
Kini Ambulance sudah sampai di halaman rumah Bela, banyak saudara, tetangga dan beberapa kerabat yang sudah berkumpul disana memenuhi halaman rumah Bela dan sang ibu.
Mereka tampak sedih dengan kepergian ibu Mina, karena selama ibu Mina hidup dia sangat baik pada semua orang, termasuk pada tetangga dan kerabatnya, Semua orang juga tampak mendoakan kepergian sang ibu Mina disana.
Apalagi ketika jenazah Bu Mina di masukkan kedalam rumah, mereka segera menghampirinya lalu membacakan surat Yasin untuk Bu Mina. Bela tidak menyangka jika sang ibu bisa begitu di cintai oleh tetangga dan kerabatnya.
" Lihat Bu, banyak sekali yang mendoakan ibu saat ini, aku bersyukur karena ibu adalah orang baik.. aku sangat mencintai ibu.. aku juga rindu ibu " batin Bela
" Kamu yang kuat Bel " ucap para tetangga dengan wajah sedihnya
" Kami yakin, ibumu adalah orang baik, dia pasti akan di terima di sisi Tuhan dengan baik juga "
" Kamu jangan menangis lagi, biarkan ibumu tenang di sana.. dia pasti sudah tidak merasa kesakitan lagi " ucapan para tetangga yang melayat Bu Mina.
" Terima kasih ibu-ibu sekalian yang sudah melayat ibu saya, saya mohon maaf jika selama beliau hidup ada perkataan atau perbuatan yang membuat ibu-ibu sakit hati, sekali lagi mohon di maafkan " ucap Bela dengan wajah sedih
" Bu Mina orang baik, dia tidak pernah menyakiti orang lain.. justru kami yang meminta maaf pada Bu Mina, kami sering mengajak beliau bercanda "
" Baiklah kalau begitu kita saling memaafkan saja ya Bu.. agar ibuku tenang di alam sana " ucap Bela sambil menangis di dalam hatinya ia masih merasa sedih ia hanya mencoba tegar dan kuat walaupun hatinya sebenarnya masih rapuh
Setelah itu Jenazah ibu Mina langsung di bawa ke masjid terdekat untuk di solat kan terlebih dahulu, baru setelah itu di bawa ke pemakaman untuk di makamkan, pemakaman untuk Bu Mina berada di samping kuburan Sintia sang kakak, itu di pinta oleh Bela langsung agar ibunya berdekatan dengan sang kakak.
Rasanya ini sungguh tidak adil ketika ibu dan kakak bisa bertemu di alam sana sedangkan Bela harus hidup sendirian di sini. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan semangat hidup.
" Bu.. bolehkan aku menyusul ibu dan kakak sekarang.. Rasanya sungguh tidak sanggup, aku butuh kalian.. " batin Bela
" Mina maafkan aku, tolong maafkan aku " batin Trisna
" Yang tenang di alam sana ya mba Mina. jangan gangu aku dan Mas Trisna, kami pasti akan bahagia tanpa Mba Mina disini " batin Teti
Tak lama kemudian semua Proses pemakaman ibu sudah selesai, semua kerabat dan saudara juga sudah meninggalkan pemakaman ibu, di sini hanya ada Bela, Candra Lily , ayah, ibu tiri ku dan Bram.
