Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Drama Desi


__ADS_3

Bu Jeni mulai kebingungan untuk menenangkan menantunya itu, jika dia juga di posisi Desi pasti dia akan merasa sakit hati namun di sisi lain ia juga tidak bisa menolak tantangan dari Bela, bisa hancur harga dirinya ia tidak boleh kalah dari wanita yang selalu membuatnya marah dan benci.


Ia mencoba mendekati Menantunya yah sedang menangis lalu memeluknya dan mencoba menenangkannya. Ia akan bicara dari hati ke hati dengan menantunya itu.


" Maafkan Mamah, mamah lakukan itu agar rumah tangga mu dan Bram baik-baik saja.. bukan maksud mamah tidak percaya padamu... "


" Maksudnya mamah apa " tanya Desi bingung


Bu Desi mulai menceritakan bagaimana Bela tiga hari yang lalu datang dan memberikan Bram foto-foto Desi bersama dengan laki-laki lain yang sedang telanjang. Bahkan bukti rekaman video juga ada (tidak di tonton Bu Jeni).


" Sial, Bela lagi Bela lagi... Aku harus memberinya perhitungan " batin Desi


Bu Jeni tidak terima saat menerima tuduhan jika menantunya berselingkuh dan sampai hamil anak selingkuhannya. Ia pun dengan terpaksa menyetujui tantangan Bela dengan percaya dirinya.


" Mamah pastikan setelah hasil tes DNA itu selesai wanita itu tidak akan menggangu Bram lagi, dia akan pergi dari hidupnya Bram untuk selama-lamanya " ucap Bu Jeni menyakinkan Desi


" Kenapa mamah bisa yakin seperti itu?? "


" Karena dia sendiri yang bilang jika hasil tes DNA itu menunjukan jika anak kamu adalah anak Bram juga dia akan meninggalkan Bram " ucap Bu Jeni sambil tersenyum


" Kalau seandainya anak itu bukan anak Bram" ucap Desi keceplosan


" Apa sih maksud mu, anak itu pasti anak Bram.. mamah yakin " ucapnya


" Bagaimana ini.. Bram tidak boleh tahu hasil tes DNA.. aku harus pikirkan cara agar Bram segera kembali " batin Desi


Tiba-tiba Desi memegang perutnya, lalu berteriak seperti orang kesakitan hal itu membuat Bu Jeni panik apalagi suster dan dokter baru saja meninggalkan Desi setelah pemeriksaannya.


" Desi kenapa nak.. "


" Perutku sakit mah.. aduh sakit sekali mah.. "

__ADS_1


" Bagaimana ini.. Mamah akan panggil dulu dokter " ucapnya


" Mamah jangan tinggalkan aku, mamah hubungi saja Bram, suruh dia segera kesini " ucapnya masih pura-pura kesakitan


" Baiklah Mamah akan segera menelepon Bram " ucapnya langsung mengambil handphone dalam tasnya


Ternyata Bu Jeni tidak bisa menghubungi Bram karena saat ini telepon Bram sedang sibuk, ia pun segera memberitahukan hal itu pada menantunya namun Desi terus meminta sang mertua untuk terus menelepon Bram sampai mengangkat teleponnya.


.


.


Di sisi lain ternyata Bela mendengarkan ucapan Desi dan Bu jeni ia merasa ada yang tak beres dengan sikap Desi, ia juga merasa janggal dengan sikap Desi apalagi saat di beritahu jika Bram sedang mengambil hasil tes DNA itu.


Sebelum Bu Jeni menelepon Bram ia yang menghubungkan Bram lebih dulu, ia juga penasaran dengan hasil tes DNA.


" Halo Kak.. kamu di mana aku sudah di rumah sakit " ucap Bela


" Aku di ruang laboratorium "


" Baiklah.. "


" Jangan di tutup dulu, aku masih kangen sama kakak.. biarkan seperti ini " pinta Bela


" Aku juga sebenarnya kangen banget sama kamu Bel " batin Bram


" Maafkan aku Bram, aku lakukan ini karena aku tidak mau Desi menggagalkan rencana ku " batin Bela


Bela terus berjalan menuju laboratorium sambil bertelepon dengan Bram meskipun tidak ada pembicaraan di antara mereka. Rasanya terlalu canggung saat ini apalagi Bram selalu di hantui rasa bersalah pada Bela karena selama ini dia selalu cuek padanya. Sedangkan Bela sudah tidak mau berharap pada Bram.


Sesampainya di depan laboratorium, Bela langsung menutup teleponnya, ia berharap jika Bu Jeni tidak akan menelpon Bram kembali.

__ADS_1


" Kak.. bagaimana Hasilnya?? " Tanya Bela sambil tersenyum


" Kita tunggu lima menit lagi " ucap Bram


" Baiklah.. "


" Bel.. " panggil Bram


" Ia kak.. " tanya Bela bingung melihat wajah Bram sedih


" Kenapa kamu bicara seperti itu pada mamah, aku tidak ada niat untuk menceraikan mu " ucap Bram menatap dalam wajah Bela


" Maafkan aku kak.. aku sudah tidak sanggup jika harus di nomber duakan oleh kakak, aku sebentar lagi akan melahirkan dan punya anak, aku tidak mau jika anak ku kurang kasih sayang oleh ayahnya karena ayahnya mengutamakan anak dari istrinya yang pertama " ucap Bela dengan wajah sedihnya


" Bel, aku bisa bersikap adil, aku akan membagi waktu ku bersama dengan anak Desi dan anak kamu "


" Tidak kak, sekarang saja kakak tidak adil padaku apalagi nanti " ucap Bela sambil meneteskan air matanya


" Maafkan aku Bel.. " ucap Bram langsung memeluk Bela


Rasa hangat dan nyaman seperti pelukan ini yang selalu bela rindukan, rasanya sudah lama ia tidak merasakan hal ini, ia ingin egois sekali lagi pada hidupnya namun rasanya tidak mungkin, ia harus menepati janjinya pada sang ayah.


" Kak.. jangan menangis, aku sudah memafkan mu.. hiduplah dengan damai setelah aku tidak ada "


" Apa Maksud mu " ucap Bram melepaskan pelukannya


Tak lama kemudian petuga laboratorium memanggil Bram, ia menyerahkan hasil tes DNA pada Bram. Katika Bram hendak membuka hasil tes DNA sang ibu menelepon.


" Buka saja dulu hasil tes DNA itu " ucap Bela merebut handphone milik Bram


" Tapi mamah telepon "

__ADS_1


" Biar aku yang angkat " ucap Bela langsung meninggalkan Bram sendirian di sana.


Bersambung...


__ADS_2