Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Kabar Duka


__ADS_3

Bram sudah selesai menemani Desi sarapan bersama dengan kedua orangtuanya, ia sengaja menghubungi Bela ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, ia menelepon Bela sengaja untuk mengajak Bela pergi ke kantor bersama-sama.


Tapi ia dikejutkan dengan nada suara Bela yang menangis dan tampak panik, ia merasa tak enak hati. Rasanya sungguh tak sanggup mendengar tangis orang yang ia sayangi.


" Halo sayang.. kamu kenapa menangis.. kamu tenang dulu lalu katakan ada apa sayang?? " ucap Bram mulai panik


" Ibu kak... Ibu.. "


" Ibu Mina kenapa sayang.. " ucap Bram semakin penasaran


" Keadaan ibu semakin memburuk " ucap Bela sambil menangis


" Apa?? Baik kamu jangan panik, tunggu aku di sana.. aku sedang perjalanan menuju rumah sakit " ucap Bram langsung menutup teleponnya dan melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai Kesana.


" Semoga tidak terjadi sesuatu pada Bu Mina, kasihan Bela " batin Bram


Tak lama kemudian Bram sampai di rumah sakit, ia segera keluar dari mobilnya lalu berlari menuju ruangan mertuanya itu. ia melihat Bela sedang menangis di depan ruangan Bu Mina. Ia segera menghampirinya.


" Sayang... " Ucap Bram memeluk Bela


" Kak.. ibu kak... Aku tidak mau ibu pergi meninggalkan aku sama seperti kak Sintia " ucap Bela masih menangis


Bram melepaskan pelukannya " Dengarkan aku.. kamu harus tenang, kita harus banyak berdoa agar Bu Mina bisa melewati ini semua " ucap Bram mencoba menenangkan Bela


Kali ini Bela tidak bisa lagi menahan air matanya, Dia menangis tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi untuk kedua kalinya. Ditinggalkan sang kakak saja masih membekas di hatinya dan ia juga belum bisa mengiklaskannya apalagi sekarang harus di tinggal oleh ibu.


Ibu adalah wanita yang sangat Bela sayangi dan hanya dia sosok satu-satunya penyemangat Bela kali ini, Bela tidak bisa bayangkan jika aku harus kehilangan sang ibu.


" Bela, kamu harus kuat ya.. Aku yakin jika ibumu orang yang kuat, dia pasti bisa melawan penyakitnya " ucap Bram memeluk Bela kembali


Bela segera menghubungi sang ayah dan memberitahukan tentang kondisi keadaan sang ibu sekarang, Trisna yang mendapatkan informasi dari Bela tentang istri pertama itu segera menuju rumah sakit ia kaget dan khawatir setelah mendengar informasi tentang ibu.


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan sang ibu lalu datang menghampirinya, Bela segera melepaskan pelukan dari Bram dan segera menanyakan keadaan ibu.


" Bagaimana keadaan ibu saya dok?? Apa ibu saya baik-baik saja kan dok?? " tanyaku menghapus air mataku


" Maafkan kami Nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain, ibu Mina sudah tidak bisa di selamat lagi " ucapnya dengan raut wajah sedih


" Apa?? ibu?? .. tidak dok ibu pasti selamat kan Dok??, ibu saya baik-baik saja kan dok?? Dokter jangan bercanda.. " teriakan ku sambil menangis

__ADS_1


" Ly, katakan sesuatu padaku, dokter bohong pada ku kan Ly.. ayo jawab Ly.. " ucap Bela ketika Lily berada di samping sang dokter sambil menangis


" Maafkan aku Bel, ibu Mina memang sudah meninggalkan kita Semua, kamu harus mengikhlaskannya " ucap Lily sambil menangis


" Sayang Sudah, ibu sudah tenang disana, dia sudah tidak merasakan kesakitan lagi " ucap Bram berbisik pada Bela dan langsung memeluk Bela agar bisa lebih tenang


Candra di buat kaget ketika mendengar ucapan dokter dan Lily, ia terdiam seperti patung namun air mata mengalir deras di pipinya. Ia merasakan sakit tepat di hatinya meskipun Bu Mina bukan ibu kandungnya sendiri, tapi ia sudah menganggap Bu Mina seperti ibunya sendiri.


" Tidak ini tidak mungkin.. Bu Mina... Hiks.. hiks.. hiks.. " ucap Candra


Bela langsung mendorong tubuh Bram lalu segera masuk kedalam ruangan sang ibu, Dia melihat wajah pucat sang ibu, tubuhnya kaku dan tidak bergerak sama sekali. Semua alat juga sudah di lepaskan dari tubuh sang ibu oleh para suster yang ada disana.


