Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Rasa Malu Desi


__ADS_3

Sedangkan di butik, Desi tampak kebingungan karena harga bajunya terlalu mahal, meskipun ia selalu di berikan uang dari sang ayah tapi tidak sebanyak itu. Antara malu dan marah yang ia rasakan sekarang.


" Silahkan Nona, ikut saya kekasir untuk membayar pakaian ini " ucap sang pelayan yang langsung di ikuti Desi


" Totalnya jadi tiga ratus juta "


" Apa?? kamu Ga salah harganya tiga ratus juta, kalian jangan coba menipu saya ya?? " ucap Marah Desi


" Tapi memang segitu totalnya Nona "


" Tidak mungkin, saya bisa laporin kalian pada pemilik butik ini, jika kalian ingin memeras saya " ancam Desi


" Tapi... Nona?? " Ucapnya bingung


" Dimana pemilik butik ini " teriakannya sengaja memancing pemilik butik ini untuk menghampirinya.


Ternyata sang pemilik butik itu langsung menghampirinya saat namanya di sebut, meskipun ia tidak tahu ada masalah tapi ia mencoba untuk tetap tenang menghadapi setiap customer.


" Selamat siang Nona, kenapa ribut-ribut?? ada yang bisa saya bantu?? "


" Kamu pemilik butik ini?? " Tanya Desi


" Ia benar Nona, ada yang bisa saya bantu "


" Tolong ya karyawannya di kasih tahu kalau menipu customer itu ga baik?? Bisa-bisa saya bikin Viral butik ini pelayanannya jelek masa mau tipu-tipu " ucap Desi dengan nada sinis


" Maksud dari Nona ini bagaimana?? Maaf saya kurang mengerti?? "


" Jadi begini ya Nyonya, masa baju seperti ini harganya tiga ratus juga?? Yang benar saja " ucap Desi dengan raut wajah marah


" Bukan begitu Nyonya, tadinya memang baju ini sudah ada yang mau beli tapi Nona ini bilang dia mau bayar sepuluh kali lipat?? " Ucap sang pelayan mencoba menjelaskan permasalahan ini

__ADS_1


" Ya memang saya bicara seperti itu tapi masa ia harga baju ini mahal sekali.. palingan juga baju ini seharga lima Juta " ucap Desi


" Oh, jadi begitu permasalahannya, baik saya jelaskan terlebih dahulu jika harga baju yang anda pegang itu harganya tiga puluh juta, jika di kalikan sepuluh?? saya rasa anda juga bisa menghitung sendiri harganya jadi berapa " ucap pemilik butik itu membuat Desi kegat dan malu sendiri


" Apa?? Tiga puluh juta ?? " Ucap Desi benar-benar kaget


" Sial, bagaimana ini?? Kenapa aku tadi tidak lihat harga dulu sebelum aku membelinya?? Kenapa tidak biarkan saja Bela yang malu.. mana uangku tinggal lima puluh juta lagi?? Ayah pasti marah.. aku harus minta tolong pada siapa ?? Batin Desi


" Bagaimana Nona mau di bayar cash atau pakai kartu kredit ?? "


" Sebentar dulu ya, saya telepon dulu seseorang " ucapnya menahan rasa malunya


" Silahkan Nona " ucap Mereka


Desi langsung mengambil handphone lalu menghubungi Bram, namun tidak di jawabnya sungguh ia merasa panik sendiri dengan keadaan ini, seperti di permalukan semasa hidupnya ia belum pernah merasa malu seperti sekarang. Ia langsung menelepon sang mertua berharap di angkat karena ia sudah tidak tahu pada siapa lagi yang akan membantunya.


" Halo mah " ucapnya sambil menangis


" Bukan itu mah, tolong aku mamah, aku mohon!! "


" Kamu bicara pelan-pelan sekarang biar Mamah bisa bantu kamu ? "


" Mah, aku sedang di butik, aku kurang uang untuk membeli baju " ucap Desi


" Oh begitu, mamah kira ada apa?? Kami kurang berapa nak ?? " Tanyanya


" Kurang tiga ratus juta ??, Mamah bisa kan tolongin aku?? "


" Tiga ratus juga?? Memang harga bajunya tiga Ratus juta mah, nanti aku jelasin semuanya?? "


" Baiklah, mamah akan telepon dulu Bram supaya dia bayarin kamu "

__ADS_1


" Mah jangan sama Bram, pakai uang mamah dulu, nanti aku sudah sampai di rumah baru aku kembalikan " ucapnya tidak mau bila Bram tahu


" Kamu ini bagaimana, semua keuangan mamah di atur oleh Bram, minimal mamah harus ijin dulu sama Bram dan dia akan transfer uangnya "


" Baiklah mah.. tapi mamah segera kabari aku jika Bram sudah transfer uangnya " ucapnya langsung menutup teleponnya


" Punya anak kaya raya tapi kenapa uangnya mau di batasi sama anaknya.. dasar mertua tidak tahu menghamburkan uang tapi tidak apa-apa, setelah Bram jadi milikku seutuhnya semua keuangan biar aku yang atur " ucap Desi dalam hatinya


Desi menutup teleponnya menunggu sang mertua mentransfer uang padanya, namun hingga setengah jam ia tak mendapatkan kabar dari sang mertua, ia menghubungi kembali mamah mertuanya.


" Mah, bagaimana.. aku sudah lama disini menunggu kabar dari mamah " ucapnya dengan kesal


" Maf Des, mamah sudah hubungi Bram tapi teleponnya tidak di angkat, mamah bingung harus bagaimana?? " Jawabnya


" Mamah transfer dulu uangnya nanti aku ganti lagi pas di rumah, aku yakin Bram tidak akan tahu "


" Maf sayang, kartu kredit yang mamah pakai limitnya tidak sebanyak yang kamu minta?? " Ucapnya bingung


" Lalu bagaimana dong mah, aku kesal nunggu di butik mana aku malu " ucapnya marah


" Halo Des.. sinyalnya jelek.. halo Desi... Halo Desi " ucapnya menutup teleponnya


Desi benar-benar kesal, dengan terpaksa ia menelepon sang ayah dan meminta uang tersebut pada sang ayah, ia memang di ceramahi terlebih dahulu namun tidak lama dari itu dia langsung di transfer uang tersebut.


Dia langsung membayar baju tersebut dengan perasaan malu dan kesal bagaimana tidak ia ditahan di butik selama dua jam karena dia tidak bisa membayar uang tersebut.


" Lihat saja nanti Bela, akan ku balas kamu " batin Desi sambil meninggalkan butik itu


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2