Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Candra Vs Bram


__ADS_3

Bela yang sudah berganti baju segera menghampiri suaminya yang masih duduk di sofa ruang tamu dengan luka di wajahnya yang tampak berdarah.


" Astaga kak Bram, kakak kenapa bisa berdarah begini?? " Tanya Bela segera membawa kotak P3K untuk mengobati luka wajah Bram


" Aku tidak apa-apa sayang, kamu tidak usah khawatir " ucap Bram sambil tersenyum


" Di saat seperti ini kakak masih bisa tersenyum, sini biar aku obati dulu " ucap Bela segera membersihkan luka Bram lalu memberikannya salep agar tidak bengkak pipinya.


" Terima kasih Bel " ucap Bram sambil memeluk Bela yang duduk di depannya. Bela merasakan detak jantung Suaminya itu. sedangkan Bram ia merasa tenang jika sedang memeluk Istri keduanya seperti ini.


" Sama-sama kak.. " ucap Bela melepaskan pelukannya


" Aku ganti baju sebentar ya " ucap Bram sambil tersenyum lalu pergi menuju kamarmya dan mengganti bajunya dengan menggunakan baju yang lebih santai.


Setelah selesai Bram segera menghampiri Bela lalu mereka segera pergi dari apartemennya menuju rumah sakit dimana sang ibu berada. Bram masih dengan perasaan senang karena ia sudah menikahi Bela hari ini.


Sedangkan Bela merasa perasaannya tidak enak hati, entah kenapa ia dari tadi memikirkan sang ibu, ia takut jika terjadi sesuatu pada ibunya.


" Kenapa perasaanku tidak enak hati seperti ini, apa terjadi sesuatu pada Ibu?? Tapi Candra tidak menghubungi berarti itu hanya perasaan ku saja.. jangan berpikiran macam-macam Bela.. ibu pasti baik-baik saja " batinnya


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit, Bela segera menuju ruangan sang ibu bersama dengan Bram, karena Bram ingin menginap di rumah sakit bersama Bela menemani istrinya itu.


Ketika membuka pintu ruangan sang ibu, ia melihat Candra disana sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya, ia merasa kasihan pada Candra karena hampir tiap hari ia selalu menemani ibunya, terkadang juga ia menginap bersama bela di sana.


" Hay Candra " sapa Bela


" Kamu sudah pulang Bel.. " ucap Candra sambil tersenyum


" Maaf jadi merepotkan mu " ucap Bela


" Tidak masalah Bel.. oh ia kenapa dia ada disini bersama dengan mu " tanya Candra dengan nada sinis pada Bram


" Tidak mungkin juga aku mengatakan jika Bram adalah atasanku, bisa-bisa Candra marah padaku, apalagi kalau dia tahu aku sudah menikah dengan Bram bisa-bisa dia melaporkan hal ini pada ayah " batin Bela


" Kami tidak sengaja bertemu di jalan??, kak Bram menawariku tumpangan karena aku tidak menemukan taksi " ucap Bohong Bela

__ADS_1


" Maafkan aku Bram itu satu-satunya alasan agar Candra tidak curiga pada kita.. aku tidak mau ayah sampai tahu hubungan pernikahan kita bisa-bisa dia marah besar " batin Bela


" Kenapa Bela berbohong pada laki-laki ini.. sebenarnya Dia itu siapanya Bela, kenapa dia selalu membantu Bela dan berada di sisi Bela.. apa dia laki-laki yang Bela cintai " batin Bram kesal


" Bukannya kamu bawa mobil " tanya Candra heran


" Ah ia, mobilku.. em masuk bengkel harus di perbaiki dulu " ucap Bela masih berbohong


" Semakin kamu berbohong semakin hatiku cemburu Bel, kenapa kamu tidak jujur dengan laki-laki ini jika aku suami mu bel.. apa pentingnya dia di hidup mu Bel " batin Bram


" Untuk kali ini aku biarkan Bela dekat dengan Bram, tapi besok tidak aku biarkan hal itu terjadi, Bela terlalu polos nanti dia malah masuk perangkap laki-laki itu, dia laki-laki jahat dan brengsek " batin Candra


" Semoga Candra percaya dengan alasan yang aku katakan, dan semoga dia tidak curiga padaku " batin Bela


" Kenapa tidak menghubungi ku?? " tanya Candra menatap wajah Bram tajam


" Aku tidak mau merepotkan mu, kamu sudah terlalu banyak aku repotkan " ucap Bela