" Mina mulai hari ini Bela akan menjadi tanggung jawab ku, kamu jangan khawatir Mina.. kamu yang tenang di alam sana.. aku akan menebus semua dosaku padamu lewat Bela, aku akan menjaga Bela " batin Tisna
__ADS_1
" Bela mulai hari ini kamu harus tinggal bersama dengan ayah "
" Apa?? " ucap mereka kaget termasuk Bela dan Bram
" Kalau Bela tinggal dengan ayahnya, lalu aku bagaimana?? aku tak bisa tanpa Bela " batin Bram
" Tidak mau, aku mau disini saja dengan kakak dan ibu " ucap Bela yang masih duduk di samping kuburan ibu
" Ish, dia sudah gila apa.. masa dia ingin tinggal di kuburan, ga takut sama hantu apa?? kan Serem " batin Teti
" Bela, Ayo sekarang kita pulang dan bereskan semua barang-barang mu, kamu harus tinggal dengan ayah mulai sekarang " ucap Trisna membujuk Bela agar mau tinggal bersama dengannya
" Aku bilang aku tidak mau ayah.. " ucap Bela dengan nada marah
" Sudahlah mas, toh dia juga tidak mau tinggal dengan kita, kita tidak boleh paksa dia, biarkan saja dia, toh dia sudah dewasa " ucap ibu tiri ku
" Tapi dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.. dia anakku dan dia masih tanggung jawab ku mulai sekarang " bentak ayah
" Baiklah, kamu bujuk Bela! ayah percaya sama kamu Candra " ucap sang ayah menepuk bahu putra sambungnya itu
" Jaga dirimu baik-baik nak, kalau terjadi sesuatu cepat hubungi ibu " ucap Teti memeluk Candra
" Ibu jangan khawatir " ucap Candra sambil tersenyum
Ayah dan Teti segera meninggalkan Bela, Bram, Lily dan Candra yang masih berada di kuburan. Mereka masih bingung membujuk Bela. Sedangkan Bela hanya diam memandangi nisan ibu dan kakakku, pikiranku seakan melayang kosong.
" Bu, aku janji mulai sekarang aku akan membahagiakan Bela.. ibu jangan khawatir karena Bela sudah menjadi istriku, dia tanggung jawabku sekarang " batin Bram
Candra segera memapah Bela untuk segera meninggalkan pemakaman itu karena hujan mulai turun dan membasahi kami namun Bela menolaknya ia benar-benar tidak mau meninggalkan pemakaian sang ibu.
" Bel.. kita pulang "
" Kamu saja yang pulang aku mau disini.. jangan gangu aku " ucap Bela kini air matanya menetes lagi
__ADS_1
" Melihat mu seperti ini, hatiku benar-benar hancur Bela " batin Bram
" Tapi Bel.. "
" Candra, lebih baik kamu antarkan saja Lily pulang, lihat dia terlihat lemas dan shock dengan kejadian ini, biarkan aku yang membujuk Bela " ucap Bram
" Baiklah " ucap Candra mengalah karena Lily
Candra melihat kondisi Lily memang lemah sekarang, ia langsung membawa Lily pulang menuju rumahnya, ia juga tampak khawatir karena sedari tadi Lily terus menangis.
Sementara Bram kini berada di samping Bela memeluk bel dari belakang, ia sungguh sangat sedih melihat kondisi Bela, ia mencoba lebih tegar dari Bela.
" Sayang .. " ucap Bram
" Kak.. kenapa ini semua terjadi padaku, Kenapa ini rasanya tidak adil?? Apa salahku kak.. kenapa aku harus kehilangan orang yang aku sayangi lagi.. kenapa kak.. kenapa?? " Lirihnya menangis di pelukan Bram
" Aku tahu bagaimana perasaan mu saat ini.. tapi ibu juga tidak mau melihat kamu seperti ini, pasti Ibu dan kakakmu juga akan sedih melihat mu seperti ini.. sebaiknya kita pulang ya sayang nanti kita kembali lagi kesini " bujuk Bram
" Kalau kakak mau pulang, pulang saja sendiri.. aku mau sama ibu, aku mau disini "
" Mana mungkin aku meninggalkan mu Bel.. kamu itu separuh hidupku.. aku akan selalu ada untuk mu.. karena aku sangat mencintai mu " ucap Bram menenangkan Bela
" Ibu.. " lirihnya kembali dengan nada lemah
Ternyata Bela pingsan kembali, Bram panik langsung segera membawa Bela ke rumah sakit, untuk saat ini Bram tidak mau terjadi sesuatu pada Bela.
" Bel... Bel... "
.
.
Bersambung...
__ADS_1