Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Soto Ayam


__ADS_3

Bram sedang makan siang bersama Bela, hatinya senang karena bisa lama-lama menghabiskan waktu dengan Bela apalagi semakin hari semakin terasa cinta pada Bela.


" Kamu harus makan yang banyak ya sayang.. " ucap Bram sambil tersenyum


" Aku sudah kenyang kak.. lihat kakak kenapa memesan makanan begitu banyak seperti ini " ucap Bela sambil tersenyum


" Aku ingin kamu sehat, dan segera mengandung anak ku.. " ucap Bram membuat Bela tersedak karena kaget.


Uhuk... Uhuk..


" Minum sayang, pelan-pelan makannya karena tidak akan ada yang memakan makanan mu.. kalau kamu merasa kurang kenyang kamu bisa tambah lagi " ucap Bram memberikan Bela segelas air


" Anak?? Siapa yang mau memiliki anak dengan mu,, jangan harap, kamu tenang saja Bram karena itu tidak akan terjadi " batin Bela


" Aku tidak sabar melihat Bela hamil dan melahirkan... Kapan Bela bisa hamil seperti Desi padahal obatnya aku sudah tukar " batin Bram


" Anak ka?? " Tanya Bela bingung


" Ia sayang, aku ingin segera punya anak dari kamu.. agar aku bisa mengumumkan pada dunia tentang pernikahan kita " ucap Bram sambil memegang tangan Bela


Bela hanya membalas dengan senyuman, ia tidak tahu harus Cemas atau marah karena ia tidak berniat untuk memiliki anak dari Bram sedangkan Bram sendiri sangat berharap jika dirinya hamil. Bagaimana kalau Bram tahu jika selama ini ia selalu mengkonsumsi obat penunda kehamilan.


" Bisa gawat jika Bram tahu kalau aku mengkonsumsi obat penunda kehamilan.. aku harus bagaimana agar Bram tidak curiga " batin Bela


" Mungkin kita belum di berikan kepercayaan dari Tuhan, kita serahkan saja semuanya pada Tuhan " ucap Bela sambil tersenyum


" Ia sayang "


" Aku harus menyakinkan Bela agar dia mau mengandung anak ku.. aku hanya ingin anak dari Bela saja.. " batin Bram


Tak lama kemudian sang mamah meneleponnya, ia segera mengangkat teleponnya siapa tahu ada hal yang penting yang akan di sampaikan sang mamah.

__ADS_1


Tapi ternyata dugaanya salah, bukannya informasi yang penting melainkan ia harus di repotkan untuk membawakan soto ayam. Awalnya Bram merasa heran karena tidak biasanya sang mamah ingin di bawakan makanan.


Tapi ternyata yang meminta soto ayam itu adalah Desi membuat Bram semakin malas membawakan makanan itu, namun jika berurusan dengan sang mamah pasti dia tidak akan menang apalagi mengenai Desi.


Benar-benar sangat merepotkan harus membawakan soto ayam, apalagi ia harus mencari makanan itu terlebih dahulu karena tidak semua restoran menyajikan makan itu.


Setelah menutup telepon tampak wajah Bram lesu, Bela yang melihat hal itu segera menanyakan apa yang terjadi pada Bu Jeni. Walaupun Bela tidak suka dengan Bu Jeni namun di depan Bram ia harus bersikap baik.


" Ada apa Kak?? kenapa Bu jeni menelepon kakak? " Tanya Bela


" Mamah menyuruhku membawakan soto ayam " ucap Bram bingung


" Oh Bu Jeni mau makan soto ayam?? " Ucap Bela


" Bukan mamah, tapi Desi katanya dia ngidam ingin makan soto ayam.. benar-benar merepotkan " ucap Bram kesal


" Kak jangan begitu, kata orang kalau kita tidak menuruti keinginan ibu hamil, katanya anaknya nanti ileran " ucap Bela


" Aku juga kurang tahu kak.. "


" Kalau begitu kita harus bagaimana?? "


" Kita cari sekarang soto ayamnya.. aku kenal beberapa restoran yang menyediakan makanan seperti itu " ucap Bela sambil tersenyum


" Kamu memang penyelamat ku sayang, ayo kita segera Kesana agar kita cepat pulang dan menghabiskan waktu bersama lagi seperti kemarin " ucap Bram tampak bersemangat


" Ayo Kak.. " ajak Bela


" Bela.. kamu benar-benar orang baik.. bahkan kamu bersedia mencari makanan itu untuk Desi.. padahal Desi selalu jahat padamu.. aku semakin jatuh cinta sama kamu " batin Bram


" Anggap saja ini sebagai rasa kasihan ku pada anak dalam kandungan mu Desi.. semoga saja dia baik-baik saja meskipun aku tidak mengharapkan jika anak itu lahir dengan selamat " batin Bela

__ADS_1


Mereka segera pergi dari sana dan naik kedalam mobil untuk mencari makanan yang Desi mau, Bela hanya bersikap baik kali ini pada Desi karena dia mendengar jika kondisi Desi sangat lemah saat ini.


Sudah dua restoran yang mereka datangi namun tidak ada yang menjual Soto ayam itu, Bram tampak bingung tapi tidak dengan Bela karena sebenarnya di cafe miliknya juga selalu menjual makanan tersebut.


" Kita harus mencari kemana lagi sayang?? Desi benar-benar merepotkan " ucap Bram bingung


" Kak, aku punya ide?? "


" Ide apa sayang?? Coba katakan "


" Kalau soto ayamnya aku yang buat sendiri bagaimana.. bukan apa-apa hanya di cafe ku juga menjual Soto ayam.. rasa dan kebersihannya kakak bisa lihat sendiri.. atau kalau perlu aku yang buatkan saja untuk Desi "


" Aku tidak mau kamu lelah hanya karena menuruti keinginan Dasi "


" Tidak kak.. aku tidak lelah.. ayo kita ke Cafe ku saja " ajak Bela


" Baiklah "


Mereka segera menuju cafe milik Bela, disana Bela benar-benar membuatkan soto ayam untuk Desi di depan Bram, ia hanya ingin terlihat semakin baik di depan Bram. Walaupun sebenarnya ia repot harus membuatkan makanan untuk orang yang tidak penting.


" Dia istriku, Bela benar-benar berhati baik, tidak salah aku menjadikannya sebagai seorang istri.. " batin Bram


Setelah selesai, Bela segera memasukkan kedalam rantang lalu membawa soto ayam itu ke rumah sakit, ia ingin tahu reaksi Desi jika ia tahu kalau soto ayam itu adalah buatannya sendiri.


" Selesai juga makanan ini, sungguh merepotkan tapi untuk terlihat baik di depan Bram tidak masalah " batin Bela


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2