
Bram segera menyelesaikan pekerjaan dengan semangat ia ingin menemui Bela setelah ini, Deon yang melihat hal itu sangat senang karena ia juga akan di pastikan pulang cepat dan tidak perlu lembur seperti kemarin-kemarin.
Dua jam berlalu Bram sudah menyelesaikan pekerjaannya, setelah selesai ia segera bersiap-siap untuk pergi dari kantornya menuju rumah sakit. Tapi dugaan Deon salah ia hari ini masih harus Lembur kembali untuk menyelesaikan pekerjaan yang di lakukan Bela sebelumnya.
" Aku pulang dulu " pamit Bela pada asistennya itu
" Baik Tuan, aku juga akan bersiap-siap untuk pulang " ucapnya sambil tersenyum
" Suruh siapa kamu pulang jam segini?? " Tanya Bram
" Tapi Tuan, pekerjaan anda sudah selesai dan pekerjaan saya juga sudah selesai " serunya
" Kamu kerjakan pekerjaan Bela, aku tidak mau dia kelelahan karena mengerjakan pekerjaan itu, lagian mulai besok Bela sudah tidak magang di kantor ini lagi " ucap Bram sambil tersenyum
" Lalu apa saya harus mencarikan sekretaris baru untuk Tuan?? "
" Tidak usah, kamu saja yang jadi asisten sekaligus sekretaris saya.. " ucap Bram sambil tertawa
" Sial, kalau begitu caranya aku akan sangat sibuk dengan pekerjaan, bagaimana cara aku bisa mencari kekasih " batin Deon
" Tapi Tuan... " Protes Deon
" Kamu tenang saja saya akan menaikan gajimu.. "
" Tuan.. "
" Kamu selalu bisa di andalkan.. aku pergi " ucapnya segera menuju mobilnya
Sebelum ia pergi ke rumah sakit, ia membelikan kue kesukaan Bela, ia harus pelan-pelan memberitahukan tentang kehamilan pada Bela karena saat ini suasana hati Bela sedang buruk.
Setelah selesai membelikan kue, Bram kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit, ia tampak lebih bahagia apalagi ketika dokter memberitahukan kehamilan Bela pada dirinya.
Ketika Bram membuka pintu ruangan Bela, ia melihat Lily dan Bela di sana sedang tertidur, Bela tidur di ranjang rumah sakit sementara Lily tidur di kursi di samping Bela. Bram yang melihat hal itu segera membangunkan Lily karena merasa kasihan padanya.
" Ly bangun " ucap Bram dengan nada pelasn takut Bela bangun
" Eh Bram, maaf aku ketiduran " ucapnya kaget
" Terima kasih sudah menemani Bela, hari ini aku sibuk jadi tidak bisa menemaninya " ucap Bram sambil tersenyum
" Bisakah aku berbicara dengan mu " tanya Lily membuat Bram kaget
" Katakan saja "
" Tidak di sini Bram, aku takut Bela mendengarnya "
" Baiklah, kita bicarakan di luar " ucap Bram segera pergi dari ruangan Bela.
__ADS_1
Lily mengajak Bram untuk berbicara di taman, ia takut Bela bangun jika dia berbicara dengan Bram di depan ruangannya. Awalnya Bram bingung kenapa dengan Lily mengajaknya berbicara apa ini semua ada hubungannya dengan Bela, ia mengikuti langkah Lily yang mengajaknya duduk di taman.
Mereka duduk di kursi yang ada di taman, tampak rame dengan banyak orang di sana. Lily menatap wajah Bram dengan raut wajah sedih. Hal itu membuat Bram kaget ada apa ini sebenarnya itu pertanyaan yang ada di pikirannya Bram.
" Bram.. apa benar kamu yang sudah menghamili Bela?? " Ucap Lily sambil meneteskan air matanya
" Apa?? Dari mana Lily tahu jika Bela hamil?? Apa Bela juga sudah tahu tentang kehamilannya?? bisa gawat ini " Batin Bram
" Jawab Bram " ucap Lily
" Benar Ly, aku sudah menikah siri dengan Bela dan anak dalam kandungan Bela adalah anak ku " ucapnya tampak tenang menjelaskan pada Lily
" Apa kamu sadar kalau kamu itu sudah punya istri yaitu Desi, dia juga sedang mengandung anak mu kenapa kamu lakukan hal itu pada Bela " ucap Lily menahan amarahnya
" Aku tidak pernah mencintai Desi dan anak yang didalam kandungan Desi bukan anak ku?? " Ucap Bram
" Kamu yakin jika anak itu bukan anak mu?? bagaimana kalau anak dalam kandungan Desi memang benar anak mu " Tanya Lily tidak percaya
" Aku ga pernah minta kamu dan yang lainnya percaya dengan Ucapan ku.. itu hak kalian yang penting Bela percaya padaku " ucap Bram masih tetap tenang
" Apa kamu mencintai Bela?? " Tanya Lily kembali
" Aku sangat sangat mencintai Bela.. " ucapnya dengan tulus
" Kamu yakin?? "
" Aku tidak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintai Bela saat ini, bahkan rasa cinta ini melebihi rasa cinta untuk Sintia " ucap Bram
" Aku akan selalu membahagiakan Bela kamu tenang saja, kalau kamu mau aku bisa memperkerjakan kamu untuk menjaga Bela, aku tahu saat ini Bela sedang membutuhkan kekuatan dari orang terdekatnya salah satunya dari kamu.. "
" Aku bisa menjaga Bela tanpa di berikan bayaran apapun darimu " ucap Lily
" Bukan begitu maksud ku Ly, jangan tersinggung.. aku hanya ingin kamu fokus merawat Bela seperti dulu kamu fokus merawat Bu Mina, aku siang hari sibuk di kantor dan kamu bisa sehari penuh bersama Bela.. seperti dulu kamu lakukan pada Bu Mina " ucap Bram
" Pekerjaan ku merawat orang sakit seperti Bu Mina, tapi untuk Bela sepertinya tidak perlu " ucap Lily segera meninggalkan taman dan pulang kerumahnya tanpa pamit pada Bela
" Andai Lily mau jadi perawat Bela, aku pasti lebih tenang karena Bela akan kembali ceria seperti dulu " batin Bram
Bram kembali lagi ke ruangannya Bela, ia melihat Bela sudah bangun bahkan sednag duduk di ranjangnya dengan tatapan kosong. Ia sebenarnya alasan Bram untuk membuat Lily jadi perawat Bela.
