Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Keadaan Bram


__ADS_3

Bram sudah dua hari berada di rumah sakit karena tubuhnya yang lemah dan asupan makan yang kurang membuat dirinya drop apalagi pikirannya sedang kacau karena kehilangan sosok kekasih hatinya.


Bram tidak memberitahukan penyakitnya pada keluarganya apalagi pada Desi, yang tahu keadaannya adalah Deon sosok teman dan asisten yang merangkap sebagai sekretarisnya saat ini. Sejak Bram di rumah sakit Deon setiap malam selalu menemaninya dengan setia seperti saat ini.


" Astaga Bram, kenapa kamu tidak memakan makanannya lagi, kapan bisa sembuh kalau begini caranya " ucap Deon dengan kesal


" Aku tidak mau sembuh, aku ingin menyusul Sintia " ucap Bram membuat Deon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan isi pikirannya saat ini.


Deon harus bisa membuat Bram kembali seperti dahulu, apalagi perusahaan jadi kacau karena Bram jarang pergi ke kantor, dia harus bekerja ekstra agar perusahaan bisa stabil sungguh membuat repot dengan keadaan seperti ini.


" Kamu ini bagaimana sih, kalau kamu menyusul Sintia bagaimana dengan Bela.. tadi aku melihat laki-laki yang bersama dengan Bela ada di rumah sakit ini.. apa bela sakit " ucap Deon mampu membuat Bram penasaran


" Apa Bela sakit, dia sakit apa?? " tanya Bram mulai penasaran apalagi dia sekarang ingat akan janjinya pada Sintia dan Bela.


" Entahlah aku juga tidak tahu.. aku cuma lihat laki-laki itu saja dan tidak melihat Bela "


" Dimana kamu lihat laki-laki itu Deon, cepat katakan?? " tanya Bram


" Kalau kamu ingin tahu, cepat habiskan makanannya lalu minum obatnya agar tubuhmu kuat dan kita bisa mencari sosok bela di rumah Sakit ini " ucap Deon langsung memberikan makanan yang sejak tadi ada di atas meja tanpa di sentuh oleh Bram.


" Apa yang di ucapkan Deon ada benarnya " batin Bram


Ternyata Ucapan Deon kali ini mampu membuat Bram menuruti ucapannya, ia memakan makanannya walaupun dengan terpaksa namun sampai habis. Setelah selesai makan Deon langsung memberikan obat pada Bram untuk di minum.


" Akhirnya Bram bisa kembali bersemangat lagi.. maafkan aku Bela harus membawamu dalam masalah ini karena ini satu-satunya cara agar Bram kembali bangkit, aku tidak bisa melihat seperti ini terus " batin Deon


" Kalau begitu ayo kita keluar " ajak Bram setelah selesai meminum obatnya


Deon langsung membawa kursi roda, Bram duduk di kursi roda itu dengan wajah bersemangat, kali ini Deon punya cara agar Bram bersemangat kembali untuk sembuh, sosok Bela kini bisa membuat Bram kembali bersemangat ini pasti karena rasa bersalah Bram pada Sintia pikir Deon.


" Ayo.. " ajak Deon sambil tersenyum


Mereka tampak berjalan-jalan tak jauh dari ruangan Bram, Deon juga menunjukkan dimana dia bertemu dengan sosok laki-laki yaitu Candra. Mereka terus mencari-cari kebenaran Bela namun tidak bertemu.

__ADS_1


" Bela kamu sebenarnya ada dimana, apa benar kamu Sakit, kenapa kamu tidak memberitahukan penyakit mu padaku, telepon ku juga tidak pernah kamu angkat.. " batin Bram


" Bram sebaiknya kita kembali ke kamar, keadaan mu belum pulih, kita cari lagi besok " bujuk Deon


" Tapi aku mau ketemu bela, aku ingin memastikan keadaannya, aku tidak mau dia sakit " ucap Bram


" Ini sudah larut malam, kita cari besok lagi ya, aku janji akan menemukan keberadaan Bela besok " ucap Deon


