
Rasanya bagaimana menang undian jika harus mengerjai Bu Jeni apalagi tadi Bela melihat Desi pura-pura kesakitan. Ia segera mengangkat teleponnya.
" Halo mamah mertua ku tersayang " sapa Bela membuat penerima telepon marah padanya
" Hey wanita murahan, Dimana Bram putra ku berada?? " bentaknya
" Bram sedang berada di dalam dekapan ku.. " ucap Bela sambil tertawa
" Jangan tertawa semua itu tidak lucu.. cepat berikan telepon ini pada Bram, ada hal penting yang harus aku katakan padanya " ucapnya dengan penuh amarah
" Tapi Bram tidak bisa menerima telepon dari Mamah untuk saat ini.. kalau ada yang mau mamah bicarakan katakan saja padaku, nanti akan aku sampaikan pada Bram suamiku "
" Aku ingin bicara langsung dengan Bram, cepat berikan handphonenya pada Bram?? " bentak Bu Jeni
" Oh tidak bisa untuk saat ini mah.. " ucap Bela sambil tersenyum
Ternya handphone Bu Jeni di rebut oleh Desi dengan amarahnya ia langsung memaki-maki Bela bahkan dengan ucapan yang kasar. Bela terlihat santai mendengarkan hinaan Desi.
" Kamu boleh menghina ku saat ini, tapi nanti kita lihat siapa yang lebih hina, aku apa kamu " sindir Bela
" Apa maksud mu " teriakan Desi
" Hasil tes DNA sudah di pegang oleh Bram, bersiap-siaplah nasibmu sebentar lagi akan hancur " cibir Bela
" Aku pastikan aku yang akan menang " ucap Desi penuh keyakinan
" Jangan terlalu yakin terkadang kenyakinan akan kalah dengan kenyataan apalagi aku tahu bagaimana kamu dengan James dulu " ucap Bela
__ADS_1
" James, siapa dia.. " ucap Desi mulai panik
" Kamu yakin tidak mengenalnya atau pura-pura lupa.. "
" Aku tidak kenal dengan dia " bentak Desi
" Kita lihat saja nanti " Bela langsung menutup teleponnya
Ia melihat Bram sudah membuka hasil tes DNA terlihat wajahnya menahan amarah, ia sudah menduga jika anak dalam kandungan Desi bukan anaknya Bram.
" Akhirnya yang selalu kalian banggakan, ternyata dia bukan anak kandung mu Bram.. " batin Bela
Kini Bela segera menghampiri Bram, dia pura-pura tidak tahu hasil tes DNA padahal dilihat dari ekspresi Bram ia sudah bisa tahu.
" Kak.. bagaimana hasilnya " tanya Bela
" Dia bukan anak ku Bel " ucapnya dengan tatapan sedih dan marah
" Aku harus menemui Desi sekarang juga " ucapnya menahan amarah
" Kak, biar bagaimanapun Desi baru sadar, kakak jangan terlalu marah padanya kasihan " ucap Bela
" Kamu memang wanita yang sangat baik, aku minta maaf padamu selama ini karena sudah mengabaikan mu.. maafkan aku Bela " lirihnya dengan wajah sedih
" Tidak apa-apa kak, yang penting kakak segera ceraikan Desi sesuai dengan kesepakatan kita, aku tidak mau wanita jahat itu menyakiti kakak " ucap Bela dengan wajah sedih
" Ia sayang, kamu tenang saja setelah ini kita pasti akan bahagia bersama dengan anak kita " ucap Bram langsung mengelus-elus perutnya Bela
__ADS_1
" Setelah ini tidak akan ada kebahagiaan diantara kita Bram.. " batin Bela
Sentuhan tangan Bram mampu membuat anak dalam kandungan Bela bergerak aktif bahkan sampai menendang tangan Bram mungkin karena ia merindukan sentuhan hangat sang ayah.
" Aku bisa merasakan tendang anak kita sayang.. " ucap Bram sambil tersenyum kemarahan itu berganti dengan kebahagiaan di wajahnya
" Mungkin dia merindukan sentuhan ayahnya jadi dia langsung aktif bergerak Kak.. " ucap Bela sambil tersenyum
" Sayang.. kamu baik-baik dalam kandungan ibumu.. ayah janji akan membahagiakan kalian " ucapnya sambil mencium perut Bela
" Itu tidak akan terjadi nak, kita yang akan hidup bahagia meskipun tanpa ayahmu.. maafkan Ibu suatu saat kamu pasti mengerti " batin Bela
" Kak tunggu, aku sudah menelepon James, dia adalah ayah kandung dari anak yang di kandung Desi, dia sedang dalam perjalanan kemari.. aku harap kak Bram menyelesaikan hal ini dengan baik-baik jangan terlalu emosi " ucap Bela sambil tersenyum
" Terima kasih sayang.. tanpa kamu mungkin aku akan tertipu oleh Desi selamanya " ucap Bram memelum Desi dan mencium keningnya
" Kalau begitu kakak segera temui Desi.. maaf aku tidak akan menemani kakak karena itu urusan rumah tangga kakak.. aku tidak mau melihat mamah semakin benci padaku " ucapnya
" Baiklah sayang setelah semua selesai aku akan kembali ke apartemen, kamu tunggu aku di sana " ucap Bram
" Baik Kak.. "
Bram segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Desi tentu saja dengan amarah yang masih belum padam padanya. Ia merasa di bohongi habis-habisan oleh Desi.
" Maafkan aku Bram " lirih Bela melihat kepergian sang suami dengan hati yang sedih
.
__ADS_1
.
Bersambung...