
Kini Bram sudah pergi dari ruangan Bela, seperti biasanya sebelum ia kekantor ia pergi terlebih dahulu ke rumah kedua orangtuanya, apalagi ia penasaran dengan wajah Desi semalam yang merasa kecewa karena dirinya tidak datang ke sana.
" Pagi mah.. " sapa Bram sambil mencium pipi sang ibu yang tengah duduk di ruang makan
" Pagi.. "
" Kenapa wajah mamah terlihat kesal.. apa ada masalah " tanya Bram cuek
" Ia, masalahnya ada di kamu.. kamu kenapa sih tiap malam selalu ga mau datang ke rumah ini, apa wanita murahan itu yang melarang mu.. "
" Mah.. jangan bilang dia seperti itu.. apa mamah mau aku tidak peduli lagi pada Desi " ucap Bram tersenyum licik
Ya, kesepakatan yang mereka buat tidak di ketahui oleh Desi sama sekali, Bu Jeni takut jika keadaan Desi semakin memburuk apalagi calon cucunya ada di sana. Ia takut jika Desi mengetahui kenyataan jika memang Bram sudah berselingkuh darinya.
" Sudah lah, kamu temui Desi.. bawa makanan ini juga, dia tidak mau makan sebelum melihat wajahmu " ucap Bu Jeni dengan tatapan marah
" Baiklah "
Bram segera menuju kamar Desi, ketika ia membuka pintu tercium aroma yang mencurigakan dan ia juga kaget dengan apa yang Desi pakai, pakaian menggoda dan seksi Desi kenakan agar dirinya bisa di sentuh suaminya itu.
Bram laki-laki biasa yang normal, apalagi di suguhkan oleh pemandangan yang menyegarkan matanya dan aroma yang ia hidup juga sudah memabukkannya, namun semua perasaan yang bergejolak di tubuhnya ia tahan sebisa mungkin, ia tidak mungkin melakukan hal yang bisa menyakiti Bela.
" Kamu kenapa sayang " ucap Desi dengan nada Manja menghampiri suaminya dengan gerakan menggoda
" Ini makanan mu.. habisakan " ucap Bram ingin pergi dari kamar Desi namun tiba-tiba Desi memeluknya dari belakang.
" Sayang.. kamu mau kemana?? Aku sedang sakit dari semalam.. tolong periksa aku " ucapnya masih memeluk Bram dari belakang dengan erat
" Aku bukan dokter Desi, lepaskan tangan mu itu " ucap Bram menahan godaan Desi
" Sayang, ayo lah.. aku menginginkan mu " bisik Desi
" Sialan, kenapa Desi melakukan hal ini, apa ini aroma perangsang, benar-benar sial hari ini.. aku harus bisa kabur dari sini, aku tidak mau menyakiti Bela " batin Bram
" Aku akan membuat Bram puas hari ini.. bahkan ingin melakukannya terus menerus bersama dengan ku.. aku harus terus menggodanya " batin Desi
" Desi, maaf aku harus Pergi ke kantor.. ada meting mendadak hari ini " ucapnya melepaskan pelukan Desi lalu segera pergi dari kamar Desi dengan buru-buru
" Tapi Bram.. " teriakan Desi sama sekali ia hiraukan.
Bram masuk kedalam kamarnya, lalu menuntaskan hasratnya bermain solo karena tidak mungkin ia harus pergi kerumah sakit dan melakukannya dengan Bela, apalagi Bela keadaannya masih lemah mana tega dia.
__ADS_1
" Untuk aku sedang sadar jadi aku melakukan hal itu, coba kalau seperti dulu ketika mabuk pasti aku sudah gila melakukannya lagi.. hanya Bela yang boleh menyentuh ku.. " batin Bram
Sedangkan Desi sedang marah-marah sendiri di kamarnya, ia tidak habis pikir dengan Bram, ia segera mandi dan berendam agar gejolak hasratnya bisa mereda juga.
" Sialan kau Bram, bisa-bisa kau memperlakukan aku seperti ini, tak akan aku biarkan kamu bersama wanita mu itu.. aku akan membuat kalian hancur seperti aku saat ini, jangan pikir aku orang bodoh yang bisa kamu terus bohongi " batin Desi
Bram segera pergi dari rumahnya itu, namun dengan pakaian yang berbeda, Bu Jeni tampak senang karena ia berpikir jika Bram dan Desi sudah melakukannya, apalagi tadi Desi sudah memberitahukannya untuk tidak datang ke kamarnya.
" Semoga Mereka terus harmonis.. " batin Bu Jeni.