" Baiklah, kita kembali ke ruangan ku " ucap Bram dengan wajah kecewanya


" Maaf Bram sebenarnya aku tahu keberadaan Bela dimana, tapi aku tidak yakin Bela mau bertemu dengan mu, aku berkata seperti tadi hanya ingin membujuk mu untuk makan dan minum obat agar kondisimu cepat pulih " batin Deon


" Kalau sampai Bela sakit, aku akan menjadi orang yang gagal menjaga Bela dan aku juga sudah gagal menjaga Sintia, aku tidak boleh gagal menjaga Bela karena aku sudah janji pada Sintia, " batin Bram


Bram kembali ke ruangannya di temani Deon, ia sekarang sudah mau meminum obat tanpa harus Deon bujuk lagi, ia juga sudah mau memakan makanan sendiri. Deon senang dengan perubahan itu, Bram segera tidur di ranjang tempat tidur sedangkan Deon tidur di Sofa yang di sediakan di ruangan Bram.


" Tidurlah Bram agar tubuhmu cepat pulih, ingat besok kita harus mencari keberadaan Bela lagi " ucap Deon


.


.


Keesokan harinya,


.


Deon sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor namun sebelum ke kantor ia pergi ke kantin rumah sakit karena Bram memintanya untuk membelikan sarapan yang ada di sana, Bram bosan dengan makanan rumah sakit yang rasanya tidak enak dan hambar.


Namun langkahnya di kagetkan dengan sosok nyonya besar yaitu ibunya Bram, Nyonya Jeni dan Desi yang sekarang berada di hadapannya. " Nyonya... Kenapa anda bisa ada disini " tanya Deon dengan wajah gugupnya


" Kenapa kamu kaget, Harusnya saya yang bertanya pada kamu Deon dimana putra saya berada?? " tanya Jeni dengan nada marah


" Astaga bagaimana ini... Bisa gawat jika Bram tahu kalau Bu Jeni dan Desi ada disini.. aku harus jawab apa sekarang?? " batin Deon

__ADS_1


" Deon tolong jawab " ucap Desi dengan nada kesal


" Jawab Deon atau Saya pecat kamu sekarang juga, aku akan telepon suamiku untuk segera mengganti asisten Bram dengan orang lain " ancam Bu Jeni


" Jangan Nyonya, Saya masih butuh pekerjaan ini.. " ucapnya


" Kalau begitu cepat katakan dimana Bram.. " ucap Desi


" Dasar dua nenek lampir bisanya cuma mengancam doang, Bram maafkan aku dengan terpaksa aku harus memberitahukan keberadaan mu pada mereka, aku punya adik yang masih butuh biaya kuliah, aku tidak mau di pecat " batin Deon


" Silahkan ikut saya Nyonya " ucap Deon segera menunjukan ruangan Bram


Desi merasa sedih karena dari informasi yang ia terima tadi pagi jika Bram memang sedang ada di rumah sakit ini, ia langsung mengajak ibu mertuanya untuk segera pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali.


" Deon, bagaimana keadaan Bram saat ini " tanya Bu Jeni dengan nada khawatir


" Aku kerjain mereka berdua karena sudah berani mengancam ku " batin Deon tersenyum licik


" Anda bisa lihat sendiri keadaannya, Bram masih lemas dan wajahnya pucat " ucap Deon tidak berbohong karena apa yang ia ucapkan benar


" Apa.. " ucap Desi berwajah sedih


" Bagaimana ini mah " tanyanya pada ibu mertuanya


" Kamu jangan panik, kita harus melihat Bram secara langsung kita tidak boleh percaya pada orang lain begitu saja " ucap Bu Jeni


" Saya tidak berbohong Nyonya " ucap Deon


" Tuh mah, bagaimana ini " ucap Desi panik


" Desi kendalikan dirimu, Bram pasti baik-baik saja kamu jangan khawatir.. ok.. " ucap Bu Jeni mencoba menenangkan Desi


" Awas saja kalau kamu berani berbohong pada saya " ucap Bu Jeni dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2