakan yang sebenarnya walaupun nanti Bela akan marah padanya.
" Tidak.. aku tidak boleh menyembunyikan hubungan ini,, aku memang harus jujur pada mamah karena aku sudah tidak bisa menyembunyikan Bela lagi.. aku ingin semua orang tahu jika aku dan Bela sudah menikah " batin Bram
" Yang di maksud sayang oleh Bram siapa?? Apa Bela?? Tapi itu tidak mungkin.. aku harus melihat kedalam, apa benar yang di ucapkan Bela.. apa di dalam ada wanita itu ada?? " Batin Bu Jeni
" Minggir kamu mamah mau masuk " ucap Bu Jeni
" Tidak, mamah tidak boleh masuk kedalam.. " ucap Bram
" Kenapa?? Apa wanita murahan itu ada di dalam?? " ucap Bu Jeni tampak emosi dan mendorong Bram
Bu Jeni masuk kedalam apartemen, ia melihat semua sudut apartemen, ia juga melihat di atas meja makan ada beberapa makanan sisa mungkin Bram tadi makan bersama dengan wanita itu. Bu Jeni langsung masuk kedalam kamar, ia melihat sepatu wanita seperti yang di katakan Bela.
" Ternyata Bela benar ada sepatu wanita.. Bram benar-benar membuatku sangat kecewa tapi bagaimana bicara dengannya.. " batin Bu jeni
" Mah kenapa harus masuk kedalam kamar sih " protes Bram
" Katakan siapa wanita itu?? Siapa pemilik sepatu itu?? Jawab Bram?? Jawab.. " bentak sang mamah
" Apa?? Jadi mamah tidak tahu siapa wanita itu.. mamah tidak tahu wanita itu Bela?? apa yang di katakan Bela hingga mamah percaya... " Batin Bram
__ADS_1
Tiba-tiba handphone milik Bram berbunyi tanda seseorang mengirimkan pesan dan pastinya itu dari Bela namun memakai nomor handphone yang lainnya, ia tahu jika di apartemennya ada Bu Jeni.
Dalam pesan itu ia mengatakan jika hubungannya jangan sampai orang tahu.. dan untuk malam ini ia tidak akan datang ke apartemen karena ia sibuk. Bram dengan terpaksa merahasiakan kembali hubungannya dengan Bela dengan wajah Kecewa.
Handphone Bram langsung di rebut oleh sang ibu, ia tahu jika pesan itu pasti dari wanita itu. Ia benar-benar penasaran dengan sosok wanita yang masih misteri itu.
" Katakan dia siapa?? Wanita itu siapa ?? Kenapa dia harus mengatakan untuk tidak membongkar rahasia hubungan mu?? Apa wanita itu mamah kenal?? Apa wanita itu wanita yang sebenarnya dekat dengan kita ?? jawab Bram jawab.. jangan diam saja " Tanya Bu Jeni
Ia terus melihat handphone Bram, ia melihat semua percakapan pesan mereka, dimana kata-kata mesra mereka juga di baca oleh Bu Jeni bahkan ia tidak menyangka jika nama kontak yang di tulis dalam handphone Bram untuk wanita itu adalah istriku sedangkan nama kontak Desi di sana di dalam handphone Bram di tulis dengan nama Desi saja.
Sungguh Bu Jeni tak habis pikir dengan pikiran Bram, rasanya ia ingin membanting handphone itu tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah, ia benar-benar harus membicarakan masalah ini serius dengan Bram.
" Bram.. kamu sayang kan sama mamah " ucapnya sambil meneteskan air matanya, Bu Jeni sudah bingung harus seperti apa membuat Bram kembali menjadi anak penurut seperti dulu.
" Mah.. aku sayang sama mamah.. mamah jangan menangis " ucap Bram memeluk sang mamah
" Aku tidak bisa mah.. aku sungguh tidak bisa.. aku tidak sanggup jika kehilangan dia.. dia itu separuh hidupku .. " ucap Bram dengan wajah berkaca-kaca
" Bram, sadar Bram... Kamu harus sadar kamu sudah punya Desi dan calon anak mu.. mamah mohon tinggalkan wanita itu "
" Mah.. untuk kali ini Bram mohon jangan pernah berkata seperti itu, karena Bram benar-benar mencintai wanita itu.. dia satu-satunya yang Bram cintai.. dia sudah menyembuhkan luka di hati Bram.. Bram tidak bisa lagi hidup seperti itu "
" Bram... "
" Mah.. selama ini Bram salalu menuruti keinginan mamah termasuk menikah dengan Desi.. tapi untuk satu hal ini aku tidak bisa menuruti keinginan mamah.. dia kebahagiaan ku mah.. " ucap Bram sambil meneteskan air matanya
" Apa yang membuat kamu lebih memilih dia di banding Desi.. " cibir Bu Jeni
__ADS_1
" Dia mandiri, dia selau memberikan aku kebahagian setiap hati bahkan dia rela mengurus kebutuhan ku dari menyiapkan baju sampai menyiapkan makan.. Desi orangnya manja, dia selalu menuntut aku ini dan itu.. aku benar-benar tidak bisa hidup dengan Desi " ucap Bram
" Desi memang manja sekali, tapi perbuatannya Bram memang sangat jahat.. aku sebagai seorang wanita juga pasti akan sakit hati jika di posisi sama seperti Desi sekarang, apa yang harus aku lakukan?? " batin Jeni
" Mah.. Bram mohon tolong restui hubungan Bram dengan dia.. Bram sangat mencintainya.. " ucao Bram
" Tapi Bram juga putraku... Melihat dia sedih seperti ini hatiku pun merasakan sedih.. mana mungkin bisa aku merestui dia.. tapi untuk kali ini aku harus membuat hubungan Desi dan Bram membaik dahulu setelah itu baru memisahkan Bram dengan wanita itu " batin Bu Jeni
" Tidak mungkin mamah akan merestui hubungan gelap kamu dan dia, mamah hanya tidak akan mengatakan semua ini pada Desi untuk sementara waktu mengingat kondisi Desi dan calon anakmu sangat lemah.. anggap saja mamah belum tahu apa-apa tentang hubungan mu d Ngan wanita itu.. mamah hanya ingin kamu mulai sekarang harus menjaga Desi di rumah sakit,, biar bagaimanapun Desi masih istri kamu dan dia sedang mengandung anak mu.. perlakukan dia dengan baik " ucap Bu Jeni
" Baik mah.. tapi setelah anak itu lahir aku akan segera menceraikan Desi.. mamah tidak bisa melarang keputusan ku ini " ucap Bram
" Mamah akan setuju Jika anak Desi berjenis kelamin perempuan silahkan kamu tinggalkan Desi, tapi jika anak dalam kandungan Desi laki-laki kamu harus tinggalkan wanita itu " ancam sang mamah
" Baik.. aku setuju " ucap Bram
" Sial, kenapa kamu Bram malah mengatakan itu?? bagaimana jika anak dalam kandungan Desi laki-laki " batin Bram
Bu Jeni segera pergi dari apartemen itu, sedangkan Bram tampak duduk di sofa sambil memegang kepalanya, ia benar-benar tidak mengerti dengan mulutnya kenapa bisa menyetujui ucapan sang ibu.
" Aku yakin jika anak dalam kandungan Desi bukanlah anak ku.. aku benar-benar yakin " ucap Bram
.
.
Bersambung...
__ADS_1