
Bram sebenarnya malas mendengarkan kebohongan Desi tapi ia juga tidak bisa meninggalkannya sekarang demi permintaan sang mamah barusan. Tiba-tiba Handphonenya berbunyi nama Bela sang istri tercinta tertera di layar handphonenya, ia segera pamit di hadapan para wartawan dan mengatakan jika ada urusan penting.
Urusan penting itu adalah urusan dengan Bela ia tahu pasti sekarang Bela sedang sedih karena ucapan Desi barusan yang berbohong di depan para wartawan, hal itu membuat Bram merasa bersalah pada istri keduanya itu.
Bram segera masuk kedalam mobil sambil menelepon Bela kembali karena tadi sewaktu ia mengangkat teleponnya Bela malah menutup teleponnya. Bram benar-benar di buat panik sekarang takut Bela marah dan kondisinya kembali drop lagi.
" Ayo angkat teleponnya sayang.. " ucap Bram masih mengendarai mobilnya
Bram semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di rumah sakit, ia tidak mau Bela marah padanya gara-gara masalah Desi apalagi sekarang handphonenya tidak di angkat sama sekali. saat ini ia mencoba menghubungi Bela kembali namun masih belum di angkat.
Tak lama kemudian ia sudah sampai di rumah sakit, ia segera berlari menuju ruangan Bela, ia sangat buru-buru ingin segera bertemu dengan Bela. Ketika Bram membuka pintu ruangan Bela terlihat orang yang ia khawatirkan sedang menangis tersedu-sedu sambil menonton televisi.
" Sayang... " panggil Bram
" Berhenti disana kak.. jangan dekati aku kak.. " ucapnya sambil menangis
Bram benar-benar merasa bersalah sudah membuat orang yang ia cintai menangis seperti sekarang, rasanya hatinya juga ikut sedih melihat Bela menangis.
" Sayang, aku bisa jelaskan padamu tentang ucapan Desi barusan " ucap Bram dengan pelan-pelan mendekati Bela
" Kata kakak kalau malam hari kakak tidak akan menemui Desi tapi sekarang apa?? Kakak sudah dua kali menemui Desi tapi tidak bicara padaku, ada apa kak?? Apa aku sudah tidak penting lagi di hati kakak.. apa kakak sudah tidak mencintai aku lagi " ucap Bela masih menangis
" Bela sayang, tenangkan dirimu jangan menangis terus, kamu harus bisa menjaga emosi mu agar anak dalam kandungan kita baik-baik saja " bujuk Bram
" Jawab pertanyaan ku yang tadi kak.. jawab " protes Bela
__ADS_1
" Baik, aku akan jawab semua pertanyaan mu tapi kamu hapus air matamu sekarang juga, jangan menangis lagi " ucap Bram semkin mendekati tubuh Bela
" Ok, asal kakak berkata jujur padaku " ucap Bela
" Aku tidak pernah bohong padamu sayang " seru Bram
" Kalau begitu katakan kak, cepat katakan " ucap Bela penasaran
" Bram tidak boleh mulai mencintai Desi, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, bisa berantakan rencanaku.. tenang Bela kamu jnagan emosi seperti orang yang sedang cemburu " batin Bela
" Tadi mamah menelepon ku dan menyuruh aku pulang karena ada acara penting di rumah, aku tidak bisa menolak permintaan mamah, aku ingin minta ijin padamu sebenarnya tapi kamu sedang tidur mana tega aku membangunkan mu, aku pergi langsung ke rumah mamah karena aku pikir tidak akan lama disana " ucap Bram jujur
" Kakak tidak sedang berbohong kan?? " Tanya Bela
" Terus kenapa kakak diam ketika Desi menggandeng tangan kakak.. apa kakak senang di gandeng oleh Desi "
" Ada apa dengan ku, kenapa harus bertanya seperti itu seperti orang yang sedang cemburu saja, mana mungkin aku cemburu pada Bram, aku tidak mencintai Bram sama sekali " batin Bela
" Lucunya Bela ketika dia sedang cemburu seperti ini.. membuatku semakin mencintai mu sayang " batin Bram
" Mana mungkin aku senang di gandeng Desi, itu semua demi pencitraan di depan kamera saja sayang.. kamu tidak usah khawatir cintaku semua hanya untuk mu, tidak ada cinta untuk Desi sama sekali " ucap Bram melepaskan pelukannya dna mencium bibir Bela
" Apa Kakak yakin?? " Tanya Bela penasaran
" Di hatiku ini sudah penuh dengan namamu seorang, tidak akan ada ruang untuk wanita lain " ucap Bram sambil tersenyum
__ADS_1
" Jangan lakukan itu kak.. hatiku benar-benar kesal melihat hal itu.. "
" Ia sayang, tunggu sebentar lagi aku akan segera menceraikan Desi dan hidup kita akan bahagia " ucap Bram memeluk Bela kembali
" Aku takut Bram saat waktunya tiba, apa aku sanggup kehilangan mu.. ish aku ini kenapa lagi, sadar Bela kamu harus fokus pada rencana awalmu " batin Bela
“ Aku juga sudah tidak sabar sayang, aku harus membuat bukti yang akurat untuk menceraikan Desi ” pikir Bram
Bela membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang tempat tidurnya ditemani oleh Sang suami. Bram berbaring di samping Bela mereka tidur dalam satu ranjang.
Bram terus memeluk Bela agar Bela lebih tenang dan cara itu ampuh entah kenapa Bela merasa nyaman dalam pelukan Bram, rasa aman dan damai kini ia rasakan didalam pelukan Bram.
" Terima kasih Bram sudah sangat mencintai ku, tapi semakin kamu mencintai ku semakin aku tidak ingin melepaskan ku, apalagi pelukan seperti ini.. rasanya nyaman sekali.. " batin Bela
Ya memang hati dan pikiran tidak selaras sama halnya yang di rasakan oleh Bela saat ini, ketika logika berpikir untuk menjauh dari Bram namun hatinya malah senang di peluk seperti ini oleh Bram.
Entah bagaimana nantinya jika waktunya tiba, apakah Bela sanggup meninggalkan laki-laki yang sudah memberikan kenyamanan di hidupnya apalagi ketika orang-orang yang ia sayangi meninggalkannya hanya Bram lah yang selalu mendampinginya melewati hari-hari terburuknya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1