" Kamu jangan berkata seperti itu, aku suka di repotkan oleh mu " ucap Candra


" Maafkan aku " ucap Bela


" Baiklah Karena ini sudah larut malam kami pulang dulu sekarang, kamu istirahalah, besok aku akan mengantarmu pergi ke kantor " ucap Candra


" Ah tidak usah, aku bisa sendiri lagian pasti merepotkan mu lagi " ucap Bela sambil tersenyum di paksakan


" Tidak merepotkan.. ingat aku suka di repotkan oleh mu " ucap Candra membuat Bela Semakin bingung mencari alasan apa lagi


" Biar aku saja yang mengantar Bela pergi ke kantor " ucap Bram membuat Candra tidak suka


" Besok tunggu aku " ucap Candra dengan tatapan tajam pada Bela


Candra melihat ke arah Bram, ia tidak mau jika Bela sampai dekat-dekat dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati Sintia, ia tidak mau jika Bela juga tersakiti oleh Bram juga, ia harus bisa menjauhkan Bela dengan Bram, ia segera menghampiri Bram lalu memegang tanggannya dan mengajaknya pulang.


" Ayo kita pulang "

__ADS_1


" Tapi.. tapi.. tapi " ucap Bram bingung karena tangannya sudah di tarik Candra


" Ayo... "


Bela hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada keduanya berharap mereka tidak bertengkar karena hari ini Bela merasa lelah sekali apalagi saat ia melihat wajah Deon tadi yang sangat sedih, rasanya tak tega melibatkan Deon dalam dendamnya tapi ia tidak punya pilihan karena Deon lah yang sangat dekat dengan Bram.


Ia mengirim pesan pada Bram untuk tidak kembali ke rumah sakit karena ia takut jika Candra mencurigai mereka. meskipun kecewa Bram menuruti keinginan istri barunya itu. Ia meminta ijin pada Bela untuk mengunjungi Desi, ia hanya ingin melihat keadaannya saja.


Bela memberikan ijin pada suaminya itu dan menghasutnya untuk membalaskan dendam pada Desi, ia percaya dengan Ucapan yang bela katakan pasti membuat Bram menuruti keinginannya termasuk menyiksa perasaan Desi.


Bela menghampiri sang ibu masih berbaring tak berdaya dan di bantu oleh beberapa alat yang berada di tubuhnya, ia mengucap tangan sang ibu lalu menciumnya. Ia juga menggenggam tangan sang ibu lalu memeluknya. Perasaan rindu itu semakin kuat Bela berharap jika sang Ibu segera bangun dan sembuh seperti biasanya.


Sementara di luar ruangan Bu Mina tampak dua orang laki-laki dengan wajah kesalnya satu sama lain, Bram kesal karena Candra menarik tangannya dan menyeretnya pulang sedangkan Candra kesal karena Bram mendekati Bela.


" Jangan pernah dekati Bela, dia terlalu polos dan tidak tahu apa-apa untuk orang seperti kamu.. sebaiknya kamu menjauhinya " ucap Candra dengan sinis


" Tidak mungkin aku menjauhi wnaita yang sudah menjadi istriku.. dia benar-benar menyebalkan " batin Bram


" Memangnya kamu siapa berani sekali berbicara padaku untuk menjauhi Bela ?? " Tanya Bram dengan nada sinis


" Aku kakaknya Bela " ucap Candra membuat Bram terdiam, ia sedang berpikir apa benar hubungannya dengan Candra kakak adik sungguhan atau kakak adik seperti hubungan dia dan Bela selama ini.


" Setahuku Bela hanya punya satu kakak yaitu Sintia " cibir Bram


" Aku kakak tirinya " Ucapan Candra lagi-lagi membuat Bram terdiam, teryata dia selama ini sudah salah sangka dan mengaggap Candra saingan cintanya tapi dia juga bisa melihat di mata Candra jika hubungan mereka tidak sesederhana kakak dan adik, Bram bisa melihat jika Candra tertarik pada Bela.


" Karena ini sudah malam, aku tidak mau berdebat dengan mu sebaiknya aku pulang.. " ucapnya Bram mencoba mengalah, ia langsung meninggalkan Candra menuju mobilnya dan pergi ke apartemen dimana Desi berada.


Sementara Candra juga segera pergi menuju Apartemennya yang tak jauh dari sana. Besok ia akan berbicara pada Bela untuk menjauhi Bram, semua ini untuk kebaikan Bela sendiri.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2