" Sayang jangan seperti ini, aku sedih melihat mu seperti ini " ucap Bram memeluk Bela
" Kak.. apa Tuhan sedang menghukum aku karena aku Mencintai kakak, rasanya aku tidak sanggup " ucap Bela melepaskan pelukannya
" Maksud mu apa sayang?? " Ucap Bram heran
" Aku hamil kak... Hiks.. hiks.. hiks.. aku hamil.. " ucap Bela sambil menangis
__ADS_1
" Ternyata Benar Bela sudah tahu, aku harus menenangkan Bela.. " batin Bram
" Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?? Aku justru senang kamu hamil " ucap Bram
" Apa kakak sudah tahu hal ini sebelumnya ?? " Tanya Bela karena reaksi Bram tidak kaget sama sekali
" Ia aku sudah tahu sayang.. aku tidak keberatan jika kamu hamil, justru aku sangat bahagia akan kehamilan mu ini ?? " ucap Bram mengusap perut Bela
" Kenapa kakak tidak memberitahukan hal ini padaku?? Kenapa kak kenapa?? " Ucap Bela marah
" Waktunya belum tepat untuk memberitahukan kehamilan mu, kamu harus saja kehilangan ibumu aku pikir belum saatnya " ucap Bram jujur
" Maafkan aku Bu.. maafkan aku kak Sintia.. harusnya ini tidak pernah terjadi, harusnya aku tidak hamil anak Bram " batin Bela
" Aku harus segera menenangkannya agar Bela tidak pingsan lagi seperti tadi, dia sedang emosi padaku saat ini dan hal itu tidak baik untuk kandungannya " batin Bram
" Sayang, aku bawakan kue kesukaan mu.. lihat ini.. aku membelinya di toko langganan mu " ucap Bram mengalihkan pembicaraan
" Kak.. aku mau menggugurkan kandungan ku saja " ucap Bela sambil meneteskan air matanya
" Astaga sayang, apa yang kamu katakan?? kamu harus sadar?? kamu tidak boleh berbicara seperti itu apalagi melakukan itu??, anak ini darah daging kita?? Apa salahnya ?? aku tidak setuju... " Ucap Bram menahan emosinya lalu memeluk Bela kembali
" Kak, semua orang akan membenci ku.. ayah ku juga tidak akan merestui hubungan kita?? Sebaiknya kita akhiri saja " ucap Bela sambil menangis
" Tidak aku tidak akan pernah menceraikan mu, jangan harap kamu bisa pergi dariku Bela, kamu satu-satunya wanita milik ku.. " ucap Bram memeluk erat Bela
" Jangan harap kamu bisa pergi dari hidupku Bela, sampai kapanpun kamu tetap milik ku " batin Bram
" Tapi kak.. "
" Teruslah seperti ini Bram?? Aku hanya mengetesmu saja kali ini?? Tapi Sepertinya kehamilan ku ada untungnya juga?? Aku harus menyingkirkan Desi secepatnya " batin Bela
" Sayang... " Ucapnya terpotong karena teriakan Bela
" Aw... " Ucap Bela menahan rasa sakitnya
" Kamu kenapa sayang?? " Ucap Bram panik
" Perut ku sakit kak, aw sakit sekali " ucap Bela meringis kesakitan
Bram segera memencet tombol emergency, dokter dan suster segera datang keruangan Bela untuk memeriksa keadaan Bela. Bram di minta untuk pergi dari ruangan Bela karena dokter ingin memeriksa keadaan Bela saat ini.
" Tuhan Lindungi Bela dan anak kami, Semoga Bela dan anak dalam kandungan ku baik-baik saja " batin Bram
Terlihat wajah Bram panik apalagi ketika Bela memegang perutnya sambil berkata sakit, rasanya ia tidak mau kehilangan anak dalam kandungan Bela, ia berharap jika Bela akan baik-baik saja.
.
__ADS_1
.
Bersambung...