
Sedang enak-enaknya bermesraan bersama Bela tiba-tiba handphone Bram berbunyi siapa lagi yang menghubunginya kalau bukan Desi atau sang mamah. Dan benar saja sang mamah meneleponnya meskipun malas mengangkatnya tapi dia tidak mau jika sang mamah curiga padanya dengan terpaksa ia mengangkat teleponnya.
" Halo mah "
Bu Jeni langsung memarahi Bram, tidak tahan dengan makian sang mamah, ia langsung menutup teleponnya, bagi Bram ketika bersama dengan Bela ia tidak mau suasana hatinya rusak karena sang mamah dan Desi yang selalu mengganggunya.
" Loh kenapa di tutup teleponnya kak?? Pasti Bu Jeni sedang marah ya pada kakak?? " Ucap Bela menebak isi pembicaraan itu karena ekspresi wajah Bram langsung kesal
" Kamu tahu kan Mamah ku selalu saja cerewet masalah Desi, dia yang sakit kenapa aku yang harus repot.. aku benar-benar muak dengan drama yang Desi lakukan saat ini "
" Bagus Bram, teruslah membenci Desi karena semakin kamu membencinya semakin aku bahagia.. lihat Desi bahkan suami mu sendiri sekarang sedang membenci mu aku akan membuat Bram sangat membenci mu " batin Bela
" Ya karena Bu Jeni sangat sayang sama Desi jadi wajar jika sikap Bu Jeni seperti itu, entah bagaimana Bu Jeni memperlakukan aku jika dia tahu aku sudah menikah dengan kakak " ucap Bela sambil tersenyum
" Kamu jangan sedih sayang, Kamu salah besar jika mamah sangat sayang kada Desi karena yang mamah inginkan hanyalah seorang cucu.. jika kita bisa memberikan Mamah cucu, aku yakin pasti Mamah akan setuju dengan pernikahan kita bahkan merestui kita " ucap Bram memeluk Bela
" Kakak yakin?? Bagaimana kalau aku mengandung anak kita malah membuat aku semakin di benci oleh keluarga kakak.. terutama Desi " ucap Bela menatap wajah Bram
" Kamu tenang saja.. aku akan selalu menjaga mu.. tidak akan membiarkan siapa pun yang berani menyakiti mu " ucap Bram sambil tersenyum
" Kakak yakin.. "
" Yakin sayang percaya padaku.. " ucap Bram memeluk erat tubuh Bela
" Bela hanya dengan cara ini aku bisa menyakinkan kamu agar kamu mau mengandung anak ku, maafkan aku juga sudah menukarkan obat itu.. ini aku lakukan demi kebaikan kita.. " batin Bram
" Terima kasih kak... "
" Kami orang yang aku cintai saat ini jadi tidak usah berterima kasih padaku.. harusnya aku yang berterima kasih karena kamu mau menjadi istriku " ucap Bram mencium kening Bela
__ADS_1
" Bodoh menurut mu dengan berbicara masalah anak kamu bisa membuatku mau memiliki anak dari mu, jangan harap.. aku bahkan tidak peduli jika ibumu tidak peduli padaku.. karena tujuan utama ku untuk menghancurkan mu " batin Bela
Suara ponsel itu berdering kembali membuat Bram benar-benar marah dengan sikap sang ibu, sementara Bela menyuruh Bram untuk mengangkat teleponnya namun Bram tidak mengangkat teleponnya ia justru melangkah pamit pada Bela.
" Baiklah sayang, jangan lupa nanti aku tunggu di taman " ucap Bram mengecup bibir Bela
" Baiklah sayang " ucap Bela sambil tersenyum
Bram melangkah pergi dari ruangan Bu Mina menuju ruangan Desi pastinya dengan perasaan kesal dan marah tapi ia coba tahan sejenak karena biar bagaimanapun Bu Jeni adalah ibu kandungnya.
Bram melihat Desi dan sang mamah sedang duduk di ranjang tanpa sekata apapun mereka malah melihat kearah Bram dengan tatapan marah juga.
