
Bram kini sudah sampai di rumah sakit, ia menuju ruang UGD dimana Desi masih berada disana. Ia melihat sosok sang mamah masih berdiri di depan ruangan itu dengan wajah yang panik dengan keadaan Desi. Bram dan Deon segera menghampirinya.
" Mah.. " panggil Bram membuat sang mamah langsung memeluk putranya itu
" Bram... Desi masih di tangani Dokter, mamah takut Bram... "
" Mamah jangan khawatir Desi akan baik-baik saja " ucap Bram
" Kenapa kamu tega meninggalkan istrimu sendirian di apartemen sih " ucap sang mamah dengan nada marah melepaskan pelukannya
" Aku malas lama-lama di apartemen, Desi selalu mengajak aku ribut mah.. aku lama-lama tidak tahan dengan sikap dia mah " jawabnya dengan nada kesal
" Bram, kamu harus lebih mengerti dengan perubahan sikap ibu hamil.. mungkin Desi ingin lebih di perhatikan oleh mu, mau di manja.. kamu yang harusnya lebih mengalah padanya.. "
" Malas banget aku harus memanjakan Desi, dia sumber kesialan aku selama ini.. harusnya dia di singkirkan saja " batin Bram
" Tapi mah.. "
" kamu harus ingat Bram, dulu juga mamah pernah mengalami hal seperti Desi, mengandung kamu selama sembilan bulan, mamah mohon agar kamu bisa memperlakukan Desi dengan lebih baik dan lebih sabar.. " ucap Bu Jeni dengan wajah sedih
Hal yang seperti ini yang selalu membuat Bram sedih ketika sang ibu merasa sedih, walaupun berat ia akan berusaha menuruti ucapan sang ibu " Akan aku coba mah.. " ucap Bram cuek
" Bram kamu harus ingat Desi sedang mengandung anakmu.. cucu mamah.. kamu harus lebih sabar pada Desi ya nak.. "
" Mah, belum tentu kan anak itu anak aku.. " ucap Bram dengan nada kesal
" Jaga ucapanmu Bram, dia istrimu tidak seharusnya kamu bicara seperti itu.. Mamah yakin kalau anak dalam kandungan Desi adalah anak mu dan cucu mamah, anak itu darah danging mu... " ucap sang mamah dengan wajah marah
" Terserah mamah saja.. aku cape menjelaskan sesuatu yang tidak mamah mengerti... " Ucap Bram sinis
__ADS_1
" Harus bagaimana lagi untuk menyakinkan Bram agar dia mau mengakui anak dalam kandungan Desi adalah anaknya.. padahal harusnya mereka bahagia karena sudah tidak ada penghalang lagi di antara mereka.. Sintia kan sudah mati " batin Bu Jeni
" Aku hanya akan menganggap anak dalam kandungan Bela saja yang anak ku, jika Bela benar-benar hamil aku akan sangat bahagia. Aku harus membuat Bela secepatnya hamil anak ku agar Desi benar-benar pergi dari kehidupan ku " batin Bram
Tak lama kemudian sang dokter keluar dari ruang UGD dan segera menghampiri Bram dan sang ibu yang sedari tadi berada di sana.
" Apa anda keluarganya Nona Desi " tanya snag dokter menatap wajah Bu Jeni dan Bram
" Betul dok, saya mertuanya dan ini suaminya Desi, bagaimana keadaan menantu saya " ucao Bu Jeni menjelaskan pada Dokter
" Baik Tuan dan nyonya saya akan menjelaskan kondisi nona Desi, sekarang kondisinya Nona Desi sangat lemah terutama anak dalam kandungannya, ia benar-benar harus beristirahat total tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang berat untuk sementara waktu "
" Sampai kapan?? " Tanya Bram membuat sang ibu marah
" Bram... " Bentak sang ibu
" Maksud ku sampai kapan dia akan berada di rumah sakit ini mah.. " ucap Bram kesal dengan sika sang ibu
" Sungguh merepotkan " cibir Bram
" Bram... " ucap sang mamah kesal dengan ucapan Bram
" Baik dok, terima kasih informasinya lalu bolehkah saya dan putra saya masuk dan menemui Desi?? " ucap Bu Jeni sambil tersenyum
" Silahkan Nyonya, tapi Saya sarankan untuk lebih membuat Nona Desi bahagia, buat hatinya senang karena itu juga akan berpengaruh besar pada anak yang di kandungnya "
" Baik Dok.. terima kasih sarannya "
Sang dokter langsung pamit dari hadapan Bram dan Bu Jeni. Sedangkan bu Jeni tampak tidak suka dengan ucapan Bram yang tidak peduli dengan keadaan Desi.
__ADS_1
" Kamu dengar kan Bram.. Desi kondisinya Lemah Kamu harus merawat dia di rumah sakit ini, mamah tidak mau tahu.. kamu temani Desi " titah sang mamah
" Mah aku sibuk.. pekerjaan ku banyak di kantor " ucap Bram
" Baik, siang hari mamah yang akan menjaga Desi sedangkan untuk malam hari kamu yang harus menjaga Desi.. awas saja kamu sampai lari dari tanggung jawab mu menjaga Desi "
" Terserah mamah saja, kalau begitu aku pamit mau ke kantor " ucap Bram sekali lagi membuat sang mamah marah dan langsung menariknya ke dalam ruangan Desi
" Mah apa-apaan sih.. " ucap Bram kesal
" Deon kamu saja yang lanjutkan pekerjaan mu.. karena Bram akan menemani istrinya di sini " ucap Bu Jeni membuat Deon segera pamit dan pergi ke kantor sesuai perintah Bu Jeni.
" Mah... "
" Ayo ikut mamah " ucapnya langsung masuk kedalam ruangan Desi
" Tapi mah.. "
" Cepat.. "
" Kalau begitu Saya pamit Tuan Bram " ucap Deon sambil tersenyum melangkah pergi dari sana
" Kenapa perasaan ku jadi tak enak hati, awas saja kalau Deon berani mendekati Bela.. akan ku balas kamu Deon " batin Bram
" Memang seharusnya kamu dengan Desi Bram.. dan aku akan bebas mendekati Bela.. aku masih belum rela jika Bela bersama dengan mu.. " batin Deon
.
.
__ADS_1
Bersambung