Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Kondisi Desi


__ADS_3

Mereka sudah ada di ruang keamanan rumah sakit, Bram dan Candra duduk berdampingan, sementara Bela dan Desi ada di belakang mereka.


" Apa kalian tahu kalau ini tempat apa?? " Tanya security


" Tahu pa " seru mereka


" Kalau tahu kenapa kalian berkelahi, kalian menggangu kenyaman pasien.. Rumah sakit itu tempat orang sakit kenapa kalian malah membuat keributan " ucapnya dengan nada marah


" Maafkan Saya pa, tapi dia duluan yang mulai " ucap Bram dengan nada sinis menunjuk Candra yang memulai pertengkaran


" Tapi dia juga mukul saya pa?? " Ucap Candra yang tak terima jika dirinya di salahkan


" Cukup.. kalian berdua salah.. jangan membela diri " ucap salah satu security yang sudah kesal karena Mereka saling mengalahkan


" Maafkan kami pa.. " ucap Bram dan Candra


" Kalau begitu kalian tulis perjanjian damai, kalau tidak say akan bawa kasus ini ke kantor polisi " ucapnya


Dengan terpaksa Candra dan Bram menandatangani surat damai itu, mereka juga dengan terpaksa bersalaman di depan Security tersebut agar masalahnya cepat selesai.


Bram menatap wajah Bela, ia segera memegang tangan bela dan ingin membawanya pergi dari sana namun Desi menghentikan langkah Bram.


" Kita sebaiknya bicara bersama tentang masalah hubungan mu dengan Bela.. aku ingin mendengar penjelasan dari kalian " ucap Desi


Candra yang mendengar ucapan Desi langsung menolak, ia tidak mau jika Bela nantinya akan kecewa oleh sikap Bram yang pasti memeilih Desi di bandingkan Bela, ia juga tidak mau melihat Bela sakit hati dengan hinaan yang pasti akan Desi lontarkan pada Bela nanti.


" Tidak, Bela harus pulang bersama ku, kalian urus saja urusan rumah tangga kalian jangan bawa-bawa Bela " ucap Candra langsung membawa Bela pergi dari sana.

__ADS_1


Bram hendak mengejar Bela namun langkahnya terhenti ketika Desi memegang perutnya dan pura-pura sakit,


" Ada apa dengan mu?? " Tanya Bram panik


" Perutku sakit... " Ucapnya pura-pura kesakitan


" Kenapa dengan perutmu?? " ucap Bram panik


" Perutku sakit " ucapnya masih memainkan drama agar Bram tidak meninggalkannya dan mengejar Bela


" Kalau begitu kita langsung saja periksa ke dokter.. aku takut terjadi sesuatu padamu "


" Tapi... Tapi.. " ucapnya terpotong karena Bram langsung menggendong tubuh Desi.


Bela melihat hal itu merasa kecewa karena ia melihat wajah Desi tersenyum padanya menandakan jika dia menang mendapatkan hati Bram.


" Apa kamu tidak apa-apa? " Tanya Candra melihat ekspresi Bela yang sedih


" Kalau begitu kita beli ice krim kesukaan mu ya.. hari ini aku yang traktir " ucap Candra sambil tersenyum


Bela segera meninggalkan rumah sakit dengan perasaan kesal dan kecewa sedangkan kini Desi masuk ke ruang UGD untuk di periksa kandungannya.


Awalnya Desi menolak tapi Bram terus memaksa hingga akhirnya Desi menuruti keinginan Bram, ia takut kebohongannya terbongkar.


Desi langsung di periksa oleh dokter kandungan namun bukan dokter Imel karena dokter Imel sedang cuti dua hari. Dokter kandungan itu langsung memerintahkan pada para suster untuk menyiapkan ruang operasi.


Desi yang mendengar hal itu benar-benar kaget, apalagi dokter bilang operasinya harus segera di lakukan, padahal tadi dia hanya pura-pura kesakitan.

__ADS_1


" Dok ada apa dengan kandungan saya?? " Tanya Desi panik


" Air ketuban dalam kandungan Nona sudah sangat menipis, hal itu membuat Nona harus melakukan operasi sesar secepatnya untuk mengeluarkan bayi dalam kandungan Nona, saya takut jika hal itu di biarkan Bayi dalam kandungan Nona tidak akan selamat "


" Tidak dok, jangan bercanda, saya tidak kenapa-kenapa barusan saya hanya berbohong pada suami saya kalau perut saya sakit.. tapi saya tidak merasakan sakit apapun "


" Maaf Nona dari hasil pemeriksaan USG menunjukkan jika saat ini bayi dalam kandungan Nona dalam bahaya, kami harap Nona lebih memikirkan bayi dalam kandungan Nona " ucap sang dokter langsung keluar untuk menyampaikan hasil pemeriksaan pada Bram selaku suami Desi.


Ketika Dokter memberitahu kondisi bayi dalam kandungan Desi, Bram sangat kaget ia benar-benar tidak menyangka jika saat ini bayinya sedang dalam bahaya.


" Dok tolong selamatkan anak dalam kandungan Desi.. saya mohon " ucapnya dengan wajah sedih


" Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan Nona Desi namun sebelum itu Tuan harus membujuk Nona Desi untuk mau melakukan operasi sesar secepatnya.. "


" Baik dok, saya akan membujuk Desi agar mau di operasi.. kalau begitu boleh saya masuk kedalam "


" Silahkan Tuan "


Bram segera masuk kedalam ruangan Desi, ia melihat Desi sedang menangis tersedu-sedu, ia segera menghampiri Desi dan mencoba untuk menenangkannya.


Desi yang melihat kedatangan Bram langsu memeluknya, ia merasa sedih saat ini, ia tidak mau kehilangan bayinya.


" Kamu jangan menangis, kamu harus kuat demi bayi dalam kandungan mu.. kamu harus mau di operasi " bujuk Bram


" Aku takut... " Ucap Desi masih menangis


" Jangan takut ada aku di sini yang akan menemanimu.. "

__ADS_1


Desi sekarang mulai tenang, Bram tak henti-hentinya untuk membujuk Desi agar mau melakukan operasi sesar mengingat Bram juga tidak mau ambil resiko untuk keselamatan bayi dalam kandungan Desi.


Bersambung...


__ADS_2