Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Imel Marah


__ADS_3

Bram masih berada di ruangan Bela saat ini, ia juga menyuapi Bela makan malam, mereka tampak mengobrol satu sama lain, Bram menceritakan kisahnya ketika sekolah dulu. Bela tampak mendengarkan semua cerita Bram namun sesekali dia juga tertawa menertawakan Bram dulu yang jahil.


Bram senang karena istrinya sudah bisa tertawa lagi, ia juga sebisa mungkin menghibur Bela walaupun kadang ia juga malu menceritakan bagaimana dulu dirinya menjahili orang lain.


Ketika mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol tiba-tiba handphone milik Bram berbunyi, di sana terlihat nama sang mamah yang sedang meneleponnya. Bram melihat wajah Bela untuk meminta ijin mengangkatnya.


" Angkat saja kak.. siapa tahu ada yang penting " ucap Bela sambil tersenyum


" Baiklah " ucap Bram langsung mengangkat teleponnya namun masih duduk di samping Bela.


" Halo.. Ada apa mah?? " Ucap Bram dengan nada malas ia menduga jika sang mamah akan menyuruhnya pulang


" Bram kamu dimana?? Desi demam sekarang.. dia terus-menerus menyebut nama mu.. mamah khawatir dengan keadaannya " ucap Bu Jeni


" Mah.. kita sudah punya kesepakatan, aku tidak bisa menemui Desi di malam hari.. mamah tidak lupa hal itu kan?? " Tanya Bram


" Tapi Bram ini keadaannya benar-benar darurat, mamah merasa kasihan sama Desi, kamu cepat pulang ya nak, mamah mohon " ucap Bu Jeni panik


" Mamah tunggu saja di rumah " ucap Bram langsung menutup teleponnya lalu menghubungi Imel untuk datang kerumahnya dan memeriksa keadaan Desi yang sedang demam sekarang, Imel pun segera menutup teleponnya dan bersiap-siap untuk memeriksa keadaan Desi.


Sejak sore tadi mereka sepakat jika Imel akan menjadi dokter pribadi Desi dan dokter yang akan merawat Bela di rumah sakit. Tentu saja gaji yang di tawarkan oleh Bram lima kali lipat dari gajinya sekarang di rumah sakit, membuat Imel tertarik dan tidak bisa menolak.


" Kak.. apa kakak tidak akan pulang kerumah?? Bukannya Desi sedang demam sekarang " ucap Bela heran


" Kamu tenang saja, Desi hanya butuh dokter bukan aku.. sedangkan aku butuh kamu bukan Desi " ucap Bram mencium kening Bela


" Terima kasih ya Kak sudah menghibur ku.. disaat seperti ini kakak dengan sabar menghadapi ku " ucap Bela tersenyum pada suaminya itu


" Aku sudah berjanji akan selalu membahagiakan mu bagaimana pun caranya.. " ucap Bram memeluk Bela


Entah mengapa pelukan Bram kali ini menenangkan hatinya yang sedang sedih, rasanya ia punya tempat bersandar dan mencurahkan keluh kesah yang baru yaitu Bram tanpa di sadari juga ia bercerita tentang masa kecilnya dulu pada Bram.


Malam ini menjadi malam yang hangat untuk mereka berdua, saling bercerita tentang masa lalu mereka membuat hubungan mereka semakin dekat dan erat tanpa mereka sadari terutama Bela yang sampai sekarang masih bingung dengan perasaannya.


Tak lama kemudian Bela mengantuk, mereka tidur dalam satu ranjang saling berpelukan, Bram senang karena sekarang keadaan Bela sudah stabil mungkin kalau keadaannya seperti ini terus besok juga Bela sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter.


Namun tiba-tiba Imel menelepon Bram kembali tentunya dengan perasaan kesal dan marah, Bram segera keluar dari ruangan Bela, ia sengaja mengangkat teleponnya di luar karena takut mengganggu tidurnya Bela.


" Bagaimana keadaan Desi?? Apa penyakitnya parah?? " Tanya Bram


" Kamu itu sengaja ya mau mengerjai aku Bram?? Desi baik-baik saja di bilang sakit.. istri tidak sedang sakit mungkin dia hanya butuh perhatian dari mu, kalian benar-benar membuat drama aku yang harus repot " ucap Imel marah


" Sudah ku duga.. untung saja ada kamu Mel, jadi aku tidak perlu repot-repot datang ke rumah dan tertipu oleh ucapannya " ucap Bram sambil tertawa


" Kamu ini gila apa?? Membangunkan aku yang sedang enak-enak tidur hanya demi meladeni permainan drama kalian.. Bram Bram.. aku tidak habis pikir dengan istri mu itu " ucap Imel


" Ya dia memang orangnya seperti itu penuh dengan Drama, aku butuh kamu agar aku tahu drama apa yang sedang dia mainkan " ucap Bram

__ADS_1


" Lagian ya Bram, ngapain kamu menikah dengan wanita seperti itu.. heran aku "


" Ceritanya panjang tidak bisa aku ceritakan sekarang.. yang jelas terima kasih untuk hari ini " ucap Bram


" Tidak masalah, tapi lain kali bolehkah aku memarahi istrimu jika dia berpura-pura sakit lagi, aku benar-benar kesal padanya "


" Tentu saja boleh.. marahi dia sesuka hatimu kalau perlu jewer saja telingganya agar kamu puas " Bram tertawa lagi


" Baiklah kalau begitu.. selamat malam " ucap Imel menutup teleponnya


" Bagus, sekarang sudah ada Imel yang bisa mengawasi Desi, tinggal aku mencari bukti tentang kehamilannya " batin Bram


Ia kembali masuk kedalam ruangan Bela dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu, melihat Bela yang sedang tidur membuatnya tenang dan damai. Wajah yang selalu ia rindukan ketika dia jauh dengan istrinya itu.


