
Bela dan Bram masuk kedalam sebuah karoke disana, Bram segera menemui temannya itu yang kebetulan sedang bersama dengan para wanita. Dia bernama Joe si pecinta wanita.
" Hay Joe " panggil Bram
" Hay Bram.. astaga lama tidak bertemu apa kabar kamu ?? " tanyanya sambil melihat kearah Bela
" Kabar baik.. aku ingin memesan satu tempat karoke disini " ucap Bram tanpa basa basi karena ia tidak suka Joe memandang wajah Bela
" Baiklah, aku punya tempat VVIP room yang pasti kamu suka dengan istrimu " ucapnya sambil tersenyum
" Maaf Joe, Bela bukan istriku.. " ucap Bram menatap wajah Bela bingung karena ia tidak mungkin mengatakan jika Bela sudah di anggapnya adik karena Joe pasti akan mendekatinya
" Ah ia... sorry.. aku tidak tahu jika dia bukan istrimu karena kamu tidak mengundang ku ke acara pernikahan mu " ucap Joe masih memandang wajah Bela
" Tidak masalah... bisa tunjukan tempatnya " ucap Bram sambil tersenyum, ia tidak mau Joe terus memandang wajah Bela terus menerus.
" Ayo.. " ajak Joe
Sepanjang perjalanan menuju ruangan tampak Joe bertanya-tanya, kenapa bisa Bram dengan wanita yang bukan istrinya karena ia tahu sifat Bram yang jarang terlihat dekat dengan wanita kecuali Sintia. tapi yang ia lihat barusan sosok wanita yang hampir mirip dengan Sintia tapi lebih mudah dan lebih cantik dari Sintia.
Joe langsung membuka ruangan itu, Bela masuk terlebih dahulu sedangkan Bram di tarik tangannya oleh Joe.
" Tolong jelaskan dia siapa kalau bukan istrimu?? " tanya Joe
" Hanya teman "
" Yakin hanya teman?? "
" Iya "
" Kalau begitu aku akan mendekatinya " ucap Joe dengan senyuman penuh arti
" Awas saja berani dekati Bela.. habis kau "
__ADS_1
" Astaga Bram, sudah punya istri masih saja dekat dengan wanita lain.. tapi tak masalah di ruangan itu ada kamar jadi kamu tidak usah repot-repot cari hotel.. " bisik Joe membuat Bram terdiam
" Kak Bram " panggil Bela membuat keduanya segera menghampiri asal suara itu
" Bagaimana ruangannya suka cantik " tanya Joe pada Bela
" Suka "
" Kalau begitu kalian bersenang senang lah, aku akan memberikan hadiah untuk kalian.. " ucapnya meninggalkan ruangan itu
" Hadiah apa kak ?? " tanya Bela pada Bram
" Sudahlah jangan di pikirkan dia suka bercanda, ayo kita mulai karaokean " ajak Bram
Mereka asik berkaraoke bersama mengihangkan beban yang ada dalam pikirannya terutama Bram, hari ini ia ingin bersenang-senang bersama bela tanpa di gangu Desi.
Teman Bram memberikan pelayanan khusus dengan memberikan minuman yang kadar alkoholnya lumayan tinggi secara gratis, karena ia mendengar dari Deon kalau Bram akhir-akhir ini sedang banyak masalah, mungkin dengan minuman keras bisa menghilangkan beban di pikirannya.
Fasilitas VVIP memang berbeda, bahkan ada kamar dan toilet di dalam, begitu mewah entah berapa harga yang harus di bayar Bram pada orang lain tapi pada Bram di berikan cuma-cuma.
" Bela, kita minum dulu yuk haus " ajak Bram
Bram menuangkan minuman keras itu di gelas Bela dan dirinya, ia tidak mengira jika Bela tidak pernah minum minuman keras seperti itu.
" Kak, ko rasanya pahit sih.. ga enak begini " ucap Bela sementara Bram sudah habis tiga gelas
" Ini tuh minuman enak tahu kamu belum pernah minum ini sebelumnya?? " Tanya Bram menenguk lagi minimumnya
" Iya kak, aku lebih suka es jeruk di bandingkan minuman ini, aku kurang suka.. " ucap Bela
Bram menghabiskan satu botol minuman sedangkan Bela meminum satu gelas saja sudah tidak di lanjutkan karena ia merasa minumannya tidak enak dan hawa tubuhnya berbeda.
" Kak Bram kita pulang yuk, ini sudah tengah malam?? aku harus menjaga ibu di timah sakit " Ajak Bela membangunkan Bram karena kepalanya pusing.
__ADS_1
" Sintia... Sintia... " Panggil Bram
Bahkan dalam keadaan mabuk pun Bram tetap memanggil Sintia, apa bisa Bela menggantikan posisi sang kakak di hatinya Bram. mungkin hanya waktu yang bisa menjawab itu semua.
Tiba-tiba Bram bangun lalu memeluk Bela dengan erat, ia masih mengira jika yang ia peluk adalah Sintia, bela tidak mempermasalahkan hal itu ia hanya diam merasa nyaman di peluk Bram karena kepalanya sakit sekali.
" Sintia.. maafkan aku.. tolong maafkan aku.. " ucap Bram sambil menangis
" Sudah kak Bram, jangan menangis, kakak seperti perempuan saja kalau menangis, laki-laki tidak boleh menangis " ucap Bela sambil tertawa
Jelas suara Bela sangat di hafal oleh Bram ia sedikit terkejut lalu melepaskan pelukannya " Bela... Kamu ini bela... Apa Sintia " Bram langsung mengguncangkan tubuh Bela
" Ia kak ini aku... Bodoh sekali masa ia aku di bilang kak Sintia " ucap Bela mulai mabuk
Pernah mendengar jika orang yang belum pernah meminum alkohol bisa mabuk walaupun ia minum sedikit hal itu yang sudah di rasakan Bela, sedangkan Bram sudah berpengalaman hingga ia habis satu botol baru mabuk.
" Bela.. kenapa harus nama bela yang selalu aku pikirkan setelah Sintia.. apa aku mimpi " ucapnya sambil memegang pipi Bela
" Aku itu nyata " ucap Bela tanpa sengaja mengecup bibir Bram karena niatnya ingin melepaskan tangan Bram yang ada dipipinya dengan cara menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Manis... " Ucap Bram langsung mencium bibir Bela
Bela yang belum pernah berciuman pun kaget, awalnya ia tidak bisa mengimbangi ciumanya yang di berikan Bram namun Bram mencium Bela beberapa kali hingga keduanya menikmati ciuman itu lebih dalam lagi hingga berubah jadi *******.
Merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya yang semakin panas, ia langsung melepaskan ciumannya bersama dengan Bram, tapi hasratnya sudah terpancing gara-gara ciuman itu.
" Astaga apa yang aku lakukan.. ini tidak betul.. aku tidak boleh melakukan hal itu, ingat Bela dia kekasih kak Sintia, niatmu hanya untuk balas dendam bukan seperti ini " batin Bela
" Bela, sungguh aku menginginkan mu saat ini.. aku tidak akan biarkan kamu pergi dariku sejak saat ini kamu harus jadi milikku bagaimana caranya... " batin Bram
Ternyata teman Bram memasukan obat perangsang pada minuman keduanya, hingga mereka merasakan hawa panas menyeruak ke tubuhnya apalagi di tambah nafsu Bram yang tidak bisa di kontrol lain. Ciuman itu juga membuat hasrat Bela mulai terpancing.
.
__ADS_1
.
Bersambung...