
Hari ini Bela meminta Candra untuk menemani sang ibu di rumah sakit karena ia akan pulang telat dengan alasan lembur karena ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan dan harus segera di selesaikan.
Untungnya Candra mempercayai perkataannya dan bersedia menemani ibunya di rumah sakit, ia sekarang sudah tidak membenci Candra karena ia sadar jika Candra tidak seperti yang ia bayangkan selama ini, hubungannya dengan Candra sekarang menjadi baik.
Bela berbohong pada Candra, ia bukan lembur di kantor melainkan dia pergi ke sebuah Butik untuk mengganti bajunya dengan baju kebaya yang akan ia kenakan saat nanti menikah siri dengan Bram. tak lupa juga ia sudah di dandani oleh make up profesional yang sudah di siapkan oleh Bram untuk mendandaninya.
" Apa keputusan aku benar.. tapi aku tidak bisa mundur lagi karena ini sudah menjadi pilihan ku dari awal?? Bu, ayah dan kak Sintia.. maafkan Bela " batinnya
" Nona kamu cantik sekali apalagi jika anda sedang tersenyum, saya tahu kalau anda sedang gugup sekarang tapi anda harus banyak tersenyum agar aura kecantikan mu terpancar "
" Baiklah terima kasih sarannya " ucap Bela menghela nafas panjangnya
Bagaimana ia bisa bahagia sekarang tanpa ada kedua orangtuanya ia harus menikah dengan laki-laki yang ia tidak cintai, jangankan Cinta dan bahagia yang ia rasakan saat ini hanya ada kebencian saja di hatinya.
Ingin rasanya ia pergi kabur sekarang juga meninggalkan semua ini, tapi Dia tidak bisa melakukan itu karena rencananya akan gagal semua, pengorbanan dia selama ini juga akan hancur seketika hanya karena rasa keegoisan di hatinya.
" Kak.. sebentar lagi aku akan menghancurkan kehidupan orang-orang yang sudah menyakiti Kakak.. aku janji kak.. tapi maafkan aku jika aku harus mengambil keputusan ini, aku tidak punya pilihan lain kak... aku tidak mungkin merebut Bram dari kakak.. " batin Bela
Biar bagaimanapun hatinya sedang bersalah pada sang kakak karena ia harus menikah dengan Bram laki-laki yang sangat di cintai sang kakak, awalnya ia memang menolak saat Bram mengatakan ingin bertanggung jawab padanya dengan cara menikah dengannya tapi ia berpikir kembali mungkin menikah dengan Bram adalah satu-satunya cara agar rencananya bisa berhasil sepenuhnya karena Desi pasti hidupnya akan hancur jika sampai tahu pernikahannya dengan Bram, seperti dulu yang di rasakan Sintia saat tahu Bram menikahi Desi.
" Lihat Desi ini awal yang aku lakukan saat merebut Bram dari tangan mu, setelah ini aku akan buat hati mu tidak tenang karena suami mu lebih mementingkan istri mudanya di bandingkan kamu walaupun kamu sedang mengandung anak Bram " batin Bela
Setelah Bela selesai dengan semuanya, Bram langsung menghampirinya sambil tersenyum. Bram memakai jas putih senada dengan warna kebaya yang di gunakan Bela.
" Bela.. kamu cantik sekali " ucap Bram sambil tersenyum senang
__ADS_1
" Terima kasih, kakak juga tampan sekali "
Mendengar jika bela memuji dirinya Bram langsung tersenyum senang entah mengapa hanya dengan pujian seperti itu membuat Bram bahagia padahal Bela hanya membalas pujian yang di berikan Bram dengan cara ia memuji kembali calon suaminya itu.
" Terima kasih Bel.. ayo kita berangkat " ajak Bram langsung menggandeng tangan Bela
Mereka segera menuju mobil milik Bram, mereka pergi dari sana menuju apartemen yang tampak asing bagi Bela sendiri. disana mereka sudah tampak menunggu padahal ini baru Jam tujuh malam.
" Kak Bram ini apartemen siapa?? " Tanya Bela bingung karena apartemen itu tidak jauh dari rumah sakit dimana sang ibu di rawat
" Nanti juga kamu akan tahu " ucap Bram
" Apa ini apartemen Bram?? ternyata dia punya beberapa apartemen " batin Bela
Bram duduk di samping Bram dengan menghadap pak penghulu yang akan menikahkan mereka. Bela bahkan menyerahkan hak wali nikahnya pada pak penghulu, bisa-bisa ayahnya akan marah besar jika dia menikah dengan Bram.
" Bagaimana sudah siap?? " tanya penghulu bertanya pada Bela dan Bram
" Siap Pa!! " ucap mereka
Bram dengan lantang mengucapkan ijab Kabul pada sang penghulu dengan mahar yang mewah, berupa satu buah apartemen, satu set perhiasan berlian dan satu mobil mewah yang ia berikan pada Bela membuat Bela benar-benar kaget.
" Bagaimana Para saksi "
" Sah " ucap mereka kompak tapi tidak dengan Deon, ia tampak sedih bahkan meneteskan air matanya saat semua orang mengatakan kata sah.
__ADS_1
Bela mencium tangan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu, sedangkan Bram langsung mencium kening Bela di depan banyak orang membuat yang menyaksikan tersenyum karena Bram begitu bahagia dengan pernikahannya terlihat dari raut wajahnya.
Para tamu di suguhkan makanan yang sudah di siapkan Bram sebelumnya, meskipun sederhana namun makanan dan dekorasi rumahnya cantik dan banyak di hiasi bunga-bunga segar menambah indah tempat itu.
" Bela kamu ingin makan sesuatu, biar aku bawakan?? " Tanya Bram
" Tidak, sebaiknya Kakak mengobrol dulu dengan teman-teman kakak.. aku ingin menikmati udara di balkon ini " ucap Bela sambil tersenyum
" Baiklah, tapi jangan terlalu lama nanti kamu masuk angin "
" Ia.. kal.. "
" Kalau begitu aku ke sana dulu ya.. tunggu aku di kamar " ucap Bram mencium kening bela
Bram langsung meninggalkan Bela sendiri sedangkan dirinya tampak mengobrol dengan teman-teman dekatnya, ia tidak mengecewakan teman-temannya yang sedari tadi terus memanggil namanya terus.
Bela menikmati angin malam yang segar, di bawah sinar bulan ia duduk disana melihat pemandangan bintang-bintang yang indah di langit. Kenapa saat ini rasanya ia tidak bahagia sama sekali, ia merasa pernikahan ini kurang lengkap apalagi tidak ada keluarganya disisinya tapi ini adalah keputusan yang ia pilih saat ini.
" Bu.. ayah.. Kak Sintia.. rasanya aku merindukan kalian saat ini, Bela tidak tahu apa keputusan Bela saat ini benar atau salah, tapi yang harus kalian tahu, Bela sayang pada kalian apalagi sama Kak Sintia.. kakak tenang saja setelah dendam ini berhasil aku akan segera berpisah dengan Bram " batin Bela.
.
.
Bersambung...
__ADS_1