Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Sakit Hati Deon


__ADS_3

Tanpa Bela sadari ternyata ada sosok laki-laki yang sedari tadi melihat dan memperhatikan Bela siapa lagi kalau bukan Deon, ia benar-benar sedih saat ini hatinya hancur ketika semua orang mengatakan sah pada pernikahan Bela dan Bram sahabatnya itu.


Banyak sekali pernyataan yang ada di pikirannya saat ini pada Bela, ingin rasanya ia tanyakan pada Bela secara langsung, bagaimana Bela bisa mau menikah dengan Bram dan menjadi istri siri Bram?? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?? ia benar-benar Ingin berkata itu pada Bela tapi ia tidak pernah berani menanyakannya karena saat bersama dengan Bela ia merasa gugup dan tidak bisa bicara tentang perasaannya selama ini.


Hari ini dia juga minum anggur merah lumayan banyak membuat ia memberanikan dirinya mendekati Bela setelah ia memastikan jika Bram pergi dari samping Bela. Ia juga melihat jika bela sedang sendirian didepannya, tidak ada wajah bahagia yang Bela tunjukan. Membuatnya semakin penasaran tapi ia juga masih sedih dengan kenyataan ini.


Setelah mengumpulkan keberaniannya ia segera menghampiri Bela yang sedang duduk di sana sambil memegang anggur merah yang ada disana dengan wajah sedih.


" Bela.. " panggil Deon membuat Bela melihat kearah suaranya


" Kak Deon?? " Ucap Bela sambil tersenyum


" Dimana Bram?? " Tanya Deon pura-pura menanyakan keberadaan sahabatnya itu


" Dia sedang mengobrol dengan teman-temannya disana,.. "


" Lalu kamu sedang apa disini sendirian?? "


" Aku sedang melihat pemandangan indah disini "


" Selamat atas pernikahan mu dengan Bram " ucap Deon menahan kesedihannya


" Terima kasih Kak.. " ucap Bela dengan seyuman di paksakan


" Apa kamu bahagia dengan pernikahan mu.. " tanya Deon menatap wajah wanita yang ia sukai itu


" Aku bahagia dengan pernikahan ini " ucap Bela menundukkan kepalanya kebawah, entah mengapa air matanya akan menetes hanya di tanya seperti itu saja


" Bel, jangan berbohong padaku.. tatap mataku dan katakan kalau kamu bahagia dengan pernikahan ini.. kenapa kamu harus sedih seperti sekarang?? " ucap Deon memegang tangan Bela


" Kak.. aku hanya merindukan keluarga ku saja " ucap Bela melepaskan tangan Deon


" Bela jangan bohong.. kalau kamu tidak bahagia tinggalkan Bram.. ada aku yang akan selalu membahagiakan mu " ucap Deon kini meneteskan air matanya

__ADS_1


" Kak Deon.. aku.. " ucap Bela terpotong karena Bram menghampiri mereka


Tanpa mereka sadari Bram ternyata mendengarkan pembicaraan mereka, ia terbakar cemburu pada Deon meskipun Deon adalah sahabatnya sendiri tapi untuk urusan hati ia tidak akan membiarkan sahabatnya sendiri merebut Bela. Ia langsung memukul wajah Deon di depan wajah Belae membuat Bela kaget dan langsung memisahkan pertengkaran mereka.


" Kak.. sudah "


" Jangan sentuh istriku.. " ucap Bram dengan emosi


" Kak Bram lepaskan tangan kakak, jangan pukul kak Deon lagi " ucap Bela langsung memeluk Bram dari belakang


" Kamu jangan membelanya.. " ucap Bram melepaskan pelukan Bela


" Kak jangan salah paham, kita hanya mengobrol saja.. tidak ada hubungan apapun " ucap Bela tampak kaget karena suaminya itu memukul Deon sambil sudut bibir Deon berdarah


" Ikut aku.. " ucap Bram menarik tangan Bela


" Lepaskan tangan Bela.. " ucap Deon memegang tangan Bram yang sedang menarik tangan Bela


" Lepaskan aku, jangan ikut campur urusan kami " ucap Bram dengan wajah marah


" Mana mungkin aku menyakiti orang yang aku sayang, sekarang dia istri ku camkan itu " ucap Bram langsung menarik tangan Bela


" Sial, kenapa Bram malah datang disaat aku belum selesai mengobrol dengan Bela, akh.. sialan " batin Deon


" Kenapa Bram marah seperti tadi, apa benar dia cemburu pada Deon?? Apa dia memang sudah mencintai ku " batin Bela


" Dasar Deon benar-benar sialan berani sekali dia memegang tangan Bela.. aku tidak boleh membiarkan mereka dekat " batin Bram


Bela di bawa ke kamar mereka, ruangan tampak rapi dengan dekorasi mewah bahkan lemari baju sudah penuh dengan ukuran baju Bela yang sengaja Bram sudah siapkan lengkap dengan peralatan lainnya seperti sepatu, tas dan beberapa perhiasan di pajang di lemari yang terpisah.


" Kak Bram.. " kini Bela pura menangis untuk kali ini hanya itu yang bisa membuat Bram luluh


" Kenapa kamu menangis " ucap Bram kaget dengan tangis bela, ia segera menghapus air mata Bela dan memeluknya

__ADS_1


" Tangan ku sakit... "


" Maafkan aku, mungkin aku terlalu keras memegang tangan mu.. " ucap Bram mencium tangan bela yang tampak merah karena di pegang oleh nya.


" Apa Kakak masih marah padaku.. kakak jangan marah padaku!! " ucap Bela dengan nada sedihnya


" Aku tidak marah padamu.. aku hanya marah pada Deon saja.. " ucap Bram sambil tersenyum


" Mungkin kak Deon sedikit mabuk, kakak jangan marah sama dia.. biar bagaimanapun dia sahabat kakak.. " ucap Bela dengan wajah memelasnya


" Tapi.. "


" Janji ya kak.. jangan marah pada Kak Deon " pinta Bela


" Baiklah demi kamu "


" Terima kasih Kak " ucak Bela langsung memeluk Bram


" Kalau Bram marah pada Deon bisa gawat, aku tidak bisa mendengarkan informasi tentang Bram dari Deon lagi " batin Bela


" Aku cemburu Bela sama Deon tapi aku tidak boleh marah pada Deon.. biar bagaimanapun aku sudah berjanji pada Bela " batin Bram


" Kamu janji jangan dekat-dekat dengan Deon " ucap Bram masih memeluk Bela erat


" Aku sudah bilang sama kak Bram kalau aku tidak suka dengan kak Deon, aku hanya menganggap Kak Deon sebagai rekan kerjaku saja " ucap Bela melepaskan pelukannya


" Aku tahu.. aku percaya sama kamu " ucap Bram langsung mencium bibir Bela


Ketika mereka saling memperdalam ciumannya, suara ketukan dari luar pintu membuat aktifitas mereka terhenti, bela menyuruh Bram untuk segera membuka pintu kamarnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2