" Aku akan membuat kita bersatu, aku akan bicara pada Om Tristan dan mamah.. aku tidak mau hubungan ku dengan Bela sembunyi-sembunyi terus apalagi ada calon anak ku.. dunia harus tahu orang yang aku sayangi adalah kamu Bela " batin Bram


.


Keesokan harinya,,


.


.


Bram bangun pagi-pagi sekali, ia segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya, setelah itu ia pergi ke kantin rumah sakit untuk membelikan sarapan untuk Bela, ia membeli nasi uduk salah satu makanan kesukaan Bela.


Ketika ia membuka pintu ruangan Bela ia kaget karena istrinya ternyata sudah bangun, ia segera menghampirinya dan memberikan nasi uduk itu.


Tiba-tiba perut Bela jadi mual hanya karena mencium bau nasi uduk, entah mengapa ia jadi tidak menyukai nasi uduk karena baunya terlalu menusuk hidungnya.


" Kamu kenapa sayang?? " Ucap Bram panik ketika Bela mual-mual


" Apa itu kak, baunya tidak enak.. singkirkan makanan itu " ucap Bela membuat Bram heran


" Bukannya ini makanan kesukaan mu, ini nasi uduk " ucap Bram


" Aku sekarang ga suka baunya, cepat singkirkan makanan itu.. " pinta Bela


" Tapi.. ini makanannya sayang kalau di buang " ucap Bram bingung


" Kalau begitu kakak saja yang makan?? Aku tidak mau " ucap Bela


" Lalu kamu mau makan apa kalau ini aku yang makan ?? " Tanya Bram


" Kakak makan nasi uduknya di kantin saja setelah itu belikan aku ayam geprek yang pedes " ucap Bela


" Sayang kamu ga boleh makan yang pedes di pagi-pagi begini " ucap Bram

__ADS_1


" Tapi ayam geprek nya itu enak sekali kak " ucap Bela


" Baiklah kalau begitu aku belikan untuk mu " ucap Bram pergi dari sana dengan membawa nasi uduk itu.


Bram menuruti keinginan istrinya itu, ia makan nasi uduk sampai habis lalu membelikan makanan yang Bela minta, ia tahu jika dari kemarin Bela kehilangan nafsu makan oleh karena itu membelikan makanan yang Bela minta dan berharap jika Bela makan banyak seperti sebelumnya.


" Sayang.. " panggil Bram ketika masuk kedalam ruangan Bela


" Mana ayam geprek nya kak?? " Tanya Bela antusias


" Nih sayang.. " ucap Bram memberikan satu kotak nasi beserta ayam geprek dan tahu tempe.


Bram tersenyum ketika Bela mulai memakan makanannya dengan lahap bahkan sampai habis, ia memberikan minum ketika melihat Bela yang kepedesan.


" Aku bilang juga apa, jangan makan yang pedas-pedas.. ini masih pagi sayang " ucap Bram memberikan satu gelas minum


" Habisnya enak Kak, Kakak mau cobain makan? " ucap Bela memberikan satu suapan ayam geprek yang penuh cabe


" Tidak sayang, aku tidak sanggup memakan makanan itu, makanannya terlalu pedas " tolak halus Bram


" Ga pedas ko "


" Tidak sayang, untuk mu saja biar kamu kenyang " ucap Bram sambil tersenyum


" Yang benar saja.. masa ia aku makan ayam di lumuri cabe seperti itu bisa-bisa aku bulak balik ke kamar mandi karena sakit perut " batin Bram


Setelah selesai makan Bela di gendong oleh Bram menuju kamar mandi sesuai dengan keinginan Bela, Bela ingin mandi karena dari kemarin ia tidak mandi. Tentunya mandi dengan air hangat yang sudah Bram siapkan sebelumnya.


Tak butuh waktu lama untuk Bela mandi, Setelah selesai Bela kembali duduk lagi di ranjang tempat tidurnya, badannya sudah segar dan wangi. Bram terus memeluknya dari belakang agar Bela tidak merasa kedinginan padahal yang ingin merasa kedinginan adalah Bram.


" Kak.. kenapa kakak tidak pergi ke rumah orangtua kakak, pasti Desi sedang menunggu kakak disana?? Apalagi semalam kan dia bilang dia sedang sakit " ucap Bela


" Kamu tahu sayang kalau semalam Imel marah besar padaku, dan itu semua gara-gara Desi, dia sudah membohongi aku dan Imel, Desi sengaja pura-pura sakit, tapi setelah di periksa oleh Imel ketahuan ternyata tubuhnya baik-baik saja, dia tidak sakit sama sekali.. " ucap Bram sambil tertawa


" Mungkin dia ingin kakak menemaninya semalam " ucap Bela


" Tidak mungkin aku menemuinya.. malam hari itu waktu ku bersama mu sayang.. " ucap Bram sambil tersenyum


" Lalu kenapa kakak masih disini.. cepat kakak temui Desi.. " ucap Bela


" Sebentar sayang aku masih ingin memelukmu " ucap Bram memeluk erat tubuh Bela


" Aku mencintaimu Bela.. " ucapnya masih memeluk Bela


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2