Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Bertemu Bela


__ADS_3

Jam kerja sudah berakhir, Bela ingin melihat keadaan Bram saat ini tapi ia urungkan niatnya karena ia ingin menenangkan dulu pikirannya yang sedang kacau gara-gara tau Desi hamil, ia hanya pamit pada Deon saja setelah itu baru ia naik mobilnya dan pergi dari kantor menuju rumah sakit.


Sedangkan Deon kini ia masuk kedalam ruangan Bram, ia melihat Bram duduk melamun disana, ada rasa kasihan yang ada di hatinya tapi mau bagaimana lagi mungkin ini takdir Bram memang dia harus bersama dengan Desi wanita yang tidak ia cintai.


" Bram, ayo kita pulang?? " Ucap Deon


" Kamu pulang duluan saja.. aku mau disini menenangkan diri " ucap Bram


" Baiklah kalau begitu,.. jaga diri baik-baik kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan hubungi aku " ucap Deon memang harus memberikan waktu sendiri untuk Bram


" Apa Bela sudah pulang?? "


" Dia sudah pulang dari tadi " ucap Deon


" Baiklah kamu juga cepat pulang " ucap Bram tampak kecewa


Disaat masalah begitu berat di hidupnya dan ingin membagi beban itu kenapa orang yang selama ini bisa ia andalan malah meninggalkan dirinya, Sintia adalah tempat keluh kesahnya saat ada Sintia ia merasa tidak sebingung ini.


" Sintia.. aku harus bagaimana?? Apa aku harus menerima Desi?? Apa benar anak yang Desi kandung itu adalah anakku?? " Ucap Bram bingung


Ia teringat sosok Bela, apa Bela bisa menjadi tempat keluh kesahnya kali ini apa bisa posisi Sintia di gantikan oleh Bela walaupun mereka kakak beradik bersaudara. Apa perasaan Bram pada Bela karena ia melihat ada kemiripan antara Bela dan Sintia.


" Apa aku harus menghubungi Bela?? Apa dia bisa di percaya ?? " Ucap Bram langsung mengambil handphonenya lalu mencoba menelepon Bela.


Terdengar suara Bela di sebrang sana, Bram senang karena Bela masih mau mengangkat teleponnya. ia pikir bela akan membencinya saat ini lalu Ia mengajak Bela untuk bertemu, awalnya Bela menolaknya tapi Bram memohon untuk kali ini ia ingin bertemu dengan Bela dan dengan terpaksa Bela menyetujuinya.

__ADS_1


" Baiklah kita ketemu di taman dekat rumah sakit saja " ucap Bela


" Baiklah "


Mereka bertemu di taman yang tak jauh dari rumah sakit. Bela memang sedang duduk diam disana. Hatinya merasa sakit ketika ia tahu jika Desi mengandung anak Bram. Disisi lain ia ingin menghancurkan kehidupan Bram dan Desi tapi disisi lain ia juga merasa kasihan anaknya nanti, dia merasakan benar bagaimana rasanya kasih sayang ayah di rebut oleh wanita lain selain ibunya.


Tak lama kemudian Bram menghampiri Bela yang masih duduk di kursi yang ada disana. ia langsung duduk di samping Bela dan melihat wajah Bela yang sedih. Entah mengapa ia merasa sedih juga saat air mata Bela mengalir.


" Bela, kenapa kamu menangis?? Apa ada yang sakit atau ada yang membuat kamu sedih " tanya Bram panik


" Hatiku sakit karena kak Bram sudah membuataku sedih " ucapnya menatap wajah Bram masih dengan air mata yang mengalir dipipinya.


" Aku... Apa yang membuat mu sakit hati dan sedih.. katakan Bela?? " ucap Bram menghapus air mata Bela


" Kenapa kak.. ucapan yang kakak katakan beda dengan kenyataan sekarang.. Kenapa kakak begitu jahat padaku dan kak Sintia "


" Kenapa Kak.. jawab... " Ucap Bela


" Maaf Bel.. "


Hanya kata maaf yang bisa mewakili semua perasaan Bram saat ini, ia juga tidak mengerti mengapa semua seperti ini, sudah tidak ada harapan lagi untuk pergi dari Desi, kenapa hidupnya begitu sial kali ini.


" Bagus teruslah merasa bersalah seperti ini, agar aku lebih bersemangat membalaskan dendam ku yang tadinya aku ragu.. kamu bahkan sekarang sedang bingung dengan semua masalah mu.. aku akan masuk menjadi duri di kehidupan mu Bram.. " batin Bela


" Tuhan, kenapa ini bisa terjadi.. rasanya tidak tega melihat Bela menangis seperti ini.. apa salahku hingga hidupku jadi berantakan seperti ini " batin Bram

__ADS_1


Sekarang Bela lebih tenang dan sudah tidak menangis lagi, Bram juga sudah melepaskan pelukannya. Entah mengapa setelah memeluk Bela beban di pundaknya sedikit berkurang, ia juga merasa nyaman saat ini.


" Bel, tolong maafkan aku... " Ucap Bram dengan wajah memelas


" Kalau aku memaafkan kakak apa kak Sintia bisa kembali hidup lagi.. tapi sudah lupakan saja.. aku sudah berdamai dengan masa lalu.. raihlah kebahagiaan kakak bersama Desi dan anak yang ada di kandung Desi.. " ucap Bela dengan nada sedih


" Bela, untuk kali ini tolong maafkan aku.. aku mohon.. apa perlu aku berlutut disini " ucap Bram langsung berlutut membuat orang-orang yang ada di sana memperhatikan Bram dan Bela


" Jangan kak malu dilihat banyak orang "


" Kalau begitu maafkan aku "


" Baiklah untuk kali ini aku memaafkan Kakak " ucap Bela sedikit tersenyum


Tiba-tiba perut Bram berbunyi, ia dari siang memang belum memakan makanan apapun pantas saja sampai berbunyi kencang dan bisa di dengar oleh Bela.


" Bunyi apa itu " ucap Bela sambil menahan tawanya


" Aku lapar, ayo kita makan malam dulu " ajak Bram langsung memegang tangan Bela


Bela masuk kedalam mobil Bram, Bram berencana mengajak Bela makan di restoran favoritnya karena makanannya yang enak dan tempatnya bagus. Bela hanya bisa mengikuti keinginan Bram tanpa banyak protes. kali ini ia membiarkan Bram nyaman dengannya hingga ia lupa jika istrinya sedang menunggunya di apartemennya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2