Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Acara Empat Bulanan


__ADS_3

Bram masih di rumah sakit menemani Bela disana. Keadaan Bela sudah benar-benar membaik, ia juga sudah meminta pulang dari rumah sakit besok dengan terpaksa Bram harus menuruti keinginan Bela yang satu ini meskipun Bram masih khawatir dengan keadaan istri kedunya itu.


Bela kini sedang tidur pulas, sementara Bram masih mengutak-atik laptop apalagi kalau bukan mengerjakan pekerjaannya, ia sering menghabiskan pekerjaannya ketika Bela sedang tertidur seperti sekaran Meskipun kini masih sore.


" Kenapa aku ketika melihat wajah Bela tertidur pulas seperti ini rasanya damai dan tenang.. sungguh aku sangat mencintai mu Bela " batin Bram


Tak lama kemudian dering handphone Bram berbunyi, Bram segera mengangkat teleponnya di luar agar tidak menggangu Bela yang sedang tidur.


Tertera nama Mamah yang kini sedang menghubunginya, walaupun Bram sebenarnya malas mengangkat teleponnya namun ia takut terjadi sesuatu yang penting pada sang mamah. Ia pun segera mengangkat teleponnya.


" Ia mah, ada apa? " tanya Bram tanpa basa basi


" Astaga Bram kamu kenapa seperti yang malas mengangkat telepon mamah.. " ucap Bu Jeni kesal


" Ayolah mah.. ada apa mamah menghubungi ku?? Jika tidak ada sesuatu yang penting lebih baik aku tutup lagi teleponnya.. mamah menggangu saja, aku sedang bekerja " ucap Bram kesal


" Bekerja kamu bilang, hey tadi mamah menghubungi kantor kamu, kata salah satu karyawan mu, kamu sudah pulang dari tadi siang?? Kamu kemana?? Apa kamu menemui wanita itu ?? " Bu Jeni benar-benar kesal mendengar Bram siang hari menemui wanita simpanannya.


" Ia, aku sedang berada dengan wanita yang aku cintai.. memangnya kenapa?? " Jawab Bram


" Bram, kamu bilang kamu hanya akan menemui wanita itu ketika malam hari tapi kenapa kamu melanggar ucapan mu sendiri "


" Mah, ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan jadi aku harus bersama dengan wanita yang aku cintai "


" Baik, kalau begitu sekarang juga kamu pulang kerumah, ada hal penting juga yang ingin mamah sampaikan padamu "


" Kenapa tidak mengatakannya di telepon, katakan saja ada apa mah?? aku benar-benar sibuk sekarang " Tanya Bram


" Pokoknya kamu harus datang kesini "

__ADS_1


" Aku sibuk mah.. cepat katakan saja.. toh sama saja " cibir Bram


" Baiklah, mamah dan Desi mengadakan pengajian untuk acara empat bulan anak dalam kandungan mu, kami megundang anak yatim piatu juga kesini, makanya kamu harus datang kesini.. "


" Lalu apa hubungannya dengan aku " tanya Bram


" Kamu itu kan ayah dari anak dalam kandungan Desi, jadi kamu harus datang kesini dan menemani Desi.. mamah tidak mau dengar alasan apapun, pokoknya mamah minta kmu datang secepatnya kesini "


" Tapi mah.. "


" Please Bram.. demi mamah, kamu ga mau kan orang-orang membicarakan mamah karena tahu bagaimana rumah tangga kamu dan Desi, masa ia Desi harus mengadakan acara pengajian tanpa kamu sebagai suaminya " ucap Bu Jeni dengan nada sedih


" Bagaimana ini.. bagaimana dengan Bela, tapi sekarang Bela sedang tidur ada baiknya jika aku akan pergi ke rumah mamah sebentar saja demi mamah.. " batin Bram


" Bram Please.. mamah mohon padamu " ucap Bu Jeni terus membujuk putra kesayangannya itu


" Baiklah, tapi aku hanya sebentar disana.. " ucap Bram akhirnya mengalah pada sang ibu


Sedangkan Bram masuk kembali ke keruangan Bela, rasanya tak tega harus meninggalkan Bela sendirian di rumah sakit tapi ia juga tak mau sang mamah bersedih. Benar-benar dalam pilihan yang sulit namun ia melihat Bela masih tertidur pulas jadi ia tidak merasa khawatir.


" Bela, aku pergi dulu.. aku akan menemui mamah sebentar saja setelah itu aku langsung kembali lagi kesini, aku janji akan pulang cepat, kamu tunggu aku ya sayang " ucap Bram mencium kening, pipi dan bibir Bela.


Bram pun segera meninggalkan ruangan Bela, ia segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan Tinggi agar cepat sampai di rumah orang tuanya.


Tiga puluh menit kemudian ia sudah sampai di halaman rumah kedua orangtuanya, ia segera masuk kedalam rumah, ia melihat rumahnya penuh dengan dekorasi nuansa biru, bahkan kursi pun di pindahkan, lantainya sudah lapisi karpet tempat orang-orang duduk nantinya.


" Ternyata Mamah tidak bohong " ucap Bram segera mencari sosok sang mamah.


Ternyata sang mamah sedang sibuk di dapur mengecek semua makanan yang sudah di simpan di meja untuk nanti mereka makan bersama setelah berdoa, semua persiapan pun sudah di lengkap bahkan sudah di atur semua orang sang mamah.

__ADS_1


" Bram.. kamu sudah datang nak " ucap Bu Jeni sambil tersenyum


" Mah kenapa acaranya begitu besar-besaran bukankah hanya anak yatim piatu saja yang di undang " tanya Bram bingung


" Ia semua tetangga juga mamah undang, kerabat, teman-teman dan bukan hanya satu panti asuhan tapi lima panti asuhan.. "


" Mah kenapa begitu banyak orang " ucap Bram protes


" Ini semua demi cucu pertama ku, mamah harus menyambutnya dengan meriah.. sekarang kamu temui Desi di kamar, dia sedang bersiap-siap kamu juga pakai baju yang sudah mamah siapkan "


" Tapi mah.. "


" Ayolah nak jangan bikin malu mamah " ucap Bu Jeni menyuruh Bram pergi ke kamar Desi.


Mau tidak mau Bram masuk kedalam kamar Desi, terlihat beberapa orang sedang mendandani Desi, Bram duduk di ranjang tempat tidur sambil memperhatikan Desi yang sedang mengenakan Hijab.


" Mungkin Bela akan terlihat sangat cantik juga ketika ia menggunakan Hijab, aku tidak sabar ingin mengadakan syukuran empat bulanan untuk anak dalam kandungan Bela, tapi tunggu itu kan masih lama " batin Bram


" Asataga Bram maaf aku tidak menyadari kedatangan mu, aku sibuk mengenakan Hijab ini " ucap Desi sambil tersenyum


" Tidak usah pedulikan aku.. ayo lanjutkan saja, aku hanya akan diam saja disini tanpa menggangu mu " ucap Bram datar


Sedangkan Desi kesal dengan Ucapan Bram barusan, Bram tidak memujinya sama sekali membuat hatinya sakit tapi itu lah sikap Bram yang Desi sukai meskipun kadang-kadang Desi juga kesal sendiri dengan sikap Cuek Bram.


" Kenapa sih Bram kamu tidak memuji ku sama sekali, aku dandan dan mau mengenakan hijab ini juga karena kamu, tapi kamunya malah cuek begini padaku, tapi aku tidak boleh marah pada bram aku harus terus bersikap sabar pada Bram seperti yag di katakan mamah Jeni padaku " batin Desi


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2