
Ini semua memang rencana Bela karena kemarin Candra gagal membujuk Lily untuk diam-diam melakukan tes DNA antara Bram dengan bayi tersebut. dari awal Bela tahu jika Lily orang baik ia tidak mungkin melakukan hal itu yang dia anggapnya menyalahi aturan rumah sakit.
Kini akhirnya Bela sudah memprovokasi Bu Jeni untuk menyetujui Bram melakukan Tes DNA walaupun harus menahan emosinya dengan segala cibiran yang mereka lontarkan karena sedari tadi Bu Jeni tak henti-hentinya menghina Bela.
Mereka semua menemui dokter anak untuk berkonsultasi terlebih dahulu karena kondisi bayi Desi saat ini sedang tidak baik-baik saja. mereka takut hal ini akan mempengaruhi kesehatan sang Bayi.
" Jadi gimana Dok, apa boleh saya melakukan tes DNA pada bayi yang baru Desi lahirkan ?? " Tanya Bram
" Dia juga bayi kamu Bram " seru sang mamah
Bela sebenarnya tidak menyangka jika keadaan bayi yang di lahirkan Desi kondisinya tidak sehat dan harus mendapatkan perawatan intensif, meskipun awalnya ia juga sudah menduga jika hal ini pasti terjadi apalagi setelah apa yang di katakan dokter Imel saat itu padanya.
" Sebenarnya boleh saja melakukan tes DNA apalagi hanya sampel darah dan rambut saja yang akan di tes, hal itu tidak akan mempengaruhi kondisi bayi tersebut " ucap sang dokter membuat Bela senang
" Bagus dok kalau begitu " ucap Bela senang
" Jangan terlalu senang kamu.. karena kamu pasti akan kalah, siap-siap untuk pergi dari kehidupan Bram " cibir Bu Jeni
" Jadi Dok kapan saya bisa melakukan tes DNA tersebut?? " Tanya Bram
__ADS_1
" Sekarang juga bisa kalau tuan sudah siap, nanti tuan akan di ambil sampel darah dan rambut hal itu tidak akan lama " jelaskannya
" Lalu kapan hasil tes DNA Keluar?? " Tanya Bela antusias
" Tes DNA akan bisa di ketahui hasilnya setelah tiga sampai tujuh hari mendatang.. " ucapnya
" Dok apa hasilnya akan aman, maksud saya tidak akan ada orang yang berusaha merekayasa hasil tes DNA tersebut " tanya Bu Jeni menatap sinis pada Bela
" Nyonya jangan khawatir karena rumah sakit ini punya aturan sendiri jika salah satu pegawai berani melakukan hal yang ibu katakan kemungkinan pegawai itu akan di pecat dan di penjara, saya jamin hasilnya akan aliran 100% " ucap Sang dokter sambil tersenyum
" Bagus dok, saya lega mendengarnya " ucap Bu Jeni sambil tersenyum
" Aku tidak sabar menunggu Bram dan Desi hidup bahagia tanpa di bayang-bayangi oleh wanita pelakor ini " batin Bu Jeni
" Baik dok, lakukan sekarang saja.. saya sudah siap " ucap Bram
" Baiklah Tuan.. silahkan ikut saya kemari " ucapnya sang dokter membawa Bram keruangan khusus untuk di ambil sampel
Bela dan Bu Jeni menunggu di ruangan sang dokter, sedangkan Bram di bawa keruangan khusus. Tampak terlihat raut wajah Bu Jeni semakin membenci Bela.
__ADS_1
" Lihat saja kamu.. kamu akan menyesal, karena sebentar lagi Bram akan meninggalkan kamu.. " batin Bu Jeni
" Tenang bela, semua akan berjalan seperti rencana mu.. kamu harus tenang menghadapi Bu Jeni tidak ada gunanya berdebat dengan dia " batin Bela.
Hanya menunggu sepuluh menit untuk Bela dan Bu Jeni karena proses pengambilan sampel tidak memakan waktu lama. Kini Bram sudah menghampiri keduanya.
" Kita lihat nanti hasilnya tiga hari kedepan, Tuan Bram bisa mengambil hasilnya di ruangan laboratorium nanti dan tidak bisa di wakilkan " jelaskan Sang dokter
" Baik Dok Terimakasih " ucap Bram sambil tersenyum
Mereka bertiga segera pergi dari ruangan dokter, Bu Jeni langsung menarik tangan Bram agar mengikutinya untuk menjaga Desi sedangkan Bela yang melihat Bram di tarik-tarik oleh mertuanya itu hanya bisa tersenyum tipis. Bram meninggalkan Bela disana.
Bagi Bela, Bram adalah sosok anak yang penurut bahkan terkesan anak mami, karena semua keputusan yang dia ambil dalam hidupnya selalu ada campur tangan sang mamah. Seperti kehidupannya sekarang ia bahkan tidak bisa tegas untuk memilih Bela di depan sang ibu karena takut mengecewakan sang mamah.
Mungkin bagi Bela saat ini melepaskan sosok laki-laki yang sifatnya seperti Bram adalah keputusan yang terbaik dalam hidupnya karena ia tidak mau jika urusan tumah tangganya di campuri oleh pihak ketiga seperti mertua apalagi mertua yang sifatnya seperti Bu Jeni.
" Maafkan Ibu nak, sepertinya kita memang tidak butuh ayahmu.. kita akan hidup berdua sana nak.. " batin Bela sambil mengelus-elus perutnya
.
__ADS_1
.
Bersambung...