
Didalam ruangan Bram tampak suasana sepi dan diam, mereka melihat jika wajah Bram sangat marah entah karena perbuatan yang Desi lakukan ada Bela atau karena kehamilan Desi yang mendadak seperti ini membuatnya benar-benar shock.
" Bram... " Panggil sang mamah
" Katakan siapa ayah dari anak dalam kandungan mu?? " ucap Bram masih tidak percaya jika Desi hamil secepat itu
" Astaga Bram apa-apanya sih kamu ini, kamu meragukan Desi?? bagaimana bisa kamu tega begitu " Ucap sang mamah dengan nada marah dan kesal
" Siapa tahu itu bukan anak ku mah.. " sindir Bram
Desi menangis langsung, ia tidak menyangka jika Bram bisa meragukan dirinya apalagi anak yang ia kandungan " Bram ini anak mu, anak kita.. darah danging kamu?? kenapa kamu meragukan ini semua.. aku hanya mencintaimu dan tidak ada laki-laki lain selain kamu "
" Cih.. "
Tangisan Desi tidak membuat Bram simpati dan mempercayai Desi ia masih dengan kenyakinannya jika dia tidak menyentuh Desi sedikit pun, mana mungkin Desi bisa hamil.
" Mulai hari ini Kamu harus pulang ke Mansion setiap hati, kamu tinggal bersama dengan Desi.. " perintah sang mamah
" Tidak mau.. "
" Bram sekarang kamu harus menerima kenyataan kalau kalian tidak akan pernah bisa bercerai sampai kapanpun karena Desi sedang mengandung anak mu.. kamu boleh tidak mencintai Desi tapi anak dalam kandungan Desi butuh kamu sebagai ayahnya " bujuk sang mamah
" Mah, aku yakin jika aku tidak pernah menyentuh Desi sama sekali.. mana mungkin bisa ada anak " ucap Bram keras kepala
" Tapi kenyataannya kamu suaminya dan kalian sudah menikah.. dan itu anak mu.. kamu harus terima semua kenyataan ini " ucap Bu Jeni
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Suara ketukan membuat pembicaraan berhenti, Bela sedang membawakan teh hangat untuk ketiga orang yang ada di ruangan itu, Bela sengaja membawakan teh itu agar ia bisa sedikit menguping pembicaraan mereka.
" Silahkan Teh nya di minum " ucap Bela sambil tersenyum
" Terima kasih Bel " ucap Bram sambil tersenyum
" Bisa-bisanya Bram tersenyum pada Bela sementara padaku dia benci sekali, bahkan dari tadi dia begitu marah padaku " batin Desi
" Tidak kakaknya sekarang adiknya yang mendekati Bram.. aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi, hubungan Desi dan Bram tidak boleh ada yang menggangu" batin Bu Jeni
" Kalau Bram tidak mau tinggal di mansion, baik.. kalau begitu aku bisa pindah ke apartemen mu.. aku ingin membangun keluarga kecil kita yang bahagia bersama anak dalam kandungan ku " ucap Desi sambil tersenyum penuh kemenangan ia juga mengelus perutnya yang masih rata di depan Bela
" Lihat saja Desi.. aku tidak akan membiarkan kalian semua bahagia.. aku akan menjadi duri dalam pernikahan kalian bagaimana pun caranya.. aku sudah tidak sabar menantikan kehancuran mu itu " batin Bela
" Kenapa wajah Bela seperti biasa saja mendengar kalau aku akan tinggal bersama dengan Desi, apa Bela peduli padaku kenapa dia tidak mencegahnya " batin Bram melihat wajah Bela
" Tahan emosi mu Bela, biarkan wanita jahat itu merasa menang sekarang Tapi selanjutnya kemenangan ada di genggaman tangan mu " batin Bela
" Bela kamu mau kemana?? " Ucap Desi sambil tersenyum
" Saya mau pamit, banyak pekerjaan yang sudah menunggu saya " ucapnya sopan
" Tidak sopan,, Panggil aku Nona.. aku kan istrinya Bram dan sekarang aku sedang mengandung anaknya " ucapnya masih dengan bangganya
" Tidak pernah Sudi aku panggil dia Nona.. tapi kalau aku egois seperti ini Bram pasti curiga padaku.. aku harus terlihat lemah di depan Bram ... Tahan Bela jangan sampai Kau emosi menghadapi Desi" batinnya
" Baik Nona maafkan saya.. " ucapnya sambil tersenyum ramah
__ADS_1
" Cih, dia pura-pura ramah pasti karena ada Bram di depannya, coba kalau tidak ada Bram disini, dia pasti tidak mau panggil aku begitu, tapi biarkan saja yang jelas sekarang aku menang dan kamu tidak bisa menggangu dan mendekati Bram lagi " batin Desi senang
" Bagaimana dengan tangan Bela, apa Deon sudah mengobati lukanya " batin Bram melihat tangan Bela yang terluka tadi akibat dorongan Desi
" Bela tunggu " ucap Bram menghentikan langkahnya
" Ia, Tuan Bram, ada yang bisa saya bantu " ucap Bela sengaja berkata seperti itu agar Bram merasa bersalah padanya
" Tidak, aku hanya ingin menanyakan Bagaimana dengan luka yang ada di tangan mu?? " Tanyanya dengan perasaan cemas
" Saya tidak apa-apa, Tuan tidak usah mengkhawatirkan saya.. kalau tidak ada hal lain, saya permisi " ucap Bela pamit
Sebenernya dari tadi Bela rasanya ingin segera pergi dari ruangan Bram, ia merasa kalah saat ini didepan Desi, ia sedang berpikir bagaimana caranya merebut Bram dari Desi, apa kesempatan dia masih ada untuk merebut Bram sedangkan dia merasa anak yang di kandung Desi tidak bersalah?? Apa dia bisa tega pada anak itu??
" Kamu boleh tinggal bersama dengan ku, dengan syarat tidak boleh menyakiti Bela dan harus bersikap baik pada Bela " ucap tegas Bram
" Kenapa semua tenang Bela dan Bela apa bagusnya wanita itu " batin Desi
" Benar saja Bela seperti kakaknya yang sudah mati, aku harus menyingkirkan dia " batin Bu Jeni
" Baiklah " ucap Desi dengan terpaksa ia mengiyakan perkataan Bram karena ia tidak mau Bram marah lagi padanya.
Setelah Bela keluar dari ruangan Bram ia benar-benar marah kembali pada Desi, ia meminta pada istrinya itu untuk tidak menyakiti Bela kembali, jika hal itu terjadi ia tidak akan segan-segan untuk mengusir Desi dari apartemennya dan hal itu disetujui oleh Desi meskipun dalam hati kesal dan marah.
.
.
__ADS_1
Bersambung...