" Sudah jangan menatap ku seperti itu.. aku sudah disini Mah... Ada apa mamah memanggil ku terus " tanya Bram duduk di sofa tanpa memperdulikan ekspresi wajah mereka berdua
" Dari mana saja kamu Bram ?? " Bentak sang mamah
" Cari udara segar, disini sumpek dan membosankan " cibir Bram
" Salahkan saja dia yang tidak mau makan.. lagian ya mah, dia sudah besar kenapa repot-repot menyuruhnya makan, nanti kalau dia lapar juga pasti makan sendiri " ucap Bram
" Bram.. Desi itu sedang ingin kamu suapin, anak dalam kandungannya ingin lebih dekat dengan ayahnya.. yaitu kamu "
" Mah, kenapa mamah selalu menyuruh aku untuk suapin Desi, kenapa ga mamah saja yang suapin dia.. toh anak dalam kandungannya juga cucu mamah nantinya " ucap Bram
" Jadi Bram sudah mengakui anak ini adalah anaknya hingga dia bicara jika anak dalam kandungan ku adalah cucu Bu Jeni.. lihatkan nak ayahmu sudah mengakui mu.. kita pasti akan bahagia " batin Desi
" Astaga anak ini kenapa jadi keras kepala seperti ini, padahal dulu dia tidak seperti ini bahkan jika aku mengancam ingin bunuh diri dia selalu menuruti keinginan ku, tapi kenapa sekarang Bram terlihat cuek padaku.. apa ancaman ku sudah tidak mempan lagi untuk membuat Bram tunduk padaku " batin Bu Jeni
" Mah, aku ingin di suapin mamah saja " ucap Desi sambil tersenyum
__ADS_1
" Tapi Desi, bukannya kamu bilang ingin di suapi oleh Bram kenapa sekarang berubah pikiran seperti ini?? " tanya Bu Jeni heran
" Mamah bagaimana sih, cucunya mau di suapin neneknya malah nolak.. aneh tadi tadi terus memarahi aku karena menolak permintaan Desi tapi sekarang juga mamah nolak " cibir Bram
" Mamah bukan nolak tapi heran " jawab Bu Jeni
" Ada apa dengan Desi, kenapa tidak sesuai dengan rencana yang tadi kita buat berdua.. apa benar memang cucuku yang mau aku suapi?? " Batin Bu Jeni
" Mah, ayo suapi aku " pinta Desi
" Sudah mah cepat suapi Desi.. aku sibuk mau mengerjakan dulu laporan di kantor.. banyak yag harus aku periksa " ucap Bram membuka email yang ada di handphonenya
Sementara Bu Jeni segera menyuapi Desi tampak wajah Desi senang dengan perlakuan Bu Jeni, biar bagaimanapun Bu Jeni selama ini selalu baik padanya meskipun tidak gratis tapi kali ini ia bahagia di sayangi seorang ibu meskipun ibu mertua.
Karena sejak kecil ia tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya, ayahnya sibuk bekerja di kantor sementara sang ibu sibuk pergi bersama teman-teman, ia selalu merasa kesepian meskipun ia tidak kekurang uang.
" Begini ternyata di suapin seorang ibu, andaikan yang menyuapiku adalah ibuku sendiri tapi tidak apa-apa aku di suapi Bu Jeni karena aku juga sudah menganggap Bu Jeni seperti ibuku sendiri, aku sangat beruntung punya ibu mertua seperti Bu jeni.. Terima kasih Bu Jeni " batin Desi
" Andai aku punya seorang anak perempuan mungkin seperti ini rasanya, aku akan lebih menyayanginya dan tidak selalu mengawasi kehidupan Bram terus " batin Bu Jeni
Bram memperhatikan kedua orang di depannya sedang makan di suapi, ia teringat Bela andaikan ibunya bisa menyayangi Bela seperti ia menyayangi Desi mungkin dia yang akan lebih bahagia melihat hal itu terjadi.
" Akhirnya mamah mau suapi Desi, jadi aku tidak harus repot-repot menyuapi Desi, lagian pekerjaan ku banyak sekali, aku harus segera mengerjakannya agar bisa segera bertemu dengan Bela ku sayang " batin Bram
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...