Bram segera melajukan mobilnya ke kantornya dengan perasan kesal dan marah yang masih ada di hatinya. Ia tidak habis pikir Desi bisa melakukan hal itu. Setelah ia sampai di kantor ia segera menuju ruangan lalu mengerjakan beberapa tumpukan dokumen yang ada di depannya. Jangan tanya lagi wajah Bram masih saja kesal.
.
.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya ruangan Bela, dokter Imel sudah datang untuk memeriksa keadaan Bela. Ia dengan ramah menyapa Bela.
" Pagi Nona Bela.. " sapanya
" Jangan panggil Nona, panggil saja Bela dok.. " ucapnya sambil tersenyum
" Jangan panggil aku dokter kalau begitu panggil saja aku Imel, aku kan teman Bram " ucap Imel
" Aku kalau lihat kamu itu senang bawaannya.. kamu orangnya baik dan ramah.. tidak seperti istri pertama Bram " ucap Imel langsung menutup mulutnya
" Maaf.. aku tidak bermaksud " ucap Imel berasa bersalah dengan ucapannya barusan
" Kamu tenang saja, aku juga tahu bagaimana sikap Desi, dia memang seperti itu makanya Bram sangat membenci Desi, apalagi mereka nikah bukan karena saling mencintai.. " ucap Bela
" Aku juga mendengar hal itu dari kabar yang beredar.. tapi yang aku lihat Bram sangat mencintai mu, bahkan melebihi rasa cintanya dulu ketika bersama dengan Sintia " ucap Imel sambil tersenyum
" Kamu kenal dengan kak Sintia?? " Tanya Bela
" Ia, dulu Bram pernah mengenalkan sosok Sintia dalam acara reuni SMA, dia orangnya baik dan cantik dan seperti mu.. tapi sayang dia tidak menikah dengan Bram, aku kira Sintia lah istri Bram sekarang bukan Desi "
" Kak Sintia memang orang sangat baik " ucap Bela dengan wajah sedihnya
" Kamu kenal juga sama Sintia "
" Dia adalah kakak kandung ku tapi dia sudah meninggal " ucap Bela semakin sedih
__ADS_1
" Asataga.. maafkan aku Bela.. sungguh aku tidak tahu hal itu " ucap Imel kaget
" Percintaan Bram sungguh rumit, aku tidak pernah mengerti hal ini.. " batin Imel
" Tidak apa-apa.. " ucap Bela
" Keadaan mu sekarang sudah membaik, namun tetap vitamin yang aku berikan harus di minum setiap hari, jaga kondisi tubuhmu jangan sampai kecapean dan jangan melakukan hal yang berat-berat.. makan makanan yang bergizi " ucap Imel selesai memeriksa keadaan Bela
" Baiklah.. terima kasih Imel "
" Sama-sama "
" Kalau begitu aku permisi " ucap Imel segera meninggalkan ruangan Bela sedangkan Lily datang ke ruangan Bela sambil membawakan roti kesukaan Bela, yaitu Roti dengan selai coklat.
" Pagi Bel.. "
" Pagi Ly.. kamu bawa apa?? Baunya tercium enak "
" Dasar ibu hamil penciumannya sensitif sekali.. nih aku bawakan roti kesukaan mu "
" Terima kasih Ly, kamu tahu saja aku sedang ingin makan ini.. " ucap Bela langsung memakan makanannya dengan lahap
" Bagaimana keadaan mu sekarang Bel?? " tanya Lily
" Aku merasa lebih baik Ly.. bagaimana dengan Candra, apa dia curiga padamu?? " Tanya Bela
" Tidak, aku bilang kamu menginap di kosan ku.. habisnya aku sudah kehabisan kata-kata takut Candra curiga.. "
" Terima kasih Ly.. kamu memang sahabat ku yang baik " ucak Bela sambil tersenyum
" Habiskan makanannya.. untuk kali ini aku membantu mu berbohong pada Candra tapi lain kali aku tidak mau " ucap Lily
" Baiklah.. "
Lily memang mengaja membuat alasan pada Candra, jika Bela menginap di kosannya untuk beberapa hari untuk menenangkan pikirannya. Anehnya Candra langsung percaya membuat Lily merasa lega.
Namun kedatangan Lily sebenarnya bukan hanya sekedar menjenguk Bela, ia ingin memberitahu sesuatu yang penting pada Bela terkait masalah kematian Bu Mina.
" Apa keputusan ku benar mengatakan penyebab kematian Bu Jeni pada Bela, apa keadaannya akan memburuk lagi, tapi aku tidak bisa menyembunyikan masalah ini pada Bela, dia berhak tahu " batin Lily
.
__ADS_1
.
Bersambung...