" Ibu.. " lirihnya


Seketika Tubuh Bela lemas semua, hatinya benar-benar hancur saat ini, Dia tidak sanggup menghadapi semua kenyataan ini, ibu dan kakak pergi dari hidupku dalam sekejap mata kenapa Tuhan bisa sangat kejam padanya kali ini.


" Bu.. bangun Bu.. bangun.. hiks.. hiks.. Bela tidak mau kehilangan ibu " air mataku sudah benar-benar tidak bisa di tahan


Bram, Candra dan Lily segera menyusul ke ruangan ibu mina, tampak Mereka menangis melihat Bela menangis sambil mengguncang Tubuh ibu.


" Bu.. bangun Bu, jangan tinggalkan aku Bu.. bagaimana aku bisa hidup tanpa Ibu.. kakak juga sudah meninggalkan aku.. lalu aku sama siapa?? Aku harus bagaimana?? " lirihku


" Lepaskan, aku ingin membangunkan ibu, ibu tidak boleh pergi dari ku.. aku harus bagaimana bisa hidup tanpa ibu " ucapku masih menangis


Candra langsung memeluk Bela dengan erat ia benar-benar tidak tega melihat keadaannya yang terus menangis tidak henti melihat jenazah sang ibu. Sedangkan Bram menahan rasa cemburunya ia tidak mau memperburuk keadaan apalagi melihat wanita yang ia cintai benar-benar terpukul oleh kepergian ibunya.


" Ibu.. bangun.. Bu.. ibu harus bangun.. " ucap Bela merasakan tubuhnya lemas dan sudah tidak ingat apapun.


" Bela.. "


" Bela.. "


" Bela... "


Seketika mereka panik, Bram segera menggendong Bela untuk di baringkan di atas sofa sementara Lily langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan ku


" Candra kamu segera urus saja proses administrasi jenazah Bu Mina, biar aku yang temani Bela.. " ucap Bram


" Tapi.. "

__ADS_1


" Bela pingsan, kamu kan keluarganya Bela, aku mohon dengan sangat kali ini, kamu bisa mengerti.. "


" Bukan begitu maksud ku.. tapi baiklah " ucapnya segera pergi mengejar jenazah Bu Mina


Tanpa rasa curiga Candra langsung mengganggukkan kepalanya tanda setuju, ia bersama pada suster membawa jenasah Bu Mina keruangan jenazah untuk di mandikan.


Tak lam kemudian dokter datang bersama Lily dengan membawa ranjang rumah sakit, Bram segera membaringkan Bela di sana, dokter pun segera memeriksa keadaan Bela.


" Ly, aku minta tolong padamu.. Candra sekarang sedang mengurus proses administrasi jenazah Bu Mina... Tolong di bantu agar prosesnya lebih mudah.. " ucap Bram sengaja menyuruh Lily membantu Candra agar ia lebih leluasa berbicara dengan dokter


" Ah ia.. tapi bagaimana dengan Bela " tanya Lily bingung


" Biar Bela aku saja yang jaga.. kamu tenang saja.. sebentar lagi Bela juga akan segera sadar " ucap Bram sambil tersenyum


" Baiklah kalau begitu, aku titip Bela " ucap Lily segera pergi dari ruangan itu


Dokter memberikan infusan pada Bela karena kondisinya Lemah sekarang, dokter juga menyarankan Bela untuk memakan makanan setelah ia sadar.


" Dok bagaimana keadaan Bela?? " Tanya Bram dengan wajah panik


" Dimana Keluarganya Bela?? " Tanya dokter


" Saya suaminya Dok "


" Saya hanya ingin menyampaikan jika sebenarnya keadaan nona baik-baik saja.. ia hanya shock menerima kenyataan kematian ibunya, jadi kondisinya drop seperti ini, saya sarankan untuk Tuan bisa menghibur Nona.. jangan biarkan nona stres seperti itu, karena itu bisa mempengaruhi kondisinya.. "


" Untuk memastikan semuanya baik-baik saja, nona Bela harus di bawa ke dokter ahli kandungan.. "


" Terima kasih dok " ucap Bram senang


" Sama-sama... Kalau begitu saya permisi " ucap sang dokter pamit


" Dokter kandungan?? apa Bela hamil.. Aku harus menyampaikannya bagaimana Bel.. ada kabar baik di saat kamu seperti ini.. aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini Bel.. " batin Bram


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2