Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Tantang Tes DNA


__ADS_3

Bela tahu jika kedatangannya ke rumah sakit tidak akan di sambut baik oleh mertuanya ataupun suaminya, ia hanya ingin memberikan bukti-bukti kejahatan Desi. Ia berharap jika suaminya akan percaya padanya walaupun ibu mertuanya pasti akan marah padanya.


" Selamat pagi suami ku dan Mamah mertua ku tersayang.. " sapa Bela sambil tersenyum


" Cih, tidak sudi aku jadi mamah mertua mu.. sampai kapanpun yang akan menjadi menantu di keluarga ku adalah Desi bukan kamu " ucapnya dengan penuh kebencian


" Mamah mertua jangan galak-galak kasihan anak dalam kandungan ku, dia kaget di marahi oleh neneknya " ucap Bela membuat Bu Jeni semmain marah


" Dia bukan cucuku... Karena cucuku adalah anak yang di kandung Desi sedangkan kamu.. aku tidak tahu apakah kamu mengandung anak Bram atau mengandung anak laki-laki lain " cibirnya


" Mah.. anak dalam kandungan Bela juga anak ku.. mamah jangan berkata sembarangan seperti itu.. "


" Sembarangan kamu bilang... Mamah bicara fakta.. kita tidak pernah tahu kelakuan dia di belakang mu bagaimana?? Mamah juga tidak yakin anak dalam kandungannya itu adalah anak mu " cibir Bu Jeni lagi


" Tahan emosimu Bela.. " batinnya


" Mah, sudah mah ini rumah sakit jangan bikin keributan disini ga enak sama pasien yang lain " ucap Bram menenangkan sang mamah, ia tidak mau Bela semakin di hina oleh ibu kandungnya sendiri


" Katakan ada perlu apa kamu kesini.. jangan bilang mau meminta uang, kamu itu harusnya jangan merusak kebahagiaan Desi dan Bram, ingat ya anak Desi sudah lahir, cucu laki-laki ku akan jadi penerus perusahaan Bram, kamu tidak akan dapat sepeserpun dari hartanya Bram "


Rasanya ingin Bela melawan perkataan Nenek lampir satu ini dan berkata jika dia tidak butuh harta Bram, ia masih menahan emosinya, ia tidak boleh terbawa emosi yang nanti akan membuatnya menyesal.

__ADS_1


" Aku hanya ingin memberikan ini pada mu Kak.. " ucap Bela memberikan amplop coklat pada Bram


" Kalau amplop coklat ini berisi berkas perceraian kalian, dengan senang hati bram akan menandatanganinya sekarang juga agar kalian segera bercerai dan Bram bisa lepas dari wanita seperti mu.. " ucap Bu Jeni merebut amplop yang di berikan Bela


" Sayangnya itu bukan amplop berkas perceraian antara aku dan Kak Bram, maaf ya mah membuat mamah sedikit kecewa.. " ucap Bela sambil tersenyum


" Cih mamah, aku bukan ibumu.. " cibirnya


" Itu adalah bukti-bukti jika Anak dalam kandungan Desi bukan anak Bram.. " ucap Bela sambil tersenyum


" Jangan fitnah kamu.. " bentak Bu Jeni marah besar


" Kenapa Bela bersikap seperti ini di saat Desi sedang kritis, apa maunya bela " batin Bram


" Kalau kamu tidak percaya kamu bisa selidiki bukti-bukti yang aku berikan.. aku bersumpah jika semua bukti yang aku berikan pada mu itu asli tidak di rekayasa sama sekali "


Plak,,


" Wanita tidak tahu diri.. memfitnah orang sembarangan.. kamu pikir aku akan percaya dengan semua foto-foto ini.. simpan semua khayalan mu.. " ucap Bu Jeni dengan sangat marah


" Kalau mamah tidak percaya, kita bisa buktikan dengan cara tes DNA pada anak Desi, bagaimana apa kakak setuju?? " tantang Bela

__ADS_1


" Kenapa harus tes DNA segala sudah jelas-jelas anak dalam kandungan Desi adalah anaknya Bram, darah daging Bram.. Itu tidak masuk akal jangan-jangan kamu ingin merekayasa hasil tes DNA itu " cibir Bu jeni


" Kenapa Kak Bram takut untuk lakukan tes DNA pada anak yang kakak anggap anak kakak.. aku bisa pastikan jika anak itu bukan anak kak Bram " ucap Bela


" Cukup Bela, anak itu pasti anak ku.. jangan pernah bicara yang bukan-bukan " bentak Bram


" Untuk pertama kali kamu berpihak pada Desi bahkan sampai membentak ku seperti ini.. aku sadar ternyata aku sudah tidak berarti lagi untuk mu Bram.. ternyata keputusan ku untuk meninggalkan mu memang benar " batin Bela


" Ok kita buktikan, jika anak itu anak kak Bram, aku akan mundur dari kehidupan kalian.. tapi jika itu bukan kak Bram ceraikan Desi.. bagaimana?? " ucapan Bela sontak membuat Bu Jeni dan Bram kaget.


Bram kaget karena bisa-bisanya Bela berkata seperti itu, padahal ia sama sekali tidak ingin meninggalkan Bela apalagi menceraikannya, sedangkan di sisi lain Bu jeni tampak berpikir mungkin ini jalan satu-satunya untuk memisahkan putranya dengan wanita yang tidak ia sukai.


" Aku yakin anak itu adalah anak Bram, wanita ini sangat bodoh, ini sudah takdir Tuhan agar dia pergi dari kehidupan Bram " batin Bu Jeni


" Aku tidak mungkin menceraikan Bela " batin Bram


" Ok, kami setuju dan kamu harus bersiap-siap pergi dari hidupnya Bram untuk selamanya " cibir Bu Jeni sambil tersenyum licik


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2