Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Amarah Bram


__ADS_3

Bram langsung pamit pada Bela, ia segera pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal, marah dan kecewa jadi satu yang kini bersarang di hatinya. Padahal sebelum ia menikah dengan Desi ia sudah membuat kesepakatan dengan keluarganya dan keluarga Desi, jika acara pernikahan nmereka di langsungkan secara tertutup dan pihak keluarga tidak ada yang boleh memberitahukan pernikahan ini pada semua orang termasuk Sintia, karena Bram tahu jika Sintia punya penyakit jantung yang bisa kambuh jika mendengar hal yang buruk seperti ini. Dan dugaanya benar Sintia langsung masuk kerumah sakit setelah melihat rekaman Vidio Dan foto yang dikirim ibu dan Desi, hingga akhirnya Sintia tidak bisa tertolong lagi.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai menuju rumahnya. Tampak sepanjang jalan ia juga menangis, hatinya sakit setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya jika wanita yang ia sayangi secara tidak langsung di bunuh oleh ibunya dan wanita yang sekarang menjadi istrinya sendiri.


Tak lama kemudian Bram sudah sampai di rumah kedua orangtuanya, ia segera masuk kedalam dan langsung memanggil wanita yang sudah menjadi istrinya itu dengan nada tinggi dan berteriak-teriak hingga membuat semua orang yang ada di sana langsung keluar untuk melihat asal suara itu.


" Desi keluar kamu.. Desi.. " teriakan Bram membuat semua pelayan yang ada disana ketakutan melihat kemarahan yang terpancar dari raut wajah Bram


Desi yang merasa namanya di panggil segera keluar, ia tahu jika yang sedang memanggil namanya adalah suaminya sendiri, Desi keluar dengan wajah yang senang, karena sebelumnya ia memang merindukan sosok laki-laki yang sudah menjadi miliknya itu.


" Sayang... " Teriakan Desi langsung memeluk tubuh sang suami. Ia tidak tahu jika suaminya itu sedang marah padanya.


" Lepaskan aku.. " ucap bram langsung mendorong tubuh Desi hingga jatuh ke lantai.


Jeni adalah ibu Bram, ia melihat jika menantunya jatuh ke lantai akhibat ulah sang putra sangat kaget, ia langsung menghampiri menantunya itu dan menbantunya untuk berdiri lagi.


" Bram apa yang kamu lakukan pada Desi, Desi itu istrimu sendiri, kenapa kamu malah bersikap seperti itu pada istrimu sendiri.. " bentak sang mamah


" Kenapa mamah marah sama aku, toh dia yang salah " ucap Bram sambil menunjuk kearah wajah Desi


" Bram Sebenarnya kamu kenapa, apa ada ini semua ada hubungannya dengan wanita yang berpenyakitan itu " batin Desi kesal


" Apa maksud mu Bram " tanya sang mamah

__ADS_1


" Aku mau tanya sama kamu Desi, Kenapa kamu malah mengirim pesan pada Sintia dengan foto telanjang kita, kamu sengajakan membuat penyakit Sintia kambuh dan meninggal " ucap Bram marah


" Apa... aku.. Aku.. hanya ingin... Memperingati wanita itu agar memutuskan hubungan dengan mu " ucap Desi dengan nada gugup dan kaget


" Kita sudah sepakatkan sebelumnya kenapa kamu malah memberitahu Sintia, Dasar kamu pembunuh " bentak Bram


" Bram jaga mulutmu.. Desi tidak salah.. memang wanita itu harus tahu jika sekarang Desi adalah istri mu " ucap sang Mamah


" Cukup mah, aku juga tahu apa yang mamah lakukan juga pada Sintia, kita sudah sepakat sebelumnya untuk menyembunyikan masalah pernikahan ku dengan Sintia tapi kenapa mamah malah mengirimkan Vidio ijab qobul ku padanya.. apa memang mamah sengaja " ucap Bram marah


" Sial, siapa yang sudah berani memberitahukan masalah ini pada Bram, apa wanita itu sudah mengadu pada Bram " batin Jeni


" Bram dengarkan dulu penjelasan mamah!! " ucapnya mencari alasan


Desi tidak bisa menerima hal itu baru saja dia beberapa hari menjadi istri sah Bram, masa ia dia harus bercerai lagi pasti wanita itu akan merasa menang sekarang isi kepala Desi tidak mau membayangkan perceraiannya.


Bram segera menuju kamarnya lalu membereskan semua bajunya, mulai hari ini ia tidak mau tinggal bersama ibu yang sudah membuatnya kehilangan wanita yang ia cintai. Untuk saat ini Bram belum bisa memaafkan kesalahan sang ibu dengan cepat.


Dan soal pernikahan ia sudah tidak peduli lagi, toh yang menginginkan pernikahan itu adalah kedua orang tuanya bersama dengan keluarga Desi jadi nikmatilah status rumah tangga ini tanpa ada cinta di dalamnya karena Bram benar-benar marah kali ini. Bahkan ia berniat ingin segera bercerai dengan Desi.


Desi memeluk ibu mertuanya itu sambil menangis ia tidak menyangka jika reaksi Bram bisa marah secepat ini, Bram juga terlihat seram ketika ianmarah bahkan pada ibunya sekalipun, Jeni yang merasa kasihan pada menantunya itu langsung menenangkan Desi agar tidak menangis terus.


" Mah, bagaimana ini, aku tidak mau bercerai dengan Bram " ucap Desi panik

__ADS_1


" Desi sudah kamu Jangan menangis terus, kamu tidak akan bercerai dari Bram, percaya pada mamah, kita harus temukan cara agar Bram tidak marah lagi pada kita "


Bram keluar kamarnya dengan membawa koper, ia berjalan melewati mereka yang tampak kaget dengan tindakan Bram kali ini. Jeni tidak menyangka jika Bram marah bisa seperti ini, padahal sebelumnya Bram anak penurut dalam segala hal kecuali dengan Sintia, entah mengapa dia selalu menantangnya jika itu menyangkut Wanita penyakitan itu seperti sekarang.


" Bram mau kemana kamu " tanya sang mamah menahan kepergian Bram


" Sayang, jangan tinggalkan aku, aku tidak mau berpisah dari mu, aku tidak mau bercerai " rengek Desi


Dengan berat hati Bram harus pergi dari rumah ini karena ia sudah sangat kecewa dengan apa yang di alami ibunya. Ia masih belum percaya jika memang ibunya yang sudah tega membuat wanita yang ia cintai harus pergi darinya untuk selama-lamanya.


" Lepaskan tangan kotormu itu " ucap Bram membuat Desi mau tidak mau melepaskan tangannya pada tangan Bram


" Bram... Kamu tidak boleh keluar dari rumah ini " ucap sang ibu sambil menangis


Dari dulu Bram tidak pernah tega jika melihat sang ibu menangis tapi kali ini dia juga belum bisa terima jika Sintia meninggalkan dirinya karena sang ibu. Hatinya bimbang namun ketika melihat Desi di depannya amarahnya kembali membara, ia langsung mendorong tubuh Desi.


" Maafkan Bram mah, aku harus pergi, Bram butuh waktu untuk sendiri.. Bram belum bisa terima kepergian Sintia, ku harap mamah bisa terima " ucap Bram langsung pergi dari sana.


" Bram... " Panggil Desi namun tak di dengar sama sekali


Tampak Jeni kaget dengan apa yang di lakukan sang putra, ia tidak menyangka jika Bram bisa dengan tega meninggalkan dia, mereka menangis saling terluka satu sama lain, Jeni dan Desi menangis karena Bram meninggalkan mereka sedangkan Bram menangis karena ia kecewa dengan tindakan yang di lakukan sang ibu.


" Maafkan aku mah " batin Bram

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2