Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Pembalasan Bram


__ADS_3

Bram sudah meninggalkan ruangan Bu Mina bersama Deon sementara Candra dan Lily segera masuk kedalam ruangan Bu Mina untuk menemui Bela yang kini sedang mengkompres pipinya yang masih bengkak.


" Bel, kamu tidak apa-apa.. lihat pipimu bengkak begini.. " ucap Candra menyentuh pipinya


" Aku tidak apa-apa Candra.. oh ia, bukannya kamu harus pergi luar kota " tanya Bela heran karena pagi-pagi sekali Candra sudah datang ke rumah sakit sebelum Bram dan keluarganya datang dan membuat onar.


Sebenernya Candra datang ke rumah sakit ingin pamitan pada Bela, ia juga ingin memastikan keadaan Bela sebelum ia pergi ke luar kota, namun hal yang tak terduga datang membuat dirinya semakin cemas meninggalkan Bela.


" Bela, mana mungkin aku bisa tenang meninggalkan mu disini, jika keadaan mu seperti ini.. apa aku tunda saja perjalanan ke luar kota?? " ucap Candra


" Candra kamu pergi saja, aku bisa jaga diriku sendiri.. lagian ada Lily disini.. ia kan Ly?? " ucap Bela sambil tersenyum


" Benar itu Candra, kamu pergi saja, aku akan menjaga Bela dan Bu Mina disini " ucap Lily menyakinkan Candra


" Kamu yakin... ?? "


" Sudah kamu pergi saja sana, jangan lupa oleh-olehnya.. aku mandi dulu mau siap-siap pergi ke cafe.. " ucap Bela segera menuju kamar mandi


" Tapi Bel..!! " ucapnya tidak di dengar sama sekali


" Sudahlah Candra, kamu tahu kan sifat Bela bagaimana.. biarkan saja dia pergi ke Cafe mungkin dengan begitu dia akan terhibur dan melupakan kejadian barusan " ucap Lily


" Tapi benar ya Ly, jika terjadi apa-apa dengan Bela dan Bu Mina cepat hubungi aku " ucap Candra merasa sedih


" Tentu saja... Cepat pergi sana, nanti kamu ketinggalan Pesawat lagi " ucap Lily


" Kalau begitu aku pamit Ly " ucap Candra melangkah pergidati ruangan Bu Mina


" Hati-hati di jalan "


" Semoga kamu selamat sampai tujuan, aku disini akan terus menunggu kamu Candra.. rasanya sedih kamu khawatir seperti tadi pada Bela.. tapi Bela kan adik kamu kan Candra, mana mungkin kamu suka padanya " batin Lily

__ADS_1


Tak lama kemudian Bela keluar dari kamar mandi dengan wajah terlihat segar, tidak ada lagi kesedihan di wajahnya membuat Lily heran.


" Apa Candra sudah pergi " tanya Bela


" Ya dia sudah pergi barusan "


" Bagus deh kalau begitu, dia terlalu cerewet " ucap Bela sambil memakan sarapan yang ada di atas meja, makanan itu sudah di belikan candra tadi.


" Bel, kamu jangan seperti itu.. Candra cerewet begitu karena mengkhawatirkan mu.. harusnya kamu senang, kamu beruntung punya kakak seperti Candra dia baik dan perhatian sama kamu " ucap Lily tampak tidak suka jika Candra selalu menjelekkan Candra


" Ya.. kamu benar aku beruntung kali ini.. sudah cepat makan!! " ucap Bela mengajak Lily makan bersama


Mereka memakan makanannya sambil berbincang-bincang apalagi Lily selalu menanyakan tentang makanan kesukaan Candra meskipun Bela tidak tahu betul namun selama ini ia selalu memperhatikan apa yang di makan Candra, dan hal itu ia beritahukan pada Lily.


.


.


.


" Bram kamu sudah pulang nak " ucap Bu Jeni senang


" Dimana Desi?? " tanya Bram


" Aku disini sayang, akhirnya kamu pulang juga, aku sangat merindukanmu sayang " ucap Desi memeluk tubuh Bram dari belakang.


" Lepaskan tangan kotor mu dari tubuhku.. aku kesini hanya untuk memberikan kamu ini padamu.. cepat tanda tangani berkas ini " ucap Bram masih dengan nada marah


" Apa ini Bram?? " Tanya Desi langsung membaca surat dari Bram


" Bisa baca kan??, baca sendiri.. " ucap ketus Bram

__ADS_1


" Apa?? pengadilan agama... Aku tidak mau bercerai dari mu Bram " ucap Desi merobek kertas itu lalu melemparkannya ke atas kepala Bram


" Mau atau tidak, proses perceraian kita akan segera berlangsung... Itu balasan karena kamu berani menyakiti Bela "


" Kenapa sih Bram, kamu terus membela wanita ular itu, aku tuh ga salah sama sekali, dia yang mulai duluan dan membuat aku emosi, dia yang sudah menghinaku duluan Bram.. kamu harus percaya " ucap Desi


" Desi tenangkan dirimu!! " ucap snag mertua mencoba meredam amarah Desi


" Mah, aku tuh ga salah.. kenapa Bram seperti ini, kenapa dia tidak percaya padaku dan malah percaya pada wanita ular itu " ucap Desi menangis di depan mertuanya


" Bram, sebaiknya kita bicarakan masalah ini baik-baik ya.. jangan begini nak.. tidak baik jika mengambil keputusan ketika kamu sedang marah " bujuk sang ibu


" Mah, jangan pernah membela Desi.. keputusan ku sudah bulat.. pernikahan ini Mamah yang mau kan?? aku sudah turuti semuanya dan kini tidak ada yang bisa merubah keputusan ku " ucap Bram


" Aku ga mau mah.. aku ga mau pisah dari Bram " ucap Desi


" Ini semua gara-gara si Bela, kenapa Bram jadi marah begini cuma omongan wanita itu.. aku harus bagaimana lagi agar mencegah Bram menceraikan Desi " batin Bu Jeni


" Aku harus buat Bram peduli padaku, bagaimana pun caranya aku tidak akan melepaskan mu Bram " batin Desi


Tiba-tiba tubuh Desi lemas dan jatuh ke lantai, Bu Jeni yang melibat hal itu langsung panik dan menyuruh Bram untuk mengangkat tubuh Desi ke kamar namun Bram menolak mentah-mentah, dia sudah tidak peduli lagi dengan Desi.


Bram malah menyuruh Deon untuk mengangkat tubuh Desi, awalnya Deon tidak mau tapi karena di paksa oleh Bram akhirnya ia mau menggendong tubuh Desi. Meskipun ia tahu jika Desi sedang berpura-pura pingsan seperti itu.


" Bram... Kita bicarakan masalah ini satu Minggu lagi ya nak, Emosi Desi akhir-akhir sedang tidak stabil, mamah hanya takut dia jatuh sakit kalau seperti terus "


" Terserah mamah saja karena bagaimanapun keadaan Des,i proses perceraian sudah ada di pengadilan tinggal nunggu sidangnya saja " ucap Bram membuat Sang ibu kaget


" Bagaimana ini, lebih baik aku biarkan saja proses perceraian Bram, aku akan tenangkan dulu Desi setelah itu baru pikiran cara menggagalkan perceraian mereka " batin Bu Jeni


Bram pergi dari dengan Deon menuju kantor untuk bekerja, pekerjaannya sudah menumpuk dan tidak bisa di tunda lagi, bahkan mereka berencana untuk lembut untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2