Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Keadaan Desi


__ADS_3

Flash back,,


Desi terbangun dari tidurnya karena merasa haus, awalnya ia ingin mengambil gelas yang berada di samping ranjangnya namun tidak bisa ia raih karena tubuhnya masih terasa lemas.


Ia ingin meminta bantuan suaminya tapi ia tidak mau menggangu tidur Bram tapi dia juga sangat kehausan, jika ia membangunkan Bram dengan suaranya apa dia akan bangun?? lalu ia berpikir bagaimana jika dia telepon saja Bram, siapa tahu jika ia menelepon Bram dia akan bangun dan segera menghampirinya.


Ia meraih handphone lalu memencet nomor telepon Bram sambil melihat kearah sofa yang tampak seperti seorang yang sedang tidur ditutupi oleh selimut.


Sambil tersenyum ia terus melihat sosok yang ada di sofa yang ia kira suaminya tapi harapan itu sirna tiba-tiba saat handphone Bram di angkat, bukan Bram yang mengangkat teleponnya ternyata seorang wanita, Desi benar-benar kaget dengan sosok wanita yang mengangkat telepon Bram. Hatinya sakit dan terbakar cemburu bagaimana tidak ia mengira suaminya ada di depan ranjang tempat tidurnya tapi kenyataannya dia sedang bersama dengan seorang wanita yang tidak ia kenal.


Desi menahan rasa sakit dan tangisnya ketika ia berbicara dengan wanita yang kini sedang bersama dengan Bram. Rasanya seperti mimpi Bram bisa melakukan hal seperti ini padanya apalagi ia menduga jika Bram bersama dengan wanita itu semalaman.


Banyak pernyataan yang kini ada di hati dan pikirannya, tentang siapa wanita itu? sejak kapan mereka bersama?? kenapa bisa dia tidak tahu tentang wanita itu?? Sedang apa wanita itu dengan Bram semalaman? Apa wanita itu punya hubungan dengan Bram? Mereka melakukan apa saja dari tadi. Rasanya otak Desi ingin pecah saat ini.


Desi terus menanyakan tentang siapa nama wanita yang berani mengangkat teleponnya suaminya itu tapi wanita itu tidak menyebutkan namanya membuat dia semakin penasaran.


Dia terus mencoba menanyakan keberadaan Bram?? Dan bagaimana wanita itu bisa mengangkat teleponnya Bram, namun wanita itu hanya mengatakan jika Bram sedang tidur karena semalam dia kecapean, semakin membuat Desi sakit hati dan curiga apa benar dengan ucapan wanita itu, apa yang mereka lakukan hingga Bram Kecapean. Kenapa Bram tega padanya disaat ia sedang mengandung sungguh hatinya bagaikan di sayat sayat.


Mungkinkah mereka melakukan sesuatu yang tak seharusnya di lakukan, ada apa dengan Bram kenapa dia bisa setega itu padanya, kurang apa dia selama ini, dia sudah banyak bersabar menghadapi sikap Bram yang kasar dan cuek selama ini tapi apa balasan Bram padanya kini.


Dengan rasa penasarannya Desi terus menanyakan nama wanita itu tapi lagi-lagi dia tidak mengatakan siapa dia sebenarnya, dia memancing kemarahan Desi karena mengatakan jika wanita itu adalah seseorang yang di cintai Bram, rasanya ingin dia cakar muka wanita itu jika ada di depannya tapi sayang mereka sedang menelepon bukan saling berhadapan.


Tanpa sadar Desi menyebut wanita itu sebagai wanita murahan dan perebut suami orang, karena memang Desi adalah istri Bram. Desi tidak tahu saja kalau Bram sudah menikah dengan wanita lain, jika dia tahu bisa mengamuk di buatnya.

__ADS_1


Tapi wanita itu justru tak kalah marah ketika di sebut wanita murahan, bahkan mengancam Desi membuat Desi semakin marah di buatnya.


Desi tidak takut dengan ancaman wanita itu, malah Desi menantang wanita itu untuk menghadapinya tapi wanita itu malah ingin mengadukan hal itu pada Bram dan berani bertaruh jika dia lah yang akan di pilih Bram.


Desi masih kesal dan marah tapi wanita itu malah menutup teleponnya membuat Desi lebih marah, ia langsung melaporkan hal itu pada ibu mertuanya, berharap jika ibu mertuanya akan mendukungnya dan memisahkan wanita itu dengan Bram.


" Mamah.. " Ucap Desi sambil menangis menelepon ibu mertuanya


" Ada apa Desi, kenapa pagi-pagi buta ini kamu menelepon mamah sambil menangis " tanya mertuanya kesal


" Bram mah... Dia tidak ada di rumah sakit malah sedang bersenang-senang dengan wanita lain " ucap Desi semakin menangis


" Jangan bercanda kamu?? Mamah tidak percaya jika Bram anak ku seperti itu " ucap Bu Jeni kaget


" Sumpah mah, kalau mamah ga percaya mamah bisa hubungi Bram.. " ucap Desi


" Terima kasih mah.. aw... " Ucap Desi merasa perutnya sakit kembali


" Ada apa dengan mu Desi?? " tanya Bu Jeni panik


" Perutku sakit lagi mah.. tolong aku mah " ucap Desi menangis kencang


" Kamu tenang, mamah akan segera pergi ke rumah sakit sekarang juga " ucap Bu Jeni panik

__ADS_1


" Baiklah mah.. " ucap Desi mencoba lebih tenang dan menahan emosinya bagaimana pun ibu hamil tidak boleh stres


Desi menutup teleponnya, ia memencet tombol emergency, lalu para suster segera menghampirinya dan menanyakan keadaannya.


" Sus, tolong saya " ucap Desi menahan rasa sakitnya


" Apa yang nona rasakan?? "


" Perut saya sakit lagi.. tolong selamatkan anak saya suster, saya tidak mau terjadi sesuatu pada anak saya " ucap Desi


" Baik Nona harus tenang dulu, sebentar lagi dokter akan segera datang dan memeriksa keadaan nona.. sebaiknya nona tarik nafas lalu keluarkan pelan-pelan, nona harus lebih relaks "


" Nona jangan banyak menangis, itu bisa mempengaruhi kesehatan bayi dalam kandungan Nona " ucap Suster yang bingung di suruh relaks malah menangis


" Jangan sampai terjadi sesuatu pada anak ini sus " ucapnya masih menangis


Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Desi saat ini, keadaan dalam kandungannya lemah membuat Desi begitu khawatir dengan keadaannya sendiri.


" Kamu harus terus hidup nak.. apapun yang terjadi pokonya kamu jangan tinggalkan mamah.. kita harus membuat ayahmu menyayangimu.. ibu mohon nak " batin Desi


Dokter segera memeriksa keadaan Desi, ia juga menyuruh Desi jangan panik dan menghentikan tangisnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2