Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Menemani Desi


__ADS_3

Bram dan Bu Jeni sudah berada di ruangan Desi, mereka melihat keadaan Desi memang sangat lemah, infus di pasang di tangannya sedangkan di hidungnya di pasangselang pernapasan.


Bu Jeni segera menghampirinya sambil menangis dan menggenggam tangan Desi " Desi.. bagaimana bisa keadaan mu seperti ini, rasanya mamah sedih sekali nak "


" Bram... Bram... " Panggil Desi dengan suara lemah


" Drama lagi " cibir Bram males melihat wajah Desi


Bu Jeni langsung menarik tubuh Bram hingga kini Bram ada di samping ranjang tempat tidur Desi, Desi yang melihat jika suaminya ada di sampingnya langsung memegang tangan Bram dengan hati yang bahagia.


" Bram.. " panggil Desi lagi


" Apa?? " Ucap Bram sinis


" Anak ini dasar.. kenapa tidak bisa lembut sedikit pada Istrinya.. maafkan Bram ya Des.. " ucap Bu Jeni sambil tersenyum


" Tidak apa-apa mah, aku justru senang karena Bram ada di samping ku saat ini, dia menemaniku.. rasanya seperti mimpi " ucap Desi sambil meneteskan air matanya


" Desi kamu jangan menangis.. tidak baik untuk kesehatan anak dalam kandungan mu " ucap Jeni


" Mah, aku sedih karena kata dokter kondisi anak dalam kandungan ku sangat lemah " ucap Desi benar-benar sedih


" Kalau begitu jaga yang benar kandungan mu " ucap Bram


" Bram... " Bentak sang mamah


" Bram... Aku butuh kamu saat ini.. bolehkah aku memelukmu sekali ini saja " ucap Desi dengan penuh harap


" Tidak.. " tolaknya


" Bram, Desi butuh kamu saat ini, apa susahnya kalau kamu memeluknya sekali saja.. mungkin itu permintaan dari anak mu " ucap sang ibu


" Mah.. aku tidak mau "


" Bram, ingat kata dokter.. kamu harus membuat Desi bahagia agar anak dalam kandungannya kuat "


" Baiklah, hanya sekali " ucap Bram pasrah


" Terima kasih Bram " ucap Desi senang

__ADS_1


Ternyata tanpa di duga Bu Jeni mengambil foto mereka, di sana tampak Desi merasa senang, ia tersenyum dan terlihat sangat bahagia meskipun hanya berpelukan saja dengan Bram.


" Haruskah aku sakit dulu Bram agar bisa melihat kamu lebih peduli padaku.. aku senang hari ini Bram... Aku mencintaimu Bram " Batin Desi


" Aku harap Bela tidak melihat hal ini, bisa-bisa dia salah paham padaku.. aku tidak mau jika Bela marah dan meninggalkan aku tapi aku juga tidak bisa menolak permintaan Desi ini karena mamah " batin Bram


" Ini harusnya awal yang bagus.. aku harus membuat mereka lebih dekat karena Desi menantu pilihan ku dan yang terbaik untuk mendampingi Bram.. semoga mereka bisa seterusnya mesra " batin Bu Jeni


Tak lama kemudian Bram langsung melepaskan pelukannya, lalu suster datang dan memberitahukan jika runagan Desi akan segera di pindahkan, Bu Jeni meminta kamar VVIP di rumah sakit ini, Bram ingat jika ruangan VVIP itu hanya ada di lantai tiga, ia senang karena ruangan Desi tak jauh dari ruangan Bu Mina ibunya Bela.


" Tidak apa-apa jika aku harus menemani Desi di sini karena setelah Desi tidur aku bisa menemui Bela " batin Bram


Mereka langsung mengikuti suster yang membawa Desi ke ruangan dimana Desi akan menginap di rumah sakit ini. Ruangannya cukup nyaman dan lumayan besar Desi senang sekarang karena Bram masih berada di sini menemaninya.


" Mah... " Panggil Desi


" Ia nak ada apa?? " Tanya Bu Jeni langsung menghampiri Desi sedangkan Bram sedang duduk di sofa sambil mengutak-atik handphonenya, bisa di tebak jika Bram sedang mengirim pesan pada Bela jika dirinya sedang bersama dengan Desi ruang inap Desitak jauh dari ibu Mina.


" Mamah sudah memfoto kalian lihat " bisik Bu Jeni


" Bagus Mah, tolong kirim fotonya padaku, akan aku tunjukan pada seseorang " ucap Desi sambil tersenyum jahat


" Pada orang yang mau merebut Bram dari aku "


" Siapa nak, biar mamah beri dia pelajaran?? "


" Aku juga tidak tahu mah.. yang jelas kali ini aku akan menang, aku akan membuat dia mundur dan meninggalkan Bram dengan sendirinya.. dia harus tahu berhadapan dengan siapa dia mau melawanku " bisik Desi


" Bagus, ini baru menantu mamah, mamah pasti akan dukung kamu.. " ucap Bu Jeni sambil tersenyum


Suster kini datang menghampiri Desi sambil memberikan makan untuk Desi, Bu Jeni yang melihat itu langsung menatap wajah putranya ia punya rencana agar hubungan antara Bram dan Desi semakin dekat.


" Nona Desi tolong di habiskan makanannya agar ibu cepat pulih.. "


" Terima kasih suster "


Sang suster langsung pergi dari sana, Bu Jeni langsung memanggil Bram, merasa dirinya di panggil Bram segera menghampiri sang ibu, ia tidak menyangka jika sang ibu menyuruhnya untuk menyuapi Desi.


" Kamu dengar ucapan Suster kan Bram " tanya sang mamah

__ADS_1


" Lalu apa hubungannya dengan aku?? " tanya Bram


" Kamu cepat suapi Desi " titah sang mamah


" Aku tidak mau mah... " Tolak Bram


" Tidak apa-apa mah kalau Bram tidak mau menyuapi aku "


" Kamu sudah besar.. makan sendiri masih punya tangan kan?? " Ucap Sinis Bram


" Bram, mamah tidak mau tahu kamu harus suapi Desi sekarang juga?? " Ucap sang mamah dengan nada marah


" Baiklah.. asalkan sudah ini aku pergi ke kantor " ucap Bram


" Kamu harus tetap tinggal disini Bram.. tinggalkan pekerjaan mu untuk satu hari saja.. biarkan Deon dan sekretaris baru mu yang menanganinya " ucap Bu Jeni kesal


Tak mau melihat sang mamah terus-menerus memarahinya ia segera mengambil mangkuk yang berisi bubur lalu menyuruh Desi membuka mulutnya, walaupun sikap Bram tidak romantis pada Desi, tapi Desi menganggap jika hal itu romantis. Bisa dekat seperti ini dengan Bram ia sangat senang.


" Buka mulut mu.. "


" Bram masa kamu menyuapi seperti itu, kamu harus lebih romantis dong " protes sang mamah


" Mamah kenapa banyak protes, yasudah mamah saja yang menyuapi Desi.. aku capek " ucap Bram


" Mah, biarkan saja.. " ucap Desi langsung membuka mulutnya


Bram langsung menyuapi Desi kali ini, ia berpikir kalau keadaan Desi membaik makan Desi akan segera pulang ke rumah, ia tidak perlu repot-repot harus mengurus Desi di rumah sakit ini. apalagi permintaan sang mamah selalu aneh-aneh mau menolak juga susah.


" Rasanya tak sanggup jika harus seperti ini, aku jadi tidak punya waktu berduaan dengan Bela " batin Bram


Sedangkan Bu Jeni Tak mau ketinggalan momen berharga, Bu Jeni langsung memfoto lagi Bram dimana Dia sedang menyuapi Desi, terlihat Desi tersenyum senang ketika Bram mau menyuapinya.


" Kalau begini kan kalian terlihat mesra, orang lain pasti iri melihat hal ini " batin Bu Jeni


" Bagus Mah.. akan aku pamerkan pada orang yag berani ingin merebut Bram dari ku, dia harus tahu jika dia akan kalah jika berhadapan dengan Desi. karena aku sudah menjadi istri Sah Bram " batin